Tampilkan postingan dengan label Gairah Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gairah Sex. Tampilkan semua postingan

Gairah Membara Penyanyi Seksi

Malam itu aku dinner dengan clientku di sebuah cafe. Sebuah band tampil menghibur pengunjung cafe dengan musik jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan cukup baik. Aku memperhatikan sang penyanyi. Seorang gadis berusia kira-kira 26 tahun. Suaranya memang sangat jazzy. Gadis ini wajahnya tidak terlalu cantik. Tingginya kurang lebih 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya sekitar 36B. Kelebihannya adalah lesung pipitnya. Senyumnya manis dan matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.

“Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bersama band akan menemani anda semua. Jika ada yang ingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau jika ingin request lagu.. silakan”.

Penyanyi yang ternyata bernama Felicia itu mulai menyapa pengunjung Cafe. Aku hanya tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan client menyita perhatianku. Sampai kemudian telingaku menangkap perubahan cara bermain dari sang keyboardist. Aku melihat ke arah band tersebut dan melihat Felicia ternyata bermain keyboard juga.

Felicia bermain solo keyboard sambil menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang sangat sederhana. Aku menikmati semua jenis musik dan berusaha mengerti semua jenis musik. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya. Felicia ternyata bermain sangat aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafe yang mampu bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba aku menjadi sangat tertarik dengan Felicia. Aku menuliskan request laguku dan memberikannya melalui pelayan cafe tersebut.

“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menuliskan nomor HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lama kemudian aku mendengar suara Felicia.
“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”

Bahasa tubuh Felicia menunjukkan bahwa dia ingin tahu dimana aku duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Jadi, dengan jelas Felicia bisa melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya. Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku pun menatapnya. Untuk menggodanya, aku mengedipkan mataku. Aku kembali berbicara dengan clientku. Tak lama kudengar suara Felicia menghilang dan berganti dengan suara penyanyi pria. Kulihat sekilas Felicia tidak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

“Felicia.” tampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.
“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”
“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa ingin tahu HP-ku?”
“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku terus terang. Kudengar tawa ringan dari Felicia.
“Rayuan ala Boy, nih?”
“Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang pantas buatmu yang memang sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapa? Aku antar pulang ya?”
“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau dengan temanmu?”
“Oh.. dia clientku. Sebentar lagi dia pulang kok. Aku hanya mengantarnya sampai parkir mobil. Bagaimana?”
“Okay.. Aku tunggu ya.”
“Okay.. See you soon, sexy..”

Aku melanjutkan sebentar percakapan dengan client dan kemudian mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Setelah clientku pulang aku kembali ke cafe. Waktu masih menunjukkan pukul 23.30. Masih 30 menit lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea. 30 menit aku habiskan dengan memandang Felicia yang menyanyi. Mataku terus menatap matanya sambil sesekali aku tersenyum. Kulihat Felicia dengan percaya diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik hingga membuatku ingin mencumbunya.

Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, aku sengaja menyalakan AC mobil cukup besar sehingga suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia tampak menggigil.

“Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Felicia sambil meraih tombol AC untuk menaikkan suhu. Tanganku segera menahan tangannya. Kesempatan untuk memegang tangannya.
“Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku baru bisa. Kalau kamu naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.

Aku memang ingin membuat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia bisa mengerti. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia diam saja.

“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tidak menolak.
“Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz juga ya?”
“Hampir semua musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku melihat penyanyi jazz wanita yang bisa bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”
“Haha.. Ini malam pertama aku main keyboard sambil menyanyi.”
“Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak memakai scale altered dominant ya?” aku kemudian memainkan tangan kiriku di tangannya seolah-olah aku bermain piano.
“What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu bisa main piano yah?” Felicia tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.
“Yah, dulu main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah Felicia.
“Tinggal dengan siapa?” tanyaku ketika kami masuk ke rumahnya. Ya, aku menerima ajakannya untuk masuk sebentar walaupun ini sudah hampir jam 1 pagi.
“Aku kontrak rumah ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”

Felicia masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Felicia memang memancingku? Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri hanya dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada sebuah kaos. Kukira Felicia akan berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai dia tersenyum.

“Maaf.. Aku mau tanya kamar mandi dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru aku yang gugup melihat pemandangan indah di depanku.
“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk aja.”

Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku melihat ada sebuah keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi malah memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja juga permainanku. Tapi aku yakin Felicia akan tertarik. Beberapa kali aku membuat kesalahan yang kusengaja. Aku ingin melihat reaksi Felicia.

“Salah tuh mainnya.” komentar Felicia. Dia ikut bernyanyi.
“Ajarin dong..” kataku.

Dengan segera Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Felicia berdiri membelakangiku. Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

“Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.
“Oh ya..” aku berdiri.

Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!

“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.

Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau marah ya aku terima saja. Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. Ternyata Felicia malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!

Felicia membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Felicia juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.

“Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.
“Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku dan meremasnya.

Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Felicia duduk, aku hanya bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak bisa kuraih. Felicia tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku!

Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali. Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.

Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.

Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sementara bibirku melumat makin ganas bibir Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan pinggang, punggung dan bahu Felicia. Dari bahasa tubuhnya, Felicia sangat menikmati pijatanku.

“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.

Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku. Aku merasakan payudara Felicia makin tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.
“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.
“Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.
“Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan akhirnya kuat. Tak lama kemudian Felicia kemudian membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.

“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku mulai beraksi.

Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Felicia dengan terampil mengikuti tempo kocokanku. Kamu bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

“Agh.. Agh..” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.
“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.

Rupanya Felicia adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat. Beberapa saat kemudian aku berhenti. Mengatur nafas dan mengubah posisi kami. Felicia menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau!” teriak Felicia. Aku tertawa.
“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya geli.

Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.

“Aku mau nyampe, Felicia..”
“Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.
“Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Felicia berteriak makin keras.
“Yes.. Aku juga hampir sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”

Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

“Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Felicia makin bergetar hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.

Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan kemudian perutnya. Aku membuatnya kegelian ketika hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.

“Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”

Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.

Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.

“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Felicia. Tadi malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.
“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.
“Hi Gladys..” sapaku.

Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan celana pendek Felicia dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku harus pulang.

Kenakalan Anak Kost

Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satusatunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.

Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.

Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.
“Met pagi..” kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya. Kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.
“Kok semalam sampai larut sih..?” tanyaku.
“Kok tak juga diantar seperti biasanya..?” tanyaku lagi sebelum dia menjawab.
“Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.
“Semalam nggak terkejut ya melihatku..?” aku mencoba menyelidiki.
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.

Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku.
Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.
“Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!” desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.
“Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohhh.. aku mau keluar.. ohh..” desahku lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.
“Oohhh Sari… Uhh Sariii.., Saarrii… Nikmat sekali..!” desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahhh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.
“Ehh.., ehhh..!” desis Sari menikmati cumbuanku.
“Ehh.., ehhh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.

Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.

Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya.
Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.
“Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!” pintanya.

Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.

Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya. Semoga pengalamanku ini berguna buat sobat muda.span class="fullpost">

Pengalaman Pertamaku di Oral

Perkenankan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya Eko sekarang usia 38 tahun. Saya ingin menceritakan pengalaman pertama dengan wanita yang usianya lebih tua. Hal ini menarik untuk diungkapkan karena saya menganggap bahwa peristiwa tersebut yang membuat saya sangat menyukai bercumbu dengan wanita yang usianya lebih tua walaupun dengan wanita yang usianya lebih muda juga saya dapat menikmatinya.

Mbak Ami, seorang wanita yang pada saat itu usianya sekitar 19 tahun, yang memperkenalkan saya bagaimana mengenal organ wanita berikut dengan cara pengolahannya sehingga mendapatkan kepuasan.

Pengalaman ini dimulai ketika Mbak Ami menginap untuk beberapa hari di rumah saya karena dia akan mengikuti ujian masuk pada sebuah Akademi Perawat di kota Yogya. Mbak Ami berasal dari kota Cilacap dan teman dari sepupu saya. Karena tidak ada saudara di Yogya maka oleh sepupu saya diminta untuk menginap di rumah.

Pada hari-hari pertama keberadaan Mbak Ami di rumah, saya merasa canggung untuk berinteraksi dengannya. Hanya sekali-sekali saya berbicara dengan Mbak Ami. Setelah beberapa hari, baru saya merasa mulai ada kedekatan karena saya sering ngobrol dengan Mbak Ami. Hubungan saya dengan Mbak Ami menjadi semakin dekat dimana diawali pada saat saya disuruh oleh orang tua untuk membeli makan malam dan saya mulai berani untuk mengajak Mbak Ami pergi bersama karena saya menganggap dia lebih tahu menu makanan untuk makan malam. Dengan menggunakan vespa butut, kami berboncengan dan sepanjang perjalanan kami bercerita berbagai hal. Selama perjalanan beberapa kali saya merasakan buah dada Mbak Ami menyentuh punggung saya dan saya yang pada saat itu masih berusia 16 tahun benar-benar menikmati sentuhan yang tidak sengaja itu.

Sampai pada suatu saat, kedua orang tua saya harus pergi keluar kota untuk beberapa hari dan meminta saya untuk menjaga rumah. Mbak Ami sendiri diminta oleh orang tua saya untuk menemani dan dikarenakan masih menunggu hasil test saringan masuk Akademi Perawat maka Mbak Ami menyetujui untuk menemani saya. Sehingga hanya berdua saja di rumah yaitu Mbak Ami dan saya.

Oh, iya saya belum mendeskripsikan sosok tubuh dari Mbak Ami.

Mbak Ami memiliki postur tubuh yang baik dimana tinggi 160 cm dengan berat badan kira-kira 50 kg. Rambut hitam lebat sebahu dengan hidung yang bangir serta matanya yang bagus (apalagi kalau sedang melirik.., seksi sekali). Mbak Ami selalu menggunakan celana jeans dengan ukuran 28 dan memakai Bra ukuran 34 C (itupun saya tahu setelah tanya dengan Mbak Ami).

