Home » Posts filed under Esek-esek
Tina Si Gadis Bandung
Kenikmatan Dan Keindahan
Aku adalah seorang pria single fighter, sebenarnya statusku saat ini adalah seorang duda. Aku mengaku seorang pria single fighter dikarenakan aku sekarang sudah tidak beristri lagi. Aku dahulu seorang suami yang sangat bahagia karena aku mempunyai seorang istri yang cantik dan begitu sayang kepadaku. Di istanaku saat itu tinggal aku, istriku, ibu mertuaku dan seorang pembantu perempuan. Sebelum aku menceritakan kisah dilema mahligai rumah tanggaku, aku ingin menceritakan tentang pengalamanku dengan sekretarisku. Sebut saja namaku Hendi, usiaku saat ini baru menginjak 28 tahun. Profesiku Presiden Direktur, tentu saja di perusahaanku sendiri. Aku tinggal di perumahan Kelapa Gading.
Pada suatu ketika perusahaanku mengadakan acara liburan untuk karyawan, acara ini selalu rutin dilakukan untuk menambah gairah kerja para karyawanku. Karena aku boss di perusahaan tersebut aku harus ikut, sedangkan istriku pada saat itu sedang ada halangan katanya sih ada urusan keluarga. Jadi aku memutuskan untuk pergi sendiri.
Aku mempunyai sekretaris Sari namanya, aku merasa bahwa aku harus memilikinya. Kalau di kantor dia selalu mencoba bertingkah genit dari kerling matanya itu atau dari caranya berpakaian, dari situ aku tahu kalau dia suka padaku. Seperti biasanya aku pulang memang agak sore, Sari sudah gelisah ingin pamit pulang tapi aku masih saja berkutat dengan laporanku.
“Sari kalo udah mau pulang duluan aja, nggak pa-pa kok, sekarang udah jam 5 lewat 20, entar ketinggalan kereta lho lagian udah mendung kalo hujan kan entar kebasahan”, kataku sambil tersenyum.
“Iya Pak”, sambil berkemas dan secara tidak sengaja pulpennya jatuh dan dia memungutnya, otomatis dari posisi duduk dia berputar, roknya tersingkap dan secara tidak sengaja aku melihatnya, wah memang benar terawat sampai ke ujung pahanya begitu pula dengan dengan segitiganya yang berwarna putih. Sambil memungut pulpen dia nunduk dan serta merta dia menutup bajunya yang otomatis terlihat kalau nunduk.
“Sar, lain kali pake bajunya yang ketutup aja biar nggak repot”, kataku.
“Nggak enak Pak, saya justru nggak seneng pake baju yang kerahnya terlalu tertutup”, katanya sambil tersenyum, karena dia tahu maksudku ngomong seperti itu. Tak lama kemudian Sari pergi, dan aku terus bekerja.
Sari memang betul-betul merupakan wanita ideal di benakku. Ia bertubuh tinggi, dengan pinggul yang indah dan pantat menjungkit seperti penari Bali. Aku ingat pengalaman pertama bercinta dengannya. Dan kesempatan pun tiba pada acara tahunan tersebut, saat acara sudah hampir selesai, kuajak Sari keluar dari ruangan itu.
“Sar, temenin Bapak keluar jalan-jalan yuk?” Ajakku.
“Iya Pak, Sari juga sudah sumpek di sini sejak tadi sore”, jawab Sari.
Kita pun keluar dengan mobilku, tak terasa sudah jam 1.00 malam. Kita pun kembali ke Villa perusahaan.
Setelah sampai, aku memberanikan diri menggandeng seketarisku yang genit itu, kita menyusuri lorong kamar-kamar karyawan. Dan akhirnya tiba di depan pintu kamar Sari.
“Pak, malam ini mau nggak bapak nemanin saya.. soalnya Sari takut kalau tidur sendirian”, kata Sari.
“Tapi kamu kan bisa minta ditemanin sama karyawan cewek yang lain”, jawabku, tapi dalam hatiku berharap agar Sari memaksaku untuk menemaninya malam ini, yang sebenarnya sangat kuharap-harapkan.
“Mana ada yang mau Pak? Orang sudah pada tidur semua, lagipula mereka kan sudah ada yang menemani malam ini”, desak Sari.
Memang sih pada acara tahunan kali ini karyawan perempuan yang masih single dan ikut ke acara tersebut hanya Sari, sedangkan karyawan yang lain sudah membawa pasangannya sendiri-sendiri.
“Tapi nanti jam 7.00 pagi kamu bangunin Bapak yah. Soalnya kalau ketahuan karyawan yang lain kan nggak enak kita, apalagi bapak kan atasan mereka”, jawabku.
Akupun masuk mengikuti Sari, tapi sebelumnya aku minta izin pada Sari untuk ganti baju tidur dulu di kamarku. Pertama kali sangat canggung dan hanya berbincang-bincang saja di kamar. Ketika tiba saat untuk tidur, aku bermaksud tidur di sofa. Aku merasa harus menghargainya, toh kami belum menikah. Namun ia menarikku ke tempat tidur.
“Kita tidur pelukan boleh kan Pak, asal nggak lebih dari itu”, katanya manja.
Aku menuruti kemauannya dengan kikuk. Beberapa menit kami berbaring diam dalam satu selimut. Sari hanya mengenakan t-shirt tipis dan kain sarung, begitu juga aku. Saat kulit kami bersentuhan, jantungku berdesir. Tanpa terasa pipi kami saling menempel. Udara dingin membuat ia mengetatkan pelukannya dan akhirnya bibir kami saling berpagut. Awalnya sangat canggung, namun tak lama gerakan kami menjadi lebih luwes dan lidah kami pun saling bergulung. Ciuman yang ketat membuatku kehilangan kendali, lalu tanganku menjadi liar meraba ke payudaranya. Nafas Sari pun semakin memburu.
Lalu aku berusaha melucuti t-shirtnya. Sari tidak menolak, bahkan tangannya juga berusaha melucuti bajuku. Dengan satu sentakan kutarik BH-nya sehingga kulihat tubuhnya yang indah itu hanya berbalut celana dalam tipis. Aku menikmati beberapa saat pemandangan itu, Sari yang berbaring telentang, dengan pandangan mata yang sulit kulupakan. Lalu kucium lagi bibirnya perlahan. Sari mengerang perlahan, “Ooohhh..”, bibirnya setengah terbuka dan basah sangat membuatku terangsang. Lalu tanganku mulai bermain di payudaranya, membuat ia makin menggelinjang. Ketika tanganku kuturunkan hingga mencapai gundukan kewanitaannya dan bibirku meluncur mengulum puting susunya, tiba-tiba ia mendorongku dengan keras. Lalu tangannya bergerak cepat menarik celanaku sambil berdesah, “Pak, buka celananya..” Dengan satu gerakan aku melepas celana dalam, dan ia melakukan hal yang sama. Kini dapat kulihat tubuh indah itu tanpa penghalang apapun.
Sari menarikku ke dalam pelukannya dan kami kembali bercumbu dengan hangatnya. Aku menyisir seluruh tubuhnya dengan bibirku. Mulai dari ubun-ubunnya, turun ke bibirnya, lalu ke lehernya yang jenjang. Sari berbaring telentang dengan kedua pahanya yang putih dibuka lebar, sementara aku menindih dan mengulum bibir dan lehernya, batang kemaluanku yang telah keras dan liang senggamanya yang terasa basah tanpa sengaja bersentuhan. Betapa nikmatnya. Lalu aku mulai menyisir ke payudaranya dan mulai mengulum puting payudaranya yang mengeras. Aku jilati puting susunya dan melingkari areolanya, membuat Sari menggelinjang dengan hebat sambil merintih keras, “Aduh.. nikmat.. Pak.. teruss.. ooohh..” Karena posisiku agak merendah ke bawah maka aku dapat merasakan kehangatan liang kewanitaannya yang basah di perutku.
Sari terus merintih sambil sesekali pahanya yang jenjang menghentak naik turun di atas pinggangku, sementara pelukannya semakin erat. Lalu ia menarik tubuhku ke atas hingga bibir kami kembali berpagut. Sambil tersengal ia mendesah dengan penuh birahi, “Pak, Sari pingin disentuh dengan punya bapak..” Aku mengerti yang ia inginkan. Aku lalu mulai menggesek-gesekkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya. Liang senggamanya terasa makin membanjir dan terbuka. Aku terus menggesek dan menyibak labia mayoranya dan merasakan klitorisnya yang semakin membengkak. Sari menggoyangkan pinggulnya dengan kencang sambil merintih, “Teruus.. Pak.. nik.. matt…, ooohhh..” Tangannya memeluk kencang di bahuku dan kukunya membenam di kulitku hingga membuatku sedikit perih. Namun rasa perih itu terkalahkan oleh buaian kenikmatan yang luar biasa. Gerakan itu semakin kencang dan aku sudah tidak tahan untuk segera memasuki tubuhnya.
Aku berhenti menggesek klitorisnya dan mulai mencari jalan untuk memasuki lubang kemaluannya yang sudah banjir oleh cairan kewanitaannya. Aku menatap Sari sebentar dan menemukan hasrat yang sama di matanya. Dengan perlahan tangannya membimbingku memasuki lubang kenikmatannya. Dengan satu dorongan pelan aku mulai memasuki tubuhnya, sedikit demi sedikit. Aku tahu ia sedikit kesakitan, karena ini pertama kali baginya, namun kebasahannya sangat membantu batang kemaluanku menemukan jalannya. Ketika batang kemaluanku hampir separuh masuk dalam liang kenikmatannya, tangannya memelukku dengan amat keras dan tubuhnya bergetar hebat. Aku merasakan cairan lebih banyak lagi membanjiri kemaluannya dan dengan satu dorongan aku menusuk hingga bagian terdalam dari kemaluannya. Tubuhnya menggigil dan mulutnya meracau, “Eeeenak.. Pak.. ooohh.. tekan yang.. dalaam.. ooohh..” ketika aku mulai menggerakkan batang kemaluanku naik turun. Pada setiap gerakan menusuk aku menekan dengan begitu dalam. Sari menggoyangkan pinggulnya, kedua kakinya menjepit pinggulku begitu keras.