Setelah makan malam, seperti biasa saya menonton acara televisi sedangkan Mbak Ami baru bergabung setelah selesai membereskan meja makan.

"Ko.. Acaranya bagus nggak?" tanya Mbak Ami.

"Lagi acara lagu-lagu" balas saya.

"Mau ikutan nonton ini atau mau cari acara yang lain?" saya bertanya balik kepada Mbak Ami.

"Sudah.. Biar ini aja" sahut Mbak Ami sambil duduk disamping saya.

Karena agak membungkukkan badannya, saya sempat mencuri pandang ke arah dada Mbak Ami yang pada saat itu memakai daster dengan belahan dada agak rendah. Kemudian kami menonton bersama sambil duduk berdampingan dan saya sekali-sekali mencoba untuk melihat ke bagian dada, siapa tahu saya bisa melihat lebih jelas isi bagian atasdari balik daster Mbak Ami.

Sambil menonton TV, kamipun bercerita dan dengan perasaan ragu, saya coba untuk menggenggam tangan Mbak Ami dan ternyata tidak ada penolakan bahkan Mbak Ami kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu saya. Terus terang pada saat itu, saya merasa kaget karena apa yang saya terima ternyata jauh dari dugaan saya.

Dengan keyakinan penuh, saya tarik kepalanya dan saya mulai cium bibirnya. Mbak Ami membalas ciuman saya dan bibir kamipun saling mengecup, untuk beberapa menit berciuman dilanjutkan dengan saling bertautnya lidah kami. Sambil berciuman dan saling menggigit, tangan sayapun mencoba untuk menyusup ke balik dasternya.., meraba dan meremas-remas buah dadanya. Kemudian ciuman saya alihkan dari bibir turun ke dadanya dan ooh.. Putingnya sudah mengeras dan terus saya isap putingnya bergantian yang kiri dan kanan. Mbak Ami pun tidak mau ketinggalan, tangannya telah meraih penis saya yang sudah mengeras.. Dan mengusapnya dari luar.

"Ko.. Buka celananya, Mbak pingin pegang penis kamu", pinta Mbak Ami.

Dengan terpaksa, saya berhenti mengisap puting Mbak Ami dan berdiri untuk melepaskan celana. Begitu terlepas, Mbak Ami langsung menggengam dan mengocok penis saya..

"Ach.. Mbak enak sekali.. Terus Mbak" sambil tangan saya mulai meremas buah dadanya kembali.

"Ach.. Oh.." Saya terus melenguh, begitupun dengan Mbak Ami..

Aksi saling menggemam dan meremas berlangsung kira-kira 20 menitan dan saya mencoba untuk membuka celana dalam Mbak Ami.

"Mbak.. Saya buka ya.. " pinta saya. Mbak Ami hanya mengangguk dan sayapun menurunkan celana dalamnya, Mbak Ami membantu dengan mengangkat pinggulnya agar celana dalamnya mudah dilepaskan. Begitu terlepas, terlihatlah vagina dengan rambutnya yang tidak terlalu lebat.

Tangan sayapun langsung mengelus bagian luar vaginanya dan Mbak Ami pun melebarkan kedua pahanya sehingga tangan saya lebih leluasa mengusap-usap bagian luarnya.

"Ko.. Kamu jilatin yach", kata Mbak Ami sambil menarik turun kepalaku ke selangkangannya.

Saya bingung, "Mbak, saya belum pernah" kata saya.

"Sudah nggak apa-apa, enak khok.., coba dech", sahut Mbak Ami sabil merubah posisi badannya sehingga kami dalam posisi 69.

Saya pun menurut dan mulai menjilati.. Asin rasanya.. Tetapi saya menikmatinya dan terus menjilat, kadang-kadang menggigit ringan bibir vaginanya. Selain menjilati dan menggigit, lidah saya juga saya masukkan ke dalam lubang vaginanya.

"Ach.. Terus Ko.., terus.." begitu Mbak Ami mendesah..

Sayapun terus melakukan aktivitas itu dan Mbak Ami semakin semangat mengocok dan meremas penis saya. Karena hal ini baru bagi saya, maka setelah beberapa menit, penis saya mulai berkedut..,

"Mbak.. sudah mau keluar nich", kata saya dan Mbak Ami semakin kencang mengocoknya dan sayapun semakin cepat menjilati vagina Mbak Ami.. Dan.. "Ach.. Oh.. Mbak, mau keluar nich", saya mengerang nikmat dan tanpa menghentikan kocokannya, Mbak Ami langsung mengulum dan menyedot penis saya dan.. Keluarlah air mani saya, Mbak Ami juga sempat menelan sedikit (katanya). Kemudian Mbak Ami mengambil celana dalamnya dalam me-lap penis saya sampai habis sisa-sisa air mani saya.

Setelah kejadian malam itu, kamipun melakukannya sekali lagi di kamar Mbak Ami karena saya tidak bisa tidur dan selalau terbayang apa yang baru diajarkan oleh Mbak Ami.