Aku akhirnya tak tahan lagi dan merasa sudah hampir tiba waktunya. Pada gerakanku yang terakhir, aku merasakan seluruh tubuhnya menggeletar, menyambut spermaku yang memenuhi rongga kewanitaannya saat ejakulasi. Kukunya makin dalam terbenam di punggungku dalam satu pelukan yang ketat dan tubuh kami sama-sama menggeletar. Untuk beberapa saat hanya kenikmatan tiada tara yang kami rasakan dan entah berapa lama kami terus berpelukan menikmati keindahan itu dengan mata terpejam, dengan batang kemaluanku tetap kubiarkan di dalam liang kenikmatannya. Ketika getar-getar keindahan itu akhirnya harus berakhir, aku membuka mata dan melihat Sari yang masih tetap terpejam dengan wajahnya yang penuh keringat. Betapa cantiknya melihat dia dalam keadaan sesudah orgasme. Lalu ia membuka matanya dan tersenyum lembut melihatku sedang memandanginya. Kucium lembut bibirnya dan kami berbaring berpelukan. Kami tahu malam masih panjang dan kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan indah itu untuk menikmatinya bersama-sama.
Itulah kisah perselingkuhanku dengan Sari, sekretarisku yang cantik dan genit dan acara kucing-kucingan itu berlangsung hingga kini.
Setelah acara selesai aku pulang ke rumah dan mendengar suara atau hal-hal yang tidak enak dari para tetangga tentang istriku. Tapi aku saat itu belum mau percaya begitu saja dengan cerita jelek yang beredar di daerahku itu, sampai sahabatku sendiri yang mengatakannya padaku. Barulah aku mempercayai cerita tersebut.
Selama tiga hari aku tidak mau bicara dengan istriku, sikapnya padaku yang kurasakan sepertinya agak beda semenjak aku datang dari acara tahunan yang diadakan perusahaanku itu.
“Yang.. kamu kenapa sih?” kenapa kamu diam saja.. kenapa kamu diamkan aku? Apa salahku?” Tanya Yenni, istriku pura-pura tidak mengerti duduk persoalannya.
Ditanya seperti itu aku masih tetap diam tidak mau bicara, sikap Yenni semakin merajuk saja. Dia mencoba untuk melemahkan emosi jiwaku, Yenni memang paling pandai dalam hal menundukkan emosiku. Sehingga aku selalu saja kalah olehnya, apakah karena aku terlalu mencintainya? sehingga diriku begitu lemah terhadapnya.
“Jika Yayang selalu diam begini, aku sebaiknya pergi saja dari rumah ini! Percuma punya suami juga, selalu mendiamkan aku tanpa tahu persoalannya!” kata Yenni dengan suara yang ketus dan tajam. Aku kaget dengan kata-katanya itu, maka kutarik lengannya ketika dia hendak melangkah keluar.
“Katakan! Siapa lelaki yang pernah ke mari sewaktu aku sedang di luar kota kemarin?!” tanyaku sambil mencengkeram lengannya lebih erat lagi.
“Siapa yang Yayang maksud? Aku benar-benar tidak mengerti?” ujarnya mencoba mengelak.
“Jangan pura-pura lagi, Yenni! Aku sudah tahu semuanya. Sewaktu aku tidak ada, rumah ini kedatangan tamu kan?” gertakku.
“Memang benar Yang, Tapi mereka itu teman Mamaku. Lagi pula, nggak mungkin aku berani mengkhianati kamu Yang!” ujar Yenni sambil matanya melotot tajam ke arahku.
“Kamu berani untuk di sumpah?” tanyaku lagi.
“Aku berani di sumpah dengan cara apa saja, Yang! Karena aku tidak merasa bersalah!”
Kata-katanya cukup tandas dan tajam. Dia seolah-olah tidak menerima kutuduh begitu, aku sendiri akhirnya tidak bisa berbuat banyak. Karena menuduh tanpa bukti itu sama halnya dengan memfitnah, lagi pula setelah aku pikir apapun yang dilakukan istriku ini tidak mungkin kalau Yenni berani berbuat seperti itu kecuali semua ini memang kelakuan dari mertuaku itu. Apalagi saat itu Yenni menangis pilu dan aku merasa tidak tega melihatnya sebab bagaimanapun juga aku masih begitu mencintainya.
“Maafkan aku Sayang. Aku telah menuduh yang tidak-tidak padamu, aku percaya kok kalau kamu masih mencintaiku dan setia padaku”, Kataku sambil memeluk tubuh istriku dengan lembut dan mesra. Dan suasana yang tadinya tegang telah berubah menjadi suasana yang begitu romantis, apalagi aku sudah lama tidak merasakan cumbuan permainannya, dan saat itu Yenni istriku begitu erat mendekapku seakan tidak mau terpisah dariku lagi. Kurebahkan tubuh istriku di atas ranjang, kubiarkan dia terbaring dengan bebas.
Aku berdiri sejenak memandanginya, ada getar aneh menjalari sekujur tubuhku saat itu. Yenni tersenyum penuh arti padaku, dia memang mengerti apa yang aku butuhkan saat ini. Benar-benar menggairahkan dan penuh daya tarik tersendiri tubuh istriku. Ia begitu menantang dan pasrah. Buah dadanya yang masih dilapisi gaun tidur itu membusung, laksana bukit salju yang lembut, kulitnya bersih dan mulus. Pinggulnya padat dan berisi. Kedua pahanya juga putih, laksana kain sutra kalau di sentuh. Segera saja aku melepaskan semua pakaianku dan langsung naik ke atas ranjang. Rasanya saat itu kami seperti berada di malam pengantin saja, begitu mesra dan romantis.
Kemudian aku duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuh istriku. Sungguh lembut tubuh mungil istriku. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat. Batang kemaluanku menyentuh pinggang istriku. Kudekatkan batang kemaluanku ke tangan istriku. Digenggamnya batang kemaluanku erat-erat lalu diusap-usapnya. Tanganku terus mengusap perutnya hingga ke celah selangkangannya. Terasa berlendir basah di kemaluannya. Aku beralih dengan posisi 69.
Aku mulai mendekap tubuhnya sehingga seluruh badannya menekan tubuhku, dan Yenni mengarahkan liang kewanitaannya yang terbuka ke wajahku. Dapat kulihat liang kewanitaannya yang kemerahan yang tidak dihiasi oleh sehelai bulupun, bersih. Yenni menaikkan pantatnya sedikit, sehingga makin jelas terlihat liang kewanitaannya, aku tahu maksudnya dengan perlahan kutempelkan wajahku ke liang kewanitaannya, kuciumi bibir luarnya, dia sedikit menggelinjang tapi tetap menghisap dan menjilat batang kemaluanku, dapat kuhirup aroma yang keluar dari liang kewanitaannya tersebut bau yang khas.
Aku jilati seputar bibir luarnya, Yenni semakin melengkungkan tubuhnya ke belakang, sehingga terbenamlah wajahku di liang kewanitaannya. Aku mengatur nafas, kubuka bibir luarnya dengan jari tanganku, kumasukkan lidahku ke dalam liang kewanitaannya dan kumainkan lidahku di dalamnya, Yenni menggelinjang kuat, “Eeeggghh.. shhh.. aaachh.. terusin Yang”. Kukecup dan kutarik klitorisnya dengan lidah dan bibirku, dapat kurasakan cairan wanitanya sudah mulai membasahi liang kewanitaannya, Yenni mengejang saat kuhisap liang kewanitaannya yang sudah basah. Kujilat bibir kemaluannya dan kupilin-pilin klitorisnya.
“Ohhh.. arggghh.. ohhh.. terusin Yang.. ohhh.. arggghh”. Dan aku merasakan batang kemaluanku digigit dengan kedua bibirnya. “Eeggghh.. sshhh… Sayang”. Aku pun menggeliat, Yenni melepaskan batang kemaluanku dari mulutnya, mengangkat dan memutar badannya, menciumi bibirku dengan panas dan nafas terengah-engah.
Kemudian Yenni jongkok menghadapku persis di atas batang kemaluanku yang terlihat mengkilap basah, dipegangnya batang kemaluanku dan Yenni mulai menurunkan posisi jongkoknya dengan menuntun batang kemaluanku masuk perlahan ke dalam liang kewanitaannya, “Bleesss..” “Aaahhh.. ggghh!” kami berdua bersamaan mengerang. Yenni mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, liang kewanitaannya sangat banyak berair, sampai berbunyi, “Plok.. plok.. cipak.. plok..” sesekali dia menggelinjang dan meletakkan tangannya ke belakang memegang kedua pahaku, diputarnya pinggulnya ke kiri dan ke kanan, kali ini giliranku yang menggeliat, kutarik tangannya ke bawah sehingga dia terkelungkup kuciumi bibirnya dengan hangat Yenni membalas, kupeluk badannya dan Yenni sekali lagi memutar-mutar pinggulnya.
“Shhh.. gghhh..” aku kembali mengerang. “Enak, Yang..” bisiknya. Aku tak menjawab dan langsung kuciumi bibirnya sementara tanganku mencoba untuk melepaskan gaun tidurnya, Yenni membantuku, dia bangun dan melepaskannya. Kulihat payudaranya, aku mulai merabanya, meremasnya, kuhisap puting payudara kanannya. ” Ohhh.. arghah.. aaah.. ahhh.. oh Yang terusin.. ohhh.. aghhh..” Yenni mendesah dan mempercepat gerakan pinggulnya naik turun kiri kanan. Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Kuperkuat remasanku di payudaranya, Yenni merebahkan badannya dengan tetap menggerakkan pinggulnya dan kubalas dengan gerakan menusuk dari bawah.
“Aaahh.. Yang.. terusin, Yang.. shshsh…” desah Yenni menggeliat. Aku tak peduli, kujilati dan kugigit putingnya yang sudah dekat dengan wajahku, Yenni kembali mendesah dengan cepat mengikuti irama goyangan pinggulnya dan tusukan batang kemaluanku, “Aaahhh… ahhh… eeghh…” Aku merasakan ada sesuatu yang siap keluar dari dalam batang kemaluanku, kupercepat gerakan batang kemaluanku dalam liang kewanitaannya, badan Yenni mulai mengejang kuat seiring kubangunkan badannya sambil meremas kedua payudaranya. Yenni juga mempercepat gerakan pinggulnya, sementara aku merasakan bahwa air maniku sudah tak tertahankan lagi, dengan hitungan sepersekian detik, kulepaskan batang kemaluanku dari dalam liang kewanitaannya. Yenni kaget dan keluarlah cipratan pertama yang diiringi oleh luberan air maniku yang selama hampir dua minggu kupendam.
Yenni terperangah, kemudian dia mencubit perutku.
“Kok, nggak bilang-bilang?!” aku tersenyum malu, kemudian dia menguatkan cubitannya.
“Aku kan juga hampir sampai, kenapa nggak dikeluarin di dalam aja?” dengan tampang innocent.
Aku meringis menahan sakit, “Sorry Yang katanya kamu lagi KB…” jawabku enteng sambil membersihkan sisa-sisa air mani dari tubuhku.
Yenni mulai memperlihatkan cemberutnya ketika dia melihat juniorku yang lunglai. Aku melirik ke arah jam dinding dan tersenyum sambil merebahkan kepalaku ke bantal yang empuk, Yenni keheranan tapi kembali cemberut.
“Curang.. mentang-mentang udah enak trus nyantai gitu, aku gimana dong? masih tanggung nih!” dengan nada kesal-kesal manja. Kemudian kutarik badannya untuk rebahan di sebelahku. Kuambil tangannya lalu kebelaikan perlahan di sekitar daerah batang kemaluanku, mulai dari paha, memutar ke bagian bawah perut sambil memainkan bulu kemaluanku, ke paha sebelahnya, kemudian kedua biji pelirku, batang kemaluanku dan balik lagi ke paha yang pertama. Yenni heran tapi setelah dua kali kuulang kulepas tanganku dan dia mulai memainkan tangannya sendiri mengikuti gerakan yang baru saja kuajarkan.
Tak beberapa lama batang kemaluanku mulai bergerak dan semakin halus gerakan tangan Yenni, batang kemaluanku juga semakin menegang. Yenni melemparkan senyum nakalnya padaku, aku balas senyumannya dan Yenni terlihat kembali bersemangat ketika melihat batang kemaluanku sudah berdiri tegak, dia bangkit dari rebahannya dan mulai menggenggam batang kemaluanku, diusap-usapnya perlahan dan semakin lama semakin kuat. “Cihuuii!” teriakan kecilnya membuatku tertawa.
Yenni mulai bangun dan bersiap untuk menaiki tubuhku lagi, tetapi aku cepat-cepat menghadangnya dengan membangunkan badanku dan menghempaskan tubuhnya ke kasur, Yenni kembali keheranan tapi tak lama kemudian ia tersenyum begitu aku meregangkan kedua kakinya dan mulai meraba daerah liang kewanitaannya yang tak dihiasi selembar bulu. “Sudah siap ronde kedua?” tanyaku sambil mengambil posisi di hadapannya, belum sempat Yenni menganggukkan kepalanya, kepala batang kemaluanku sudah menusuk liang kewanitaannya “Eghkhkshsh..!” Yenni mendesah berat dan badannya menggelinjang hebat. Kubenamkan terus batang kemaluanku sampai habis ke dalam liang kewanitaannya, Yenni terus menggelinjang. “Shshsh.. terushin.. Yang..” desahnya. Kutarik batang kemaluanku keluar sampai habis dan kubenamkan lagi ke dalam liang kewanitaannya dengan cepat, Yenni terbelalak, “Aakkkhh…” kali ini suaranya tak tertahankan.
Sayup-sayup kudengar suara wanita cekikikan dari luar kamar tapi tak kuperdulikan. Kembali kutarik batang kemaluanku dan kubenamkan lagi, lalu kukocokkan batang kemaluanku keluar masuk di dalam liang kewanitaannya yang mulai melebar dan basah, nafas Yenni mulai terengah-engah mengikuti gerakan batang kemaluanku. “Enaak.. lagii.. masukin semuaa.. tekan dong.. bagian kiri yang ditekan… aahh… laaggii.. tekann.. ahh…” dengan mata merem melek keasyikan, selang beberapa lama kutarik batang kemaluanku keluar dan kuangkat kedua kakinya ke atas dan kusandarkan di dadaku, Yenni membuka matanya yang terpejam. Belum sempat ia berpikir, kembali kubenamkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya yang menyempit.
“Aaakkhh.. shhh…” aku menyeringai sementara Yenni mendesiskan nafasnya seperti menahan sakit, tapi tak lama nafasnya kembali terengah seiring kocokan batang kemaluanku dalam liang kewanitaannya. Kembali kudengar suara wanita cekikikan, tapi aku tetap tak perduli. Aku masih tetap mempertahankan irama kocokan batang kemaluanku, tak beberapa lama kupalingkan penglihatankan ke jendela kamar yang mengarah ke balkon luar, walau tertutup tirai tapi aku dapat melihat bayangan kepala orang di luar sana. Aku terkaget. “Gila! ternyata permainan seks-ku dengan Yenni diintip mertuaku sendiri”, pikirku dalam hati. Perasaan kaget coba kuhilangkan dengan menarik batang kemaluanku dan membalikkan badan Yenni yang mulai terasa berat kelelahan.
Aku bangun dari tempat tidur dan kutarik pinggulnya ke atas, Yenni menolehkan kepalanya ke belakang, aku meraba liang kewanitaannya yang sudah sangat basah, dia melemparkan senyum malasnya, tak lama kutuntun batang kemaluanku ke liang kewanitaannya melalui daerah bokongnya yang tak begitu besar. Setelah merasakan pas di depan lubang kenikmatannya tanpa permisi kubenamkan batang kemaluanku dalam-dalam sampai habis tak terlihat. “Eenggkk.. ssshh.. aakhkh !” kami sama-sama mendesah. Badan Yenni kembali menggelinjang hebat dan nyaris melepaskan batang kemaluanku dari dalam liang kewanitaannya, kutahan pinggulnya dengan kedua tanganku, kupegang erat pinggulnya, dan tak lama kukocok batang kemaluanku di dalam liang kewanitaannya keluar masuk, terdengar suara yang khas ketika bokongnya beradu dengan perutku. Aku semakin menikmati permainan ini.
“Akh.. egkh.. sshsh.. aagkh..” nafas kami bersahutan mengikuti irama kocokan batang kemaluanku, tapi suara Yenni mulai mengeras “Eeggh.. .Aaakkkh.. teerrus Yang.. teerruss…” kupercepat kocokan batang kemaluanku sehingga menimbulkan suara gesekan perut dan bokong yang semakin cepat. Tak lama kemudian Yenni mendesah panjang, “Ssshh.. aaakkhh.. eegghhm.. ohhh.. augh.. Yang.. Yenni mau keeellluuaarrr…”. Tiba-tiba liang kewanitaannya seperti menghisap-hisap batang kemaluanku dan akhirnya, “Crooottt.. crotttt.. crotttt.. crot” aku bisa merasakan klimaksnya tapi aku tetap menusukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya. Tangan Yenni kelihatan sudah tidak dapat menahan badannya, kepalanya jatuh lunglai sesaat, dia menoleh ke belakang menatapku dan tersenyum manis seakan memberi tanda kepuasan. Kubalas senyumnya dan kuperlambat gerakan batang kemaluanku dan Yenni mengikuti gerakan batang kemaluanku dengan memutarkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.
“Uuugh… eegkh…” aku menyeringai, batang kemaluanku terasa sedikit ngilu.
“Kenapa, enak ya?” candanya sambil terus memutar pinggulnya perlahan sementara batang kemaluanku yang masih tertancap dalam liang senggamanya yang sangat basah. “Uugghmm.. sshhshh.. aaakgh..” Yenni mendesah keenakan menikmati permainannya sendiri. Rupanya ia ingin menikmati klimaksnya lebih lama dengan memutar-mutar batang kemaluanku di dalam liang kenikmatannya yang sedikit melebar dan basah. Lalu kukecup bibirnya, ia pun membalasnya sambil berbisik, “Kamu hebat deh Yang…” Senyum manis menghiasi wajahnya yang bersemu merah, pertanda ia telah mengalami orgasme yang hebat. Kami pun tidur berdekapan sampai pagi.
Begitulah, kami sebenarnya hidup dalam rumah tangga yang rukun dan romantis. Namun karena pengaruh ibunya Yenni (mertuaku red) cukup besar, maka rumah tangga kami sering goncang. Aku mencoba untuk dapat mempertahankan dan mengendalikan mahligai rumah tanggaku, berkali-kali aku bisa menyelamatkannya. Namun terpaan badai yang dihembuskan ibu mertuaku semakin kuat saja, sehingga aku tidak mampu lagi untuk menahannya. Akhirnya Yenni mengajukan gugatan cerai padaku.