"Mbak, saya nggak bisa tidur, inget terus yang tadi tuch", kata saya kepada Mbak Ami.

"Sini Ko.. Tidur sebelah Mbak aja, kata Mbak Ami sambil menggeser badannya agar saya bisa tidur di sebelah Mbak Ami.

Sayapun tiduran disampingnya dan langsung kami berciuman lagi. Seperti sudah paham apa yang kami mau, tangan saya dan Mbak Ami langsung menuju kesasaran utama dan dalam waktu singkat kami sudah sama-sama bugil.

"Mbak, saya ingin nyoba masukkin" kata saya.

"Saya masih perawan lho", jawab Mbak Ami sambil terus meremas dan mengocok penis saya.

Karena saya sudah benar-benar terangsang, saya terus mengusap dan mencoba untuk memasukkan penis saya ke vaginannya. Setelah beberapa kali saya mencoba untuk memasukkan penis saya ke lubang vagina Mbak Ami, ternyata sulit juga.

"Ich.. Susah banget, khok meleset terus" kata saya kepada Mbak Ami.

"Khan Mbak sudah bilang, kalau aku masih perawan", kata Mbak Ami

"Selama ini paling hanya jarinya pacar Mbak aja yang masuk kesitu, dia nggak mau kalau penisnya dimasukin" kata Mbak Ami lagi.

Karena penasaran dan sayapun belum pernah melakukan hal itu, maka saya coba lagi untuk memasukkan penis saya ke lubang vagina Mbak Ami. Pada akhirnya, kepala penis saya berhasil masuk tetapi kemudian sambil meringis Mbak Ami kemudian bilang,

"Ko.. Sakit sekali".

"Kamu yakin mau masukin penisnya" kata Mbak Ami lagi..

"Ntar kalau keluar maninya di dalam gimana?" lanjut Mbak Ami melemparkan pertanyaan kepada saya.

Jadi dengan terpaksa saya hentikan sementara aktivias sedang saya lakukan dengan posisi kepala penis saya yang sudah masuk. Kemudian saya jadi berpikir lagi dan karena memang belum berpengalaman dalam hal ini hati saya jadi ciut juga. Saya berpikir jangan-jangan malah nanti Mbak Ami jadi hamil.

Akhirnya saya tarik lagi penis saya dan..

"Dijilatin aja yach.., nggak usah dimasukin.. " kata Mbak Ami lagi,

Akhirnya saya hanya menjilati sambil memasukkan jari saya ke dalam lubang vaginanya Mbak Ami.

Och.. Och.. Mbak Ami mendesah terus sebagai tanda Mbak Ami menikmati jari saya yang masuk ke lubang vaginanya. Setelah beberapa menit saya mengolah vaginanya, Mbak Ami melenguh panjang dengan mengangkat sedikit pinggulnya dan ke dua paha nya menjepit kepala saya kemudian dalam hitungan beberapa detik mulut serta muka saya sudah kebanjiran oleh cairan yang keluar dari vagina Mbak Ami.

"Ko.. Enak sekalii.. Och.. ", demikian Mbak Ami melenguh dan sayapun kemudian terus menjilati cairan yang ada disekitar vagina Mbak Ami.

"Enak Ko", tanya Mbak Ami.

"He.. Eh", jawab saya sambil melap muka dengan menggunakan baju daster Mbak Ami.

"Tapi penisku khok nggak diapa-apain sich sama Mbak", kata saya kepada Mbak Ami.

"Ich.. Protes.. Mau ya, tapi besok ajalah sekarang kita tidur dulu, aku capek dan sudah malam", sahut Mbak Ami.

"Lagian khan Bapak sama Ibumu besok belum pulang, jadi besok kita bisa terusin", lanjut Mbak Ami.

Selesai itu, sayapun tertidur karena rasa lelah yang sangat disamping Mbak Ami dan keesokan harinya kami melakukan beberapa kali lagi oral seks yang kami lakukan di kamar, kamar mandi sambil mandi bersama, dapur dan berbagai tempat di dalam rumah karena kami hanya berdua di rumah.

Setelah kedua orang tua saya kembali, kami sempat juga melakukan oral seks pada malam hari baik dikamar saya ataupun di kamarnya Mbak Ami dan baru berakhir ketika Mbak Ami harus masuk asrama karena test masuk akademi perawatnya diterima. Sampai dengan saat ini saya tidak mengetahui keberadaan Mbak Ami padahal saya ingin sekali bertemu dengannya untuk mengulang hal itu dan mungkin dapat berlanjut sampai kepada persetubuhan yang belum pernah kesampaian untuk menghapus rasa penasaran saya.

Demikian, pengalaman pertama saya dalam mengenal organ wanita yang selalu menjadi sasaran kaum pria.

Misteri Lubang

"Apa yang sedang kauintip melalui lubang itu, Valita Lardis?" tanya Yosely Montana kepada temannya yang sedang asyik mengintip sesuatu melalui sebuah lubang pada dinding kamarnya. Lubang itu memang suudah ada sejak mereka kos di kamar ini enam bulan lalu. Kamar di sebelah kamar mereka adalah kamar kosong yang dikunci dan tidak pernah ditempati sejak mereka pindah ke sini.

"Ada dua orang yang berhubungan seks di kamar sebelah, Yosely,"
"Benarkah? Coba aku lihat!"

Valita mundur dan sekarang giliran Yosely yang mengintip pemandangan di kamar sebelah melalui lubang kecil itu. Meskipun lubang itu kecil, tetapi dia dapat melihat pemandangan yang ada di seluruh kamar itu. Tampaklah pemandangan mengesankan. Si pria yang berkulit agak hitam sedang menusuk liang vagina teman tidurnya yang kelihatannya berkulit agak putih. Si wanita terus mengerang-ngerang dengan histeris. Si pria terus menusuk-nusuk lubang vagina dan lubang anus silih berganti. Wanita itu sesekali memainkan puting susu si pria. Karena merasa terangsang semakin dalam, si pria pun membalikkan badan si wanita dan mempercepat gerakan memompa yang tadi.

"Aarghk..!!" sesekali terdengar jeritan si wanita.
"Teruskah, Sayang! Lebih cepat lagi! OH my God.."
"Uh.. Uh..! Uh..!" si pria berkali-kali melenguh berusaha mengatur napas dan mempertahankan agar dia tidak mencapai orgasme dalam waktu singkat. Dia mau membuat si wanita mencapai orgasme beberapa kali baru dia sendiri rela melepaskan sperma ke dalam liang vagina si wanita. Harapannya tercapai sebab beberapa saat kemudian, tubuh si wanita menegang dan si pria merasakan lubang vagina si wanita menarik penisnya lebih dalam selama beberapa kali. Akhirnya, pertahanan si pria pun runtuh.

"Oh my God.." kata si pria. "Spermaku keluar.. Aarghkk..!!" terdengar erangan kenikmatan yang tiada tara.

Begitu permainan di kamar sebelah selesai, Yosely pun membalikkan badannya. Dia tersentak kaget mendapati Valita yang telanjang bulat. Dengan beberapa erangan yang penuh kenikmatan, Valita menusuk-nusuk vaginanya dengan botol parfum yang terbuat dengan plastik. Dia melapisi kondom ke botol parfum itu. Tampaklah botol parfum itu keluar masuk vaginanya sendiri. Yosely menggeleng-gelengkan kepalanya.

Valita memang wanita yang bernafsu besar. Yosely sendiri tidak habis pikir mengapa Valita bisa bekerja di sebuah apotik. Mengapa dia tidak menjadi wanita penghibur saja?

"Aahh..!! Bantu aku meneruskan permainan ini, Yosely. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Bantu aku mencapai orgasme. Oh.." jeritan Valita melengking tinggi.

Yosely melakukan gerakan maju mundur dengan botol parfum. Sudah 10 menit berlalu tetapi Valita belum mencapai puncak kenikmatan. Yosely terus melakukan gerakan maju mundur menusuk-nusuk liang vagina temannya. Beberapa saat-saat terakhir, tampaklah setetes cairan keluar dari liang vagina Valita. Tubuh Valita pun menegang menikmati setiap detik orgasme yang menderanya.

"Oh.. Tidak..! Nikmatnya bukan main, Yosely,"
"Kau memang wanita genit, Valita. Lihat sedikit pemandangan saja sudah terangsang. Setiap kali kau terangsang kau pasti melampiaskannya melalui masturbasi. Untunglah kau tidak menjadikan aku sebagai sasaranmu,"
"Ayo kita lihat pemandangan di kamar sebelah! Mungkin mereka belum puas dan mereka meneruskan permainan mereka ke babak kedua,"

Yosely pun merasa penasaran juga karena sejak dia melihat dari tahap permulaan sampai tahap mencapai puncak kenikmatan, dia belum melihat wajah kedua orang itu walau hanya sekali. Dia sendiri heran mengapa dia tidak bisa melihat wajah kedua orang itu padahal melalui lubang itu dia bisa melihat seluruh isi kamar sebelah. Dia pun menempelkan bola matanya ke lubang itu. Namun, kedua orang itu sudah menghilang. Yosely terperanjat.

"Mereka menghilang, Valita. Keduanya menghilang entah ke mana. Mereka berpakaian dan merapikan tempat tidur dalam waktu yang begitu cepat. Coba kau lihat! Tempat tidur itu sepertinya belum pernah ditiduri dan sepertinya tidak pernah ada orang yang berhubungan seks di atas tempat tidur itu. Tempat tidurnya rapi sekali," kata Yosely dengan tatapan penuh keheranan.
"Kau pikir mereka adalah orang-orang yang lamban sepertimu? Kau mandi, berdandan dan berpakaian saja butuh waktu satu jam. Mungkin mereka adalah sepasang kekasih gelap. Karena mereka berselingkuh, mereka tidak boleh berlama-lama di sini. Nanti orang lain akan menangkap basah mereka. Sudahlah! Ayo tidur! Besok mungkin akan melihat pemandangan yang sama lagi.." kata Valita sambil tersenyum-senyum penuh maksud.