Setelah menjalani sidang perceraianku dengan istriku yang berjalan begitu lama, karena memang aku masih mencintainya dan berharap Yenni kembali ke pelukanku. Tapi apa dayaku karena kenyataannya tidak seperti yang kuharapkan, setelah pembagian harta gono-gini. Aku sekarang sebatang kara dalam mengarungi hidup ini, setelah Yenni yang selama ini menjadi istriku telah tiada lagi di sisiku.
Vivi Dan Dukun cabul
Vivi tidak bisa menerima sikap dan tindakan Ardi akhir-akhir ini yang ia lihat sudah melupakan dan membiarkan keluarganya. Tindakan ini dilihat Vivi saat Ardi akan pergi ke luar kota untuk meninjau perusahaannya di kota lain. Vivi menduga pasti Ardi telah melakukan suatu perselingkuhan dan menyeleweng dikarenakan Ardi tidak lagi memberikan nafkah batin untuk Vivi, sedangkan Ardi selalu pergi ke luar kota setiap minggu dengan begitu hubungan seks-nya dengan istrinya pasti tersalur, sedang saat ini Ardi telah lupa akan kewajibannya. Siapa wanita yang telah merebut Ardi dari tangannya, Vivi tidak mengetahui. Oleh sebab itu Vivi sering merenung dan berpikir apakah selama ini ia tidak melayani kebutuhan dan kesenangan suaminya, namun semua itu ia rasa tidak mungkin dan sepengetahuannya ia selalu melayani dan melaksanakan kesenangan dan kesukaan suaminya. Sedang kalau ia lihat bentuk tubuhnya yang mungkin telah berubah? namun ia sadari tidak mungkin juga, Vivi menyadari ia dan Ardi telah berumah tangga kurang lebih 6 tahun dan dikaruniai 2 orang anak yang paling besar berumur 5 tahun, mustahil bentuk tubuhnya akan menyebabkan Ardi berpaling.
Di depan cermin sering Vivi mengamati tubuhnya, ia pun rajin senam dan melangsingkan tubuhnya, namun apa gerangan Ardi berubah dan tidak mau menjamahnya? Secara fisik Vivi memang seorang ibu rumah tangga yang telah beranak dua, namun jika melihat tubuh dan kulitnya banyak membuat gadis yang iri karena bentuk tubuhnya amat serasi dan menggiurkan setiap lelaki yang menatapnya. Umur Vivi baru 32 tahun, di saat itu ia butuh pelampiasan birahi jika malam hari menjelang, namun sikap Ardi telah membuatnya menjadi tidak percaya diri. Atas saran teman karibnya yang juga ibu rumah tangga dan wanita karir, maka Vivi disarankan untuk meminta tolong pada seorang dukun sakti yang bisa mengembalikan suami dan membuat Ardi bertekuk lutut kembali. Ini telah lama di coba Lusi, dulunya suaminya juga menyeleweng. Namun atas bantuan dukun itu suaminya telah melupakan wanita simpanannya.
Dengan saran dan nasehat dari karibnya itu Vivi memberanikan diri untuk datang ke tempat dukun itu walaupun jaraknya agak jauh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobilnya. Dengan bantuan Lusi, Vivi mengemudikan Balenonya ke tempat dukun itu. Mereka berangkat pagi harinya. Sesampai di gubuk dukun yang memang terpencil di sebuah kampung itu, Vivi memarkirkan mobilnya di samping gubuk itu. Lalu Lusi mengetuk pintu gubuk itu dan dengan adanya sahutan dari dalam mempersilakan mereka berdua masuk, di dalam telah ada dukun itu yang duduk dengan sambil menghisap rokoknya.
“Ooo… Bu Lusi? ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?” dukun itu berbasa basi.
“Eee… ini Mbah, teman saya ini ada masalah dengan suaminya, namun ia ingin suaminya seperti sedia kala lagi…” jawab Lusi.
Lalu Lusi memperkenalkan sang dukun yang bernama Mbah Dudu itu kepada Vivi. Sambil berjabat tangan Mbah Dudu mempersilakan kedua wanita itu untuk duduk bersila di lantai gubuknya itu. Sepintas Vivi merasa agak risih dari mulai ia memasuki gubuk itu. Ada perasaan tidak enak namun karena keinginannya mengembalikan suaminya ia tidak mengambil pusing semuanya. Tanpa ia sadari dari saat ia masuk dan bersalaman dengan Vivi mata mbah dukun itu tidak henti-hentinya memandang ke arah Vivi. Lalu ia memanggil Vivi untuk maju selangkah ke arahnya, dan Vivi diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam wajan yang berisi air kembang, lalu Mbah Dudu membakar menyan dan membaca mantranya.
Tidak berapa lama kemudian ia buka matanya dan berkata bahwa mata hati suaminya telah dipengaruhi oleh wanita simpanan Ardi dan membuat Ardi melupakan keluarganya. Atas saran mbah dukun supaya Ardi kembali maka Vivi harus memakai jimat yang akan dibuatkannya, asal Vivi mau menjalani syarat-syaratnya dan itu semua terpulang kepada Vivi. Karena besarnya keinginan agar Ardi kembali, maka Vivi menyanggupi segala syarat-syaratnya. Setelah itu sang dukun berkata bahwa besoknya Vivi akan mendapatkan jimat itu dan akan dipasangkan ke tubuh Vivi dan akan dibuatkan malam ini. Mbah Dudu adalah lelaki asal Nias yang telah lama memiliki ilmu yang amat sakti. Tidak sedikit orang yang telah dibantunya. Mbah Dudu tinggal seorang diri di gubuk itu dan tidak memiliki istri. Umurnya telah beranjak tua yaitu 70 tahun namun fisik dan sosoknya tidak menggambarkan ketuaan. Selanjutnya Vivi minta diri dan menitipkan amlop untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan berjanji besok akan datang. Lalu Lusi minta diri kepada Mbah Dudu, lalu mereka pulang ke rumah dan besok Vivi harus mengambil jimatnya.
Besok hari yang telah ditentukan, Vivi minta Lusi membantu menemaninya ke tempat dukun itu, namun karena adanya kesibukan di kantornya maka Lusi tidak dapat menemani. Dan berangkatlah Vivi mengendarai Balenonya seorang diri ke tempat dukun itu. Lebih kurang 1,5 jam perjalanan Vivi, sampailah di gubuk itu dan memarkirkan mobilnya di samping gubuk, sedangkan hari saat itu telah mendung dan berangin sepertinya hari akan hujan. Lalu Vivi mengetuk pintu gubuk dan kemudian pintu itu dibuka Dudu dari dalam dan mempersilakan masuk. Lalu Vivi masuk ke gubuk dan duduk di lantai. Lalu Mbah Dudu meminta Vivi untuk langsung ke depan dan menerima saran dan cara-cara memakai jimat itu. Vivi diharuskan untuk berbaring dan memakai kain sarung lalu menelentangkan diri, karena jimat itu akan dipasangkan pada tubuh Vivi yang biasa di sentuh suaminya. Lalu Vivi minta ijin untuk memakai sarung yang dipinjamkan sang dukun di kamar yang telah tersedia.
Dalam kamar itu, hanya ada satu dipan kayu yang telah lama dan saat itu Vivi membuka seluruh pakaianya, sedang BH dan CD-nya tetap terpasang pada tubuhnya. Sesaat kemudian sang dukun memasuki kamar itu dan minta Vivi berbaring di dipan itu. Vivi menuruti kata dukun itu, lalu Mbah Dudu memulai melakukan aktifitasnya dengan memasangkan cairan jimat itu mula-mula ke kulit muka Vivi lalu turun ke leher jenjang dan ke dada yang masih tertutup BH. Sesampai pada dada Vivi sang dukun menyadari adanya getaran birahinya mulai datang dan lalu di sekitar dada Vivi ia oleskan cairan itu, tangan sang dukun masuk ke dalam dada yang terbungkus BH. Di dalam BH itu tangan Dudu memilin dan memilintir puting susu Vivi, dengan cara itu Vivi secara naluri seksnya terbangkit dan membiarkan tindakan sang dukun yang memang kelewatan dari tugasnya itu, Vivi hanya diam. Lalu sang dukun membuka pengait BH Vivi dan melemparkan BH itu ke sudut kaki dipan itu dan terpampanglah sepasang dada montok yang putih mulus kemerahan karena gairah yang dipancing Mbah Dudu itu.
Di sekitar dada itu sang dukun mengoleskan jimatnya berulang-ulang sampai Vivi merasa tidak kuat menahan nafsunya. Lalu sang dukun tangannya turun ke perut dan ke selangkangan Vivi. Di situ tangan sang dukun memasuki selangkangan Vivi, tindakan ini membuat Vivi protes,
“Jangan! saya mau diapakan Mbah?” tanyanya.
“Ooo… ini adalah pengobatannya, Lusi pun dulunya begini juga,” jawab mbah dukun sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak menahan gejolak nafsu. Di lubang kemaluan Vivi, jari tangan sang dukun terus mengorek-ngorek isi kemaluan Vivi sehingga Vivi merasakan ia akan menumpahkan air surgawinya saat itu. Sambil membuka kain sarung yang melilit tubuh Vivi sang dukun lalu menurunkan CD yang menutup lubang kemaluan Vivi itu. Lalu ia letakkan CD Vivi di samping dipan yang beralaskan bludu usang itu. Sesaat kemudian Vivi telah telanjang bulat dan jari tangan sang dukun tidak henti-hentinya beraksi di sekitar daerah sensitif tubuh Vivi. Sedang jimatnya telah dioleskan pada seluruh bagian-bagian tubuh Vivi.