Yosely pun tidur begitu lampu kamar sudah dimatikan. Dalam hatinya dia berpikir semoga apa yang dikatakan oleh Valita tadi benar. Kini dia mulai merasakan sesuatu yang aneh, yang membuatnya takut, sesuatu yang mengancam. Ya Tuhan! Apa yang telah terjadi sebenarnya?

Kejadian tadi sepertinya adalah kejadian yang wajar. Namun, jauh di lubuk hatinya Yosely tahu ada sesuatu yang aneh dari permainan seks tadi. Dia belum bisa menyebutkan yang mana keanehan itu.


Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Cuaca di luar sangat mendung. Yosely yang bekerja sebagai pegawai kantor sangat lelah sekali karena seharian suntuk dia sudah berhadapan dengan lembaran-lembaran kertas dan laporan-laporan yang membuat matanya sakit. Kepalanya terasa sakit. Dia membaringkan badannya di atas tempat tidur. Sementara itu, Valita sedang asyik mengintip sesuatu yang berada di kamar sebelah. Pasti adalah orang yang berhubungan seks lagi. Dasar wanita genit!

Yosely menimbang-nimbang. Dia sudah tinggal di sini selama enam bulan. Sejak kapan lubang itu ada ya? Dia ingat sewaktu pertama kali pindah ke sini lubang itu tidak ada. Dia menerka-nerka dan akhirnya dia teringat kembali. Lubang itu tercipta sewaktu dia menancapkan paku di dindingnya guna menggantung gambar di sana. Tetapi, gambar itu sekarang sudah rusak dan pakunya pun sudah dicabut. Yang tersisa hanyalah lubang itu.

"Aneh! Mengapa setiap gerakan yang mereka lakukan selalu sama dengan gerakan pada malam-malam sebelumnya ya? Apa mereka tidak bosan terus melakukan gerakan yang sama? Ini sudah kelima kali aku selalu menyaksikan gerakan yang sama. Aku juga tidak pernah melihat wajah kedua orang itu. Apa mereka adalah orang yang sama dengan orang yang berhubungan seks di kamar itu pada malam-malam sebelumnya?" Tiba-tiba Valita menyeletuk.
Yosely spontan terbangun, "Coba aku lihat!"

Sewaktu Yosely melihat, permainan itu sudah sampai setengah. Si pria mulai menjilati vagina si wanita. Gerakan lidahnya sungguh lincah sampai-sampai si wanita menggelinjang di tempat tidur. Beberapa kali dia meremas-remas penis dan testis si pria. Dia juga mengulum-ngulum penis yang kokoh itu dengan sekuat tenaga. Kenikmatan yang dirasakan si pria membuatnya semakin bersemangat. Dia terus menjilati vagina si wanita. Bahkan, sesekali dia berhasil memasukkan lidahnya ke dalam lubang vagina si wanita. Tak lama kemudian akhirnya si wanita mencapai puncak kenikmatan disertai dengan jeritan orgasmenya yang melengking tinggi.

Permainan jilat-menjilat pun dilanjutkan dengan gerakan memompa. Dengan sekejap, si pria berhasil menancapkan penisnya ke dalam vagina teman tidurnya.

"Yang kencang, Sayang,"
"Pasti. Aku sudah tidak tahan lagi,"

Si pria pun menempelkan tubuhnya ke tubuh si wanita. Dengan demikian, puting susunya dan dadanya yang yang berbulu pun menempel dengan kedua payudara di wanita. Kedua gunung kembar itu sungguh menantang. Dia memainkan lidahnya terlebih dahulu di atas gunung kembar itu sebelum dia memulai gerakan menusuk. Si wanita mengerang-erang halus.

Setelah selesai menjilat payudara si wanita, gerakan tusuk-menusuk pun dimulai. Gerakan itu sungguh membangkitkan gairah. Gerakan penis yang membelai otot-otot vagina dan gesekan antara gunung kembar si wanita dengan dada si pria yang berbulu sungguh menggairahkan. Lagi-lagi mereka mengulang-ngulang gerakan yang sama dengan malam-malam sebelumnya.

Yosely sungguh penasaran. Dia ingin sekali melihat wajah mereka. Di sisi lain kamar itu, Valita berdiri menegang dengan tubuhnya yang telanjang. Dia sudah tidak bisa membendung gairahnya yang menggebu-gebu. Dia memasukkan botol parfum yang sudah berlapis kondom ke dalam vaginanya. Dia juga melakukan gerakan maju mundur disertai dengan desahan napasnya yang sarat akan nada kenikmatan.

Yosely terus menatap pemandangan di kamar sebelah tanpa henti. Tanpa sadar dia sendiri juga menggosok-gosok liang kemaluannya dengan tangannya sendiri. Di tengah-tengah kenikmatannya, tiba-tiba dia tersentak kaget. Dia melihat kedua orang di kamar sebelah sedang tidur sambil menempelkan kedua punggung mereka. Namun, penis dan vagina yang ada di bawah tetap bersatu. Masih tampak gerakan tubuh si pria yang diiringi dengan gerakan penis yang keluar masuk dari vagina si wanita. Gerakan itu tidak mungkin bisa dilakukan. Itu sangat aneh!

Yosely membalikkan badannya. Dia melihat Valita sudah tergeletak lemas di atas tempat tidur.

"Apakah mereka sudah selesai? Aku sangat lelah karena aku sudah orgasme tiga kali berturut-turut,"

Mendengar perkataan Valita, Yosely merasa lebih aneh lagi. Sudah setengah jam berlalu. Mengapa mereka berdua belum mencapai orgasme walau hanya sekali? Tidak! Ini tidak mungkin..

Yosely kembali menempelkan bola matanya ke lubang itu. Adegan tadi sudah berubah. Sekarang si wanita membungkuk di atas tempat tidur. Si pria pun menusuk-nusuk si wanita dari belakang. Tusukan itu sangat cepat. Kelihatannya tusukan itu sangat nikmat.

"Uh..!Uh.." terdengar erangan si pria walau hanya samar-samar.
"Nikmat sekali, Sayang! Teruskan.. Teruskan.. Lebih dalam lagi," kata si wanita di antara desahan napasnya yang tersengal-sengal.

Setelah itu, dia tiba-tiba saja mengangkat kepalanya dan menatap tajam-tajam ke arah lubang dimana Yosely mengintip. Wajah wanita itu sangat mengerikan. Dia tidak memiliki bagian bola mata yang berwarna hitam. Seluruh bola matanya berwarna putih pucat. Sepasang bola mata itu terus menatap ke arah Yosely dengan tatapan yang menyimpan beribu kebencian yang dalam. Yosely mulai gemetaran.

"Aku sudah mau keluar, Sayang. Bagaimana kalau aku keluarkan saja di lubang itu?" tanya si pria.

Si pria pun mengangkat kepalanya dan kedua bola matanya pun sama dengan kedua bola mata si wanita. Bola matanya putih pucat. Perlahan-lahan si pria berjalan menghampiri lubang itu. Crot! Crot! Crot! Spermanya disemprotkan ke arah lubang itu dan tentu saja sperma itu mengenai bola mata Yosely.

"Tidak..!!" jeritan Yosely melengking tinggi.

Dia terjatuh dari tempat tidurnya dan kepalanya mengenai kaki meja yang terletak di samping tempat tidur. Dia merasakan kesakitan yang amat sangat mendera kepalanya. Dia ingin berteriak memanggil Valita yang tertidur tetapi kegelapan menariknya ke arah yang semakin dalam.


"Kau sudah sadar? Semalam kau kenapa? Begitu aku bangun pagi ini, aku melihat kau tergeletak pingsan di lantai. Dokter sudah memeriksamu. Untunglah kau tidak apa-apa," kata Valita cemas.
"Kau memanggil dokter ke sini? Aduh..! Bayarannya pasti sangat mahal,"
"Tidak apa-apa!" senyum Valita.
"Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Aku bersedia membayar berapa pun asalkan kau selamat, Yosely. Tadi aku mengira kau sudah meninggal. Aku takut sekali.."
"Apa yang harus ditakuti di sini, Valita? Kau mengetahui sesuatu?" tanya Yosely di antara penasaran dan cemas.

"Kamar di sebelah menyimpan suatu tragedi, Yosely. Pemilik tempat kos ini sudah menceritakan semuanya padaku. Delapan tahun lalu ada sepasang pengantin muda yang kawin lari. Mereka menginap di tempat kos ini. Meskipun mereka sudah melarikan diri orang tua si gadis tetap saja bisa menemukan anak mereka dan memaksa anak mereka pulang. Si gadis tentu saja tidak mau karena dia sangat mencintai suaminya. Terjadilah baku hantam antara Ayah si gadis dengan si pria. Si pria tewas di tangan Ayah si gadis".

"Si gadis tidak rela menyaksikan kematian suaminya. Oleh sebab itu, dia pun bunuh diri di hadapan kedua orang tuanya. Sesaat sebelum kematian dia sempat mengatakan bahwa dia sangat menyesal telah dilahirkan ke dunia ini sebagai anak dari kedua orang kejam itu. Akibat kejadian, si Ayah pun dijebloskan ke dalam penjara dan si Ibu mengalami gangguan kejiwaan. Dia dihantui oleh kesedihan dan rasa bersalah terhadap putrinya. Sebaiknya kita segera pindah dari sini, Yosely. Setelah kita pulang kerja nanti, kita akan membicarakan hal ini lagi. Kau istirahatlah!"

Valita berlalu dengan wajah yang serius. Yosely tertegun karena dia tidak pernah melihat Valita bicara dengan nada yang seserius tadi. Perlahan-lahan dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia ingin segera pindah dari sini. Dia harus segera pindah dari sini. Rasa sakit kembali mendera kepalanya seakan-akan kepalanya mau pecah.

Dampak Nonton Film Porno

Namaku Iwan (nama samaran). Aku itu sudah kuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aku tinggal masih bareng orangtua dan adikku yang masih SMP, Dina namanya (juga samaran). Orangtuaku dua-duanya kerja. Jadi rumah sering tinggal adikku dan aku saja, sama pembantu.