Lalu tibalah saat untuk memasukkan keampuhan jimatnya, maka sang dukun minta kepada Vivi untuk mau bersengggama karena jimat itu tidak akan bisa dipakai jika Vivi tidak melakukan senggama dengan dukun itu. Karena Vivi telah merasa kepalang basah dan ingin niatnya kesampaian maka ia ijinkan sang dukun melakukan persenggamaan. Lalu tangan sang dukun membuka paha Vivi yang mulus terawat itu. Lalu ia buka lubang kemaluan Vivi dengan tangannya dan memainkan klitoris Vivi dan kembali Vivi histeris ingin dituntaskan nafsu yang telah sampai di kepalanya, ditambah telah beberapa bulan tidak berhubungan seks dengan suaminya. Mbah dukun yang telah sama-sama-sama bugil dengan Vivi lalu memasukkan batang kemaluannya yang cukup besar itu dan kuat ke dalam lubang kemaluan Vivi yang telah dibasahi air kewanitaan Vivi yang tampaknya siap untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang kemaluan yang telah basah itu. Setelah dipaksakan agak keras lalu batang kemaluan yang tegak menantang masuk seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Vivi, dan Mbah Dudu melakukan gerakan maju mundur, sedang tangannya tidak henti-hentinya memilin dan menekan pinggul padat Vivi itu. Buah dada Vivi tidak luput dari jelajahan tangan sang dukun.
Lebih kurang 30 menit lubang kemaluan Vivi digenjot dengan paksa lalu sang dukun barulah sampai klimaks dengan menumpahkan air maninya ke dalam lubang kemaluan itu sebanyak-banyaknya. Sedangkan air yang keluar dari lubang kemaluan Vivi itu ia oleskan ke lidah Vivi untuk kasiat bahwa Vivi tidak bisa dilupakan suaminya. Dalam persenggamaan itu Vivi sempat orgasme 3 kali, itu pun saat ia terengah-engah di saat batang kemaluan sang dukun mengaduk-aduk isi kemaluanya tadi. Sejam kemudian barulah permainan itu selesai setelah sang dukun minta permainan dilakukan 2 kali. Setelah itu Vivi minta diri pulang dan membawa yang akan ia pakaikan di rumahnya saat mandi. Mbah dukun mengatakan ada jimat yang akan dipasang di dalam kamar Vivi namun belum siap, dan mbah dukun berjanji akan mengantarkannya ke rumah Vivi 2 hari lagi.
Tepat 2 hari kemudian sang dukun mendatangi rumah Vivi yang megah. Saat itu suami Vivi belum pulang dari luar kota dan di rumah saat itu hanya ada ia dan seorang pembantunya yang sedang menjaga anak-anaknya. Sang dukun berkata, “Bu Vivi, jimat ini akan saya pasangkan pada kamar Ibu nanti malam,” sedangkan Vivi merasa khawatir, bagaimana jika suaminya pulang. Namun karena kesaktiannya, sang dukun berkata, “Bu Vivi nggak usah khawatir, suami Ibu pulang lusa, sedang ia sekarang menurut penglihatan saya sedang di Lampung,” kata sang dukun. Lalu bagaimana ia menerangkan kepada pembantunya karena adanya kehadiran dukun tua itu? Lalu ia hanya berkata bahwa familinya dari kampung dan menumpang barang 1 hari di rumahnya. Lalu Vivi mempersilakan sang dukun untuk istirahat di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk tamu. Lalu sang dukun memasuki kamar yang telah disediakan.
Malam harinya saat akan memasangkan jimat di kamar Vivi, dilakukan pada pukul 9.00 malam, sedang pembantunya telah tidur di kamar belakang, tempat kamar tidur pembantu memang jauh di belakang dan tidak mengganggu ke rumah induk tempat kamar Vivi berada. Di dalam kamar itu sang dukun melakukan ritualnya dengan membaca mantera, lalu ia membakar menyan, sedang Vivi duduk diam melihat apa yang dilakukan sang dukun dari atas tempat tidurnya. Lalu sang dukun berkata, “Sebaiknya jimat ini kita pasangkan pada saat tepat jam 12.00 malam nanti, berarti masih ada waktu 3 jam lagi, Bu Vivi…” katanya. “Sekarang sebaiknya kita ngomong-ngomong saja dulu menunggu waktu,” kata sang dukun. “Baiklah Mbah,” lalu Vivi mempersilakan sang dukun keluar kamar. Bagaimanapun ia merasa berat hati untuk membawa dukun itu ke dalam kamar pribadinya. Sang dukun berkata, “Tidak usah keluar… Bu Vivi… di sini saja.” Lalu sang dukun berdiri dari duduknya dan menuju ke arah Vivi duduk dan mbah dukun itu juga duduk di samping Vivi. Lalu tangannya menggapai tangan Vivi dan berkata, “Sebaiknya kita berdua melakukan seperti saat Ibu di gubuk saya, sebab jika tidak para jin yang membantu saya akan lari dan tidak mau menolong Ibu,” kata mbah dukun. Vivi hanya bergidik, bulu kuduknya merinding. Haruskah ia mengulangi kesalahan saat ia harus bersenggama dengan dukun itu di gubuknya? Namun karena adanya pengaruh dan keinginan Vivi maka ia biarkan sang dukun mengulangi perbuatan maksiat itu di kamarnya, saat itu Vivi memang merasa menjadi seorang wanita sempurna karena ia telah mendapatkan siraman batin dari dukun tua itu meskipun tidak ia dapatkan dari suaminya.
Lebih kurang 2 jam mereka berdua mengayuh samudera kenikmatan bersama sang dukun dan membuat Vivi orgasme berulang-ulang dan membuat lubang kemaluannya sampai lecet karena kebuasan batang kemaluan dukun yang sangat besar itu. Lalu tepat pada jam 12 malam barulah jimat itu terpasang pada bawah ranjang Vivi dan menjelang pagi mereka terus melakukan hubungan seksual dengan menggebu-gebu. Lalu Vivi tertidur dan tidak menyadari hari telah pagi dan sang dukun telah pergi, sedang Vivi merasa tubuhnya pegal-pegal dan tulangnya serasa mau lolos. Sejak saat itu memang jimat pemberian sang dukun ada perubahan pada diri suami Vivi dan ia sangat berterima kasih dan lalu ia mendatangi sang dukun. Sedang sang dukun cuma minta Vivi tidak melupakannya, dengan cara Vivi harus 2 kali dalam sebulan datang untuk memberikan jatah hubungan seks kepada sang dukun seperti Lusi juga melakukan hal yang sama. Memang setelah itu Vivi selalu rajin mendatangi sang dukun dan terkadang sang dukun yang datang ke rumah Vivi untuk minta jatah senggamanya. Memang sebagai dukun ilmu hitam, Mbah Dudu harus mensenggamai pasiennya, karena dengan demikian si pasien akan mampu disembuhkan dan ilmu sang dukun dapat dipelihara.
Berpetualang Di Pulau
Pratiwi tersenyum puas. Dia berdiri di tepi kolam yang cukup jernih. Setelah menikmati pemandangan sekitar kolam tersebut, dia meletakkan botol air mineral di tepi kolam dan perlahan melepaskan pakaiannya. Dimulai dari kaus ketatnya yang berwarna pink, lalu perlahan diturunkannya celana pendeknya. Kini dia hanya memakai bikininya yang berwarna putih. Dengan hati-hati dilepaskan bikini bagian atas yang langsung menampilkan buah dadanya yang ranum dan tegak berukuran 34B. Puting susunya yang berwarna pink bergoyang-goyang seirama gerakan buah dadanya. Pratiwi kemudian menunduk, buah dadanya terlihat menggantung. Tertawa kecil, dilepaskan pula bikini bagian bawahnya. Selangkangannya yang ditutupi rambut-rambut halus terlihat bersih. Tubuh telanjang gadis 21 tahun tersebut kini menikmati semilir angin. Desir angin terasa membelai lembut dada bulat sempurna, tanpa lupa membelai pantat montoknya yang berisi. Setelah merapikan pakaiannya di tepi kolam, Pratiwi menarik napas panjang dan memasukkan kaki kirinya ke dalam kolam. Dilanjutkan dengan kaki kanannya. Kini ia duduk di tepi kolam. Diambilnya air dengan kedua tangannya dan dipercikkan ke tubuhnya. Butiran air terlihat menuruni lehernya terus ke dadanya yang ranum dan berlanjut menuju perutnya dan berhenti di rambut-rambut halus selangkangannya. Setelah memercikkan air beberapa saat, Pratiwi pun turun ke dalam kolam.
Kolam tersebut ternyata tidak dalam, hanya sebatas puting susunya saja. Lalu ia menggosok tubuhnya dengan air kolam yang jernih. Buah dadanya yang tertekan lengan saat membilas terlihat semakin montok. Tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikan kejadian tersebut. Orang misterius itu pun menelan ludah melihat tubuh sempurna yang putih mulus tersebut. Tak heran, karena Pratiwi sehari-hari memang berprofesi sebagai model. Demikian asyiknya Pratiwi membilas tubuhnya dengan air segar tersebut, dirinya tidak menyadari bahwa orang misterius itu menukar botol air mineralnya dengan botol lain yang sama.
Pratiwi terus menggosok tubuhnya. Sesekali dia menyelam. Akhirnya dia menuju ke bagian yang agak dangkal di kolam itu. Dia duduk di atas batu di dalam kolam tersebut, menikmati kesegaran air kolam tersebut di sekujur tubuhnya. Buah dadanya yang montok tersembul ke luar permukaan kolam. Pikirannya teringat kejadian beberapa hari sebelumnya. 2 orang teman kampusnya mengajaknya menginap di cottage di sebuah pulau. Pulau tersebut memang tidak berpenghuni. Hanya turis yang sesekali datang ke sana untuk snorkeling. Begitu pula Pratiwi dan teman-temannya yang datang ke sana untuk hal yang sama.
Sesampainya di dekat pulau, melihat laut yang begitu jernih, Pratiwi dan Dini, temannya, langsung membuka pakaian mereka, menampilkan tubuh indah mereka yang terbalut bikini, memasang mask dan fin dan langsung melompat ke laut. Tinggal Ray, teman pria mereka, dan tukang perahu yang terkejut melihat pemandangan indah tersebut. Puas menikmati keindahan bawah laut, kedua gadis itu pun naik kembali ke perahu dan mengenakan kembali pakaian mereka. Perjalanan ke pulau dilanjutkan kembali. Dari tukang perahu, mereka mengetahui bahwa pulau tersebut cukup luas dan memiliki hutan di tengah-tengahnya. Setelah menaruh semua barang-barang dan perbekalan di cottage, Pratiwi sengaja memisahkan diri dari teman-temannya dan berjalan ke dalam hutan di pulau tersebut hingga sampailah dia di kolam tersebut. Rasa lengket akibat berenang di laut memaksa Pratiwi membilas tubuhnya di kolam tersebut.
Dengan badan yang tidak lengket lagi, Pratiwi naik ke tepi kolam dan duduk di sana sambil menunggu tubuhnya kering. Tubuh telanjang yang indah tersebut kembali menjadi santapan mata orang misterius tersebut. Dengan mata tak berkedip, dinikmatinya buah dada Pratiwi yang bulat ranum tersebut, turun ke perutnya yang rata, paha Pratiwi yang mulus pun tak luput dari sasaran mata orang misterius tersebut. Pratiwi menikmati semilir angin mengeringkan tubuhnya, sambil meminum air mineral dari botolnya. Tak lama kemudian Pratiwi merasakan hal yang aneh ditubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Pandangannya terasa berat. Tak lama kemudian tubuhnya tergeletak lunglai tak bertenaga. Dia masih merasakan tubuh telanjangnya dibopong dan diletakkan di bahu seorang pria. Pratiwi berusaha memberontak, tapi tenaganya seakan hilang. Tangan nakal pria tersebut meraba-raba pantatnya yang montok sambil membopongnya ke dalam hutan. Setelah
itu Pratiwi tak sadarkan diri.
——————————————————–
Di cottage, Ray dan Dini masih membereskan barang-barang dan perbekalan. Setelah selesai membereskan barangnya, Ray pamit untuk mandi.
“Dini, gue mandi dulu ya, badan gue lengket nih kena angin laut.”
“Ya udah sana, gue juga masih belum beres nih barang-barangnya. Biasa cewek barangnya banyak,” sahut Dini.
Ray pun bergegas ke kamar mandi. Mungkin karena pulau tersebut tidak berpenghuni, kamar mandinya pun lumayan terbuka. Hanya terdiri dari kayu yang mengelilingi kamar mandi, dengan sebuah bak air dan WC. Atapnya terbuka dan tidak memiliki pintu. Sambil mandi, pikiran nakal terbersit di kepala Ray. “Wah, bisa gue pakai buat ngintip cewek-cewek nanti mandi nih.” Ray pun tersenyum nakal sambil meneruskan mandinya.
Selesai mandi, Ray kembali ke cottage dan menemukan hanya Dini di sana. Pratiwi belum kembali. Lalu ditanyanya Dini. “Pratiwi ke mana ya? Katanya tadi hanya jalan-jalan sebentar di hutan, kenapa dia belum balik ya?”
“Jangan-jangan dia tersesat di hutan, Ray” kata Dini dengan nada kuatir.
“Ya udah, gue cari Pratiwi, elo mandi aja dulu. Nanti elo tunggu gue di sini.” Kata Ray bergegas mengambil peralatan dan masuk ke dalam hutan.
Dini pun mengangguk dan mengambil pakaian gantinya. Rasa lengket hasil berenang di laut tadi rupanya mengganggu dirinya juga. Dengan bergegas Dini menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Dini pun melepaskan kaosnya yang langsung memperlihatkan dadanya yang berukuran 36B yang ditutupi bikini coklat. Rok mininya pun dilepas. Setelah menggantung kedua benda tersebut, Dini menatap tubuhnya, dia selalu mengagumi ukuran dadanya yang besar itu. Di luar kamar mandi, sesosok tubuh misterius mengendap-endap bersembunyi di balik pohon yang berseberangan dengan pintu kamar mandi. Sambil menerka arah angin, dinikmatinya pemandangan indah di dalam kamar mandi tersebut.
Dini perlahan membuka bikini atasnya, menggantungnya, lalu memperhatikan lagi buah dadanya yang kini tidak ditutupi apa-apa. Puting pink kecoklatan menambah indah buah dada itu. Dijepitnya kedua buah dadanya dengan lengannya yang mengakibatkan semakin terlihat montoknya buah dada tersebut. Kulit putihnya menambah kemolekan gundukan ranum tersebut. Kemudian dilepasnya bikini bawahnya yang menampilkan selangkangan yang ditutupi rambut yang cukup lebat. Dini perlahan membasuh tubuhnya. Mulai dari leher, ke dadanya, cukup lama tangannya bermain di sana. Dilanjutkan ke perut dan selangkangannya, lalu ke pahanya.
Sosok misterius tersebut mengendap-endap mendekati kamar mandi dan membakar segumpal dedaunan kering. Tidak ada api besar, tidak ada asap, hanya bau aneh yang keluar dari gumpalan daun tersebut yang terbakar menjadi sekam. Sosok tersebut segera menjauh dari kamar mandi tersebut. Kembali ke balik pohon menikmati tubuh indah Dini yang sedang mandi. Selangkangannya terasa meronta melihat tubuh indah tersebut tidak ditutupi apa-apa. Terlebih saat Dini membungkuk membasuh kakinya yang memperlihatkan pantat indahnya dan belahan kemaluannya dari belakang.
Dini yang sedang membasuh tubuhnya mencium bau aneh tersebut. “Ah mungkin hanya bau hutan saja,” pikirnya dan kembali membasuh tubuhnya tanpa memperdulikan bau tersebut. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa lemas, kepalanya terasa berat. Tubuh indah tersebut pun jatuh perlahan di kamar mandi. Dini masih berusaha bangun dan masih sempat melihat sosok hitam menghampiri tubuhnya. Sosok hitam tersebut tertawa, memaksanya meminum suatu cairan, lalu membopong tubuh Dini yang telanjang di bahunya dan membawanya masuk ke dalam hutan.
——————————————————–
Perlahan, Pratiwi membuka matanya, tubuhnya masih tidak bertenaga. Dicobanya untuk berbicara, tetapi hanya suara uh uh saja yang keluar dari mulutnya. Dengan makin jernihnya pikirannya, Pratiwi coba mengingat-ingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri. Matanya melihat disekeliling langit-langit, ah rupanya dia ada di sebuah rumah gubuk. Disadarinya dirinya berbaring di sebuah dipan kayu. Dilihatnya tubuhnya, astaga, ternyata dia telanjang. Tak ada sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Pikirannya teringat bahwa dia pingsan sebelum dia berpakaian kembali. Siapa pria misterius itu? Pikirannya terus melayang. Dilihatnya ke sebelah kiri. Dini! Dilihatnya Dini tergeletak di samping tubuhnya. Ya, Dini. Tubuh Dini telanjang juga, terlentang dan buah dadanya terekspos dengan jelas. Dini kelihatannya belum sadar.
Pratiwi menutup matanya erat-erat. Ini tidak mungkin terjadi, aku hanya mimpi. Tapi saat membuka matanya, pemandangan sama yang dihadapinya. Pratiwi pun menangis, menunggu apa yang terjadi. Tak lama kemudian, dilihatnya Dini mulai sadar. Dini yang melihat Pratiwi pun sama kagetnya. Menyadari dirinya telanjang dan tidak berdaya, Dini hanya bisa mengeluarkan suara uh uh saja. Sama seperti Pratiwi. Mereka hanya berpandangan.
——————————————————–
Ray yang berjalan di hutan, mencari-cari Pratiwi. Dia berjalan ke sana ke mari. Tak lama dia pun sudah merasa lelah, tenaganya sudah habis untuk perjalanan ke pulau dan mencari Pratiwi. Dia pun beristirahat di bawah pohon besar. Pikirannya kalut. Ray menggosok-gosok kepalanya dan tiba-tiba BUK! Bagian belakang kepalanya terasa sakit sekali. Dan dia merasakan ada cairan keluar menuruni lehernya. Darah, lalu semua gelap.
——————————————————–
Menjelang malam, gubuk tersebut semakin gelap. Pratiwi dan Dini hanya saling berpandangan. Tubuh mereka masih tanpa tenaga. Mata mereka semakin terbiasa dengan kegelapan. Tak lama terlihat cahaya dari luar. Cahaya tersebut mendekati pintu gubuk tersebut. Mereka berteriak minta tolong hanya dengan uh uh uh saja. Saat pintu dibuka, mata mereka serasa dibutakan oleh cahaya lampu petromak.
Setelah terbiasa dengan cahaya, mereka melihat orang yang membawa lampu petromak tersebut. Astaga, ternyata dia adalah bapak tua tukang perahu yang mengantarkan mereka ke pulau tersebut. Mereka pun berteriak meminta tolong kepadanya. Lalu mereka menyadari bahwa tubuh mereka telanjang. Pratiwi dan Dini pun segera diam. Mereka merasa malu tubuh indah mereka terekspos kepada tukang perahu tersebut.
“Sebentar ya, neng,” kata pak tua tersebut. Lalu ia keluar dari gubuk tersebut. Tak lama dia kembali membawa 2 buah petromak. Dia meletakkan satu petromak di ujung atas dipan dan dua di masing-masing ujung lain dipan.
Lalu pak tua mendekati mereka. “Maaf ya, neng-neng. Bapak sudah tua, bapak tidak bisa menahan hasrat bapak melihat neng-neng yang cantik ini. Neng-neng mau kan bantu bapak?”
Kedua gadis itu berusaha menjerit, tapi hanya uh uh saja yang keluar dari mulut mereka. Tubuh mereka tidak bisa digerakkan sama sekali. Pak tua pun mengambil tempat di antara kedua gadis itu.
Pak tua itu pun melihat tubuh Pratiwi, mengamati dari rambut, turun ke matanya, bibirnya, leher. Berhenti sebentar di buah dadanya, melihat bulat dan ranumnya dada Pratiwi yang berukuran 34B itu, pak tua menelan ludah, lalu pandangannya dilanjutkan ke perut Pratiwi yang rata dan berhenti lagi di selangkangan. Pak tua menggeser paha Pratiwi sehingga tampaklah kemaluan Pratiwi. Pratiwi merasa malu sekali tubuhnya diperiksa oleh pak tua tersebut. Puas mengamati kemaluan Pratiwi yang berwarna pink itu, pak tua mengelus paha dalam Pratiwi dengan tangan kirinya. “Halusnya, tubuh neng paling bagus. Nanti bapak pasti bikin neng puas.”
Pandangan pak tua berganti ke Dini. Sambil masih terus mengelus paha dalam Pratiwi, dia mengamati Dini. Wajah cantik Dini diperhatikan dengan benar-benar. Mata Dini yang indah dan lehernya yang jenjang tidak lepas dari pengamatannya. Dini merasa jijik dengan pandangan pak tua tersebut. Pandangan pak tua pun berlanjut ke dada Dini yang berukuran 36B. Dengan penasaran diraihnya buah dada kanan Dini dan dipijat-pijatnya dengan lembut. Sambil terkadang dimainkan putingnya. Tangan kirinya masih terus mengelus paha dalam Pratiwi. Terkadang kemaluan Pratiwi pun tersentuh tangannya.
“Wah neng susunya besar sekali ya,” kata pak tua. Puas bermain dengan buah dada Dini, pak tua kembali memperhatikan tubuh Dini, perut, selangkangan. Pak tua menghentikan elusannya di paha Pratiwi dan menggeser paha Dini agar dia lebih leluasa melihat kemaluan Dini. Pak tua pun mendekatkan wajahnya ke kemaluan Dini dan menghirup baunya. “Wah wangi sekali neng,” kata pak tua seraya sambil tersenyum. Rupanya pak tua menggeser paha Dini cukup jauh sehingga vaginanya merekah dan menunjukkan isinya yang berwarna merah muda.
Pak tua mengelus paha dalam Pratiwi dan Dini yang menimbulkan rangsangan kepada kedua gadis itu. Terkadang disentuhnya kemaluan mereka. Ada perasaan seperti aliran listrik setiap kali tangan pak tua menyentuh kemaluan mereka. “Neng-neng gadis kota memang putih-putih, mulus. Bapak benar-benar beruntung kali ini.”
Pak tua membuka pakaiannya sehingga sekarang dia telanjang bulat di depan kedua gadis itu. Pak tua mendekati Dini dan mengulum bibirnya. Sementara tangannya bermain-main dengan buah dada Pratiwi dan Dini. Pak tua tak puas, dia berpindah mengulum bibir Pratiwi. Bergantian dikulumnya bibir Dini dan Pratiwi. Lalu dia berpindah ke tubuh Pratiwi. Diremasnya buah dada Pratiwi dan dikulumnya puting susu Pratiwi bergantian. Kadang dijilatnya. Pratiwi dapat merasakan kemaluan pak tua yang sudah tegak menggesek pahanya. Pratiwi pun lama kelamaan mulai menikmati apa yang dilakukan pak tua. Jilatan dan kuluman pak tua di putingnya meninggikan nafsunya. Nafasnya mulai tak teratur. Apalagi remasan pak tua yang beritme di buah dadanya semakin membuat pikirannya gelap. Pak tua mulai menjilati buah dada Pratiwi yang membuat Pratiwi semakin tinggi nafsunya.
Jilatannya kini diarahkan ke perut Pratiwi yang membuat Pratiwi kegelian dan tidak kuat menahan kenikmatan yang diterima tubuhnya. Jilatan demi jilatan membuat mata Pratiwi gelap. Pak tua pun turun dan mulai menjilati kemaluan Pratiwi. Bibir kemaluannya dibuka dengan menggunakan jari oleh pak tua dan mulailah dia menjilati vagina Pratiwi. Lidahnya diputar-putar di klitorisnya. Pratiwi merasa kemaluannya mulai basah akibat rangsangan tersebut. Dan tiba-tiba Pratiwi merasa tubuhnya mau meledak dan Pratiwi mendapatkan orgasme.
Pak tua seakan ingin Pratiwi menikmati orgasme yang diberikannya, kini dia berganti ke Dini. Dini yang merasa takut melihat apa yang dilakukan pak tua kepada Pratiwi menutup matanya. Pak tua kembali mengulum bibir Dini, memainkan lidahnya di dalam mulut Dini, sambil meremas-remas buah dada Dini yang besar. Dipilin-pilinnya puting susu Dini sambil tangan satunya mengelus perut Dini. Dini pun merasa seakan tubuhnya menikmati apa yang dilakukan pak tua. Tangan pak tua masih bermain dengan putingnya dan mulut pak tua masih mengulum bibirnya saat disadarinya tangan pak tua yang satu lagi bermain di daerah kewanitaannya. Diputar dan dipijatnya klitoris Dini. Getaran demi getaran nafsu mengalir ke kepala Dini. Kenikmatan dari permainan tangan pak tua di putingnya dan di klitorisnya membuat Dini tidak bisa berpikir jernih lagi.
Pak tua berhenti sebentar, merasakan kemaluan Dini sudah basah, dia pun turun dan mulai menjilati kemaluan Dini, sambil sesekali menusuk-nusuk kemaluan Dini. Dini yang sudah tidak kuat lagi, hampir mendapatkan orgasme. Tiba-tiba pak tua menempelkan bibirnya di bibir kemaluan Dini dan menyedot kuat-kuat. Dini semakin mendekati orgasme. Pak tua terus menjilati klitoris Dini dan memainkan jarinya di dalam vagina Dini. Tak lama kemudian pun Dini mendapatkan orgasmenya.
Pak tua berhenti sebentar. Duduk di ujung dipan dengan kemaluannya yang tegak berdiri. Dipuaskan dirinya melihat 2 orang gadis cantik yang sedang bergetar karena orgasme.
“Wah neng, barang bapak masih kurang keras. Neng-neng bantu kerasin ya?” Kata pak tua seraya mendekati wajah Pratiwi dan Dini. Diambilnya tangan Pratiwi dan Dini dan digosokkan tangan mereka di atas kemaluannya. Pak tua pun melenguh menahan kenikmatan gosokan tangan Pratiwi dan Dini. Pak tua pun mendekatkan kemaluannya ke wajah Dini, membuka mulut Dini dan memasukkan kemaluan ke mulut Dini. Dini merasakan kemaluan pak tua yang berlendir menggesek bagian dalam mulutnya. Dini yang tidak bisa apa-apa hanya bisa pasrah.
Setelah puas menggesekkan kemaluannya di dalam mulut Dini, pak tua mencabut kemaluannya dan membuka mulut Pratiwi dan memasukkan kemaluannya ke dalam mulut Pratiwi. Digesekkan kemaluannya di lidah Pratiwi. Kadang pak tua terlalu dalam memasukkan sehingga Pratiwi hampir saja muntah. Pratiwi pun juga hanya bisa pasrah. Baginya kemaluan pak tua mengeluarkan bau aneh, menjijikkan bagi Pratiwi.
Setelah puas, pak tua mencabut kemaluannya dari mulut Pratiwi dan beralih. Dia menduduki Dini dan meletakkan kemaluannya yang sudah keras dan tegak di antara buah dada Dini. Buah dada Dini ditekannya sehingga sekarang buah dada Dini yang besar menjepit kemaluannya. Digesekkannya buah dada Dini di kemaluannya, kadang kemaluannya yang digesekkan ke buah dada Dini. Dini merasa susah bernapas karena diduduki.
Tak lama kemudian, pak tua semakin mempercepat goyangannya dan crttt, kemaluan pak tua memuntahkan isinya. Sebagian terkena wajah Dini, sebagian berceceran di dada Dini. Pak tua, mengarahkan kemaluannya ke Pratiwi dan crttt crttt kemaluan pak tua memuntahkan sisa isinya ke tubuh Pratiwi. Dini dan Pratiwi pun merasa jijik dengan cairan pak tua yang berada di atas tubuh mereka.
Pak tua kemudian keluar dari gubuk dan tak lama kembali dan menutup pintu gubuk tersebut. “Tenang aja neng. Obat yang bapak kasih baru habis pengaruhnya sekitar 5 jam lagi. Kita masih bisa bermain selama itu.”
Pak tua kembali mendekatkan wajahnya ke vagina Pratiwi dan mulai menjilati di sana. Kali ini dia menghisap jarinya, membasahi dengan ludah dan mulai menusuk-nusuk vagina Pratiwi. Pratiwi yang merasa kegelian, merasa gairahnya kembali bangkit meskipun bercampur dengan rasa jijiknya.
Lalu pak tua menjilati vagina Dini sambil terus memainkan jarinya di vagina Pratiwi. Dini pun kembali naik gairahnya. Lama juga pak tua berganti-ganti menjilati dan memainkan jarinya di kemaluan Pratiwi dan Dini. Kemaluan kedua gadis itu sudah basah sekali. Pak tua berhenti dan memperlihatkan kemaluannya yg sudah tegak berdiri lagi.
“Yang mana ya yang akan bapak masukkan duluan?”
“Yang neng ini masih rapat, bapak suka sekali” seraya mengusap kemaluan Pratiwi.
“Kalau neng yang ini lebat sekali rambutnya, bikin bapak makin nafsu” seraya mengusap rambut kemaluan Dini.
“Kalau gitu, bapak ganti-gantian saja, bapak cobain 2-2nya sekaligus,” kata pak tua.
Diangkatnya Dini dan diletakkan di atas Pratiwi. Dibukanya kaki kedua gadis itu sehingga kini vagina Pratiwi dan Dini bertumpuk dan terbuka lebar. Lelehan air liur pak tua bercampur dengan cairan kenikmatan kedua gadis itu menetes dari pinggir vagina mereka. Di bawah pantat Pratiwi, pak tua menyelipkan sesuatu agar posisi vagina Pratiwi dan Dini lebih terangkat ke atas dan memudahkan pak tua memasukinya.
Pak tua pun mengambil posisi di depan vagina Pratiwi. Pratiwi dan Dini meskipun terangsang, tapi mereka masih menyadari apa yang pak tua ini hendak lakukan. Mereka hanya bisa berteriak uh-uh-uh. Pak tua menyeringai puas dan memegang kemaluannya, meludahinya agar licin dan siap memasuki vagina Pratiwi.
Tiba-tiba BRAKK! Tiba-tiba muncul sesosok tubuh di depan pintu gubuk yang langsung menyerang pak tua dengan batangan kayu besar. Pak tua yang tidak siap langsung roboh terkena pukulan batangan kayu besar di kepalanya. Sosok itu pun tidak mengenal kasihan, kakinya langsung menginjak kemaluan pak tua yang sedang tegak-tegaknya dan terdengar suara KRAK! Dilanjutkan dengan teriakan pak tua memegang selangkangannya sambil mengeluarkan busa dari mulutnya.
Ternyata sosok tubuh itu adalah Ray. “Dasar orang tua bangsat, ga tau malu!” Lalu diludahinya pak tua yang sudah tak sadarkan diri di lantai gubuk itu. Lalu dialihkannya pandangannya ke dipan. Kaget dilihatnya kedua gadis temannya berada dalam posisi memamerkan kemaluan mereka. Sesaat Ray merasa nafsu muncul dari dalam dirinya. Bagaimanapun yang ada di hadapannya adalah 2 orang gadis cantik yang tidak mengenakan pakaian dan memamerkan bagian kewanitaannya.
Pikiran itu dibuangnya dan dia membantu memindahkan tubuh Dini dari atas Pratiwi. Dia pun keluar, mencari sesuatu untuk menutupi tubuh kedua gadis itu. Tak lama di bagian belakang gubuk, Ray menemukan 2 buah kain sarung yang sudah lusuh dan tali rafia. Diambilnya dan ditutupinya tubuh telanjang kedua gadis itu. Dia pun mengikat tubuh pak tua di pohon di dekat gubuk tanpa sehelai benang pun. Kekesalannya pada pak tua masih berkobar, saat pak tua sedikit sadar, tanpa ragu-ragu Ray memberi bogem mentah di rusuk pak tua. Mulut pak tua pun kembali berbusa dan tak sadarkan diri lagi.
——————————————————–
Saat pengaruh obat itu sudah hilang, kedua gadis itu merasakan tenaga mereka pulih. Mereka bisa menggerakkan tubuh mereka lagi. Dengan tubuh hanya dibungkus sarung lusuh, mereka tertatih-tatih keluar dari gubuk dan menemukan Ray dan pak tua yang terikat di pohon. Pak tua sudah sadar dan masih sulit berbicara. Maklum Ray sempat menghabiskan waktu menunggu kedua gadis itu belum pulih dengan membogemi pak tua.
“Kalian lebih baik membersihkan tubuh dulu, di sana ada sungai kecil, airnya lumayan bersih. Biar gue yg di sini menjaga pak tua ini,” kata Ray sambil menunjuk ke arah timur. Sebelum kedua gadis itu pergi ke sungai, mereka sempat meludahi dulu wajah pak tua.
Kedua gadis itu membersihkan diri di sungai. Pratiwi berkata, “Untung ada si Ray datang di saat yang tepat. Kalau nggak bisa bahaya, kehormatan kita bisa diambil sama pak tua bangsat itu.”
“Iya, meskipun kita udah ga perawan lagi,” kata Dini sambil tertawa. Perlahan dia memegang kemaluannya, terbayang kejadian semalam.
Pratiwi dan Dini pun menggosok tubuh masing-masing. Membersihkan sisa-sisa pak tua di tubuh mereka. Terkadang Pratiwi dengan iseng memilin puting Dini dan Dini membalasnya dengan meremas buah dada Pratiwi. Andaikan Ray bisa melihat kedua gadis ini mandi, pastilah nafsunya meningkat seketika. 2 tubuh putih ranum yang indah. Masing-masing dengan buah dada bulat dan lekukan tubuh yang sempurna.
Selesai mandi, mereka kembali membungkus tubuh mereka dengan sarung lusuh yang sudah tipis itu. Bersamaan dengan sampainya mereka di gubuk tersebut, matahari pun sudah mulai terbit, sehingga Ray yang berada di depan mereka dapat melihat siluet tubuh indah kedua temannya yang ditutupi sarung.
Pak tua yang sudah sadar, tertawa meringis ketika melihat kedua gadis yang hendak diperkosanya semalam. Amarah kedua gadis ini langsung naik ke ubun-ubun dan Dini tanpa permisi langsung memberikan uppercut di dagu pak tua, disambung dengan Pratiwi yang menghajar hidung pak tua hingga patah. Pukulan bertubi-tubi dihujamkan kepada tubuh ringkih pak tua oleh kedua gadis itu.
Setelah puas, mereka mengajak Ray kembali ke cottage tanpa melepaskan pak tua dari ikatan di pohon. “Sebentar, gue masih kesel sama orang tua ga tau diri ini,” kata Pratiwi yang langsung menghampiri pak tua dan menendang kemaluan pak tua. Mungkin karena luka semalam belum sembuh benar, pak tua kembali pingsan dan mulutnya mengeluarkan busa lagi. Ray langsung menghampiri dan memeriksa pak tua. “Belum mati, untung saja,” bisiknya lega.
Di cottage, Pratiwi dan Dini langsung mengganti sarung lusuh itu dengan pakaian mereka. Kali ini Pratiwi memakai baju bali yang cukup longgar dan hotpants, sedangkan Dini memakai baju kaos ketat berwarna kuning dan hotpants. Buah dadanya semakin terlihat besar dan putingnya tercetak di kaos tersebut, karena dia memakai bra yang tipis.
“Bagaimana kita pulang, Ray? Tukang perahu sudah tidak ada lagi, sedangkan perbekalan kita hanya cukup untuk seminggu,” kata Dini.
“Tenang, setiap 4 hari sekali ada orang yang datang ke pulau ini untuk membersihkan cottage ini. Kita bisa minta pertolongannya nanti. Kalau tidak salah, orang itu akan datang 2 hari lagi. Lebih baik kalian makan dahulu, daripada kalian sakit.”
Kedua gadis itu menurut, Pratiwi beranjak dari meja dan mengambil bekal makanan mereka.
“Ini Ray,” kata Pratiwi seraya memberikan makanan sambil menunduk. Ray dengan jelas bisa melihat buah dada gadis itu terpampang jelas, karena baju bali yang longgar. Kemaluan Ray langsung mengeras. Apalagi dengan posisi menunduk, buah dada Pratiwi menggantung dan terlihat lebih besar. Dilihatnya Dini sedang menikmati makanan, puting susunya yang tercetak di kaosnya menambah keras kemaluan Ray.
Sorenya, saat kedua gadis itu berjalan-jalan di luar cottage, Ray melamun. Lamunannya melayang-layang dan akhirnya dia mengingat tubuh kedua gadis itu. Posisi tubuh mereka saat dia menemukan mereka di gubuk itu, siluet tubuh mereka yang terbungkus sarung, buah dada Pratiwi dan puting susu Dini yang tercetak jelas. Kelamaan kemaluan Ray makin keras.
“Daripada pusing, lebih baik gue salurin aja,” kata Ray menuju kamar mandi. Dilihatnya sekeliling, tidak tampak kedua gadis itu. Perlahan diturunkan celananya dan Ray mulai memuaskan diri sendiri sambil membayangkan kedua gadis itu.
“Nah ya, lagi apa lo!” Tiba-tiba terdengar kedua gadis itu berteriak. Ray yang masih memegang kemaluannya yang tegak kaget dan salah tingkah.
“Sini Ray, daripada elo sendirian, mending kita bantu. Sebagai tanda terima kasih kita juga,” kata Dini sambil langsung memegang kemaluan Ray dan memasukkan ke mulutnya. Pratiwi menarik tangan Ray dan meletakkannya di buah dadanya sambil mencium bibirnya. Ray langsung menikmati hal tersebut. Dikulumnya bibir Pratiwi dan dimainkan lidahnya di dalam mulut Pratiwi. Tangannya terus bergerilya di dada Pratiwi. Dini langsung mengulum kemaluan Ray.
Cerita Populer
-
Nama ku vivi (nama samaran), aq 23 tahun, chinese, 165 cm, 52 kg, perawakkanku langsing dengan kulit putih rambut pirang sebahu, aq terbilan...
-
Cerita Seks yang dilakukan istriku ini adalah cerita yang terjadi ketika terjadi pesta HUT RI di desaku. Aku tak menyangka istriku benar be...
-
Cerita Seks Aku seorang wanita berumur 30 tahun ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat...
-
Suatu hari adikku dan suaminya datang. Dia berbaik-baik mengharapkan aku menjaga rumah dan anak-anaknya. Mereka bekerja di perkebunan besar ...
-
Seks Bugil Waktu itu gue udah married & bekerja di suatu perusahaan swasta di Jkt, kemudian suatu hari ada cewe cantik & imut dari ...