Pada waktu sore rumah sedang kosong, orangtua sedang pergi dan kebetulan pembantu juga sedang tidak ada. Adikku sedang pergi. Aku menyewa VCD BF XX dan X2. Aku senang sekali, karena tidak ada gangguan pas sedang nonton. Cerita X2 di VCD itu kebetulan bercerita tentang seks antara adik dan kakak. Gila sekali deh adegannya. Kupikir kok bisa ya. Eh, aku berani tidak ya melakukan itu sama adikku yang masih SMP? tapi kan adikku masih polos sekali, kalau di film ini mah sudah jago dan pro, pikirku dalam hati. Sedang nonton plus mikir gimana caranya melakukan sama adikku, eh, bel berbunyi. Wah, teryata adikku, si Dina sama temannya datang. Sial, mana filmnya belum selesai lagi. Langsung kusimpan saja tuh VCD, terus kubukakan pintu. Dina sama temannya masuk. Eh, temannya manis juga loh.
"Dari mana lo?" tanyaku.
"Dari jalan dong. Emang kayak kakak, ngedekem mulu di rumah," jawabnya sambil manyun.
"Aku juga sering jalan tau, emang elo doang. Cuman sekarang lagi males," kataku.
"Oh iya, Kak. Kenalin nih temenku, namanya Anti, temen sekelasku," katanya.
Akhirnya aku kenalan sama itu anak. Tiba-tiba si Dina tanya, "lihat VCD Boyzone aku tidak?"
"Tau, cari saja di laci," kataku.
Eh, dia membuka tempat aku menaruh VCD BF. Aku langsung gelagapan.
"Eh, bukan di situ.." kataku panik.
"Kali saja ada," katanya.
Telat. Belum sempat kutahan dia sudah melihat VCD XX yang covernya lumayan hot itu, kalau yang X2 sih tidak pakai gambar.
"Idih.. Kak. Kok nonton film kayak begini?" katanya sambil memandang jijik ke VCD itu.
Temannya sih senyam-senyum saja.
"Enggak kok, aku tadi dititipin sama temanku," jawabku bohong.
"Bohong banget. Ngapain juga kalo dititipin nyasar sampe di laci ini," katanya.
"Kak, ini film jorok kan? Nnngg.. kayak apa sih?" tanyanya lagi.

Aku tertawa saja dalam hati. Tadi jijik, kok sekarang malah penasaran.
"Elo mao nonton juga?" tanyaku.
"Mmm.. jijik sih.. tapi.. penasaran Kak.." katanya sambil malu-malu.
"Anti, elo mao nonton juga tidak?" tanyanya ke temannya.
"Aku mah asyik saja. Lagian aku udah pernah kok nonton film kayak begitu," jawab temannya.
"Gimana.. jadi tidak? keburu mama sama papa pulang nih," desakku.
"Ayo deh. Tapi kalo aku jijik, dimatiin ya?" katanya.
"Enak saja lo, elo kabur saja ke kamar," jawabku.

Lalu VCD itu aku nyalakan. Jreng.. dimulailah film tersebut. Aku nontonnya sambil sesekali memandangi adikku dan temannya. Si Anti sih kelihatannya tenang nontonnya, sudah "expert" kali ya? Kalau adikku kelihatan begitu baru pertama kali nonton film seperti begitu. Dia kelihatan takut-takut. Apalagi pas adegan rudalnya cowok dihisap. Mana itu rudal besarnya minta ampun. "Ih, jijik banget.." kata Dina. Pas adegan ML sepertinya si Dina sudah tidak tahan. Dia langsung kabur ke kamar.
"Yee, malah kabur," kata Anti.
"Elo masih mao nonton tidak?" tanyaku ke si Anti.
"Ya, terus saja," jawabnya.
Wah, boleh juga nih anak. Sepertinya, bisa nih aku main sama dia. Tapi kalau dia marah gimana? pikirku dalam hati. Ah, tidak apa-apa kok, tidak sampai ML ini. Sambil nonton, aku duduknya mendekat sama dia. Dia masih terus serius nonton. Lalu kucoba pegang tangannya. Pertama dia kaget tapi dia tidak berusaha melepas tangannya dari tanganku. Kesempatan besar, pikirku. Kuelus saja lehernya. Dia malah memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati begitu. Wow, tampangnya itu lho, manis! Aku jadi ingin nekat. Waktu dia masih merem, kudekati bibirku ke bibir dia. Akhirnya bersentuhanlah bibir kami. Karena mungkin memang sudah jago, si Anti malah mengajak French Kiss. Lidah dia masuk ke mulutku dan bermain-main di dalam mulut. Sial, jagoan dia daripada aku. Masa aku dikalahin sama anak SMP sih. Sambil kami ber-French Kiss, aku berusaha masukkan tanganku ke balik bajunya. Mencari sebongkah buah dada imut. Ukuran dadanya tidak begitu besar, tapi sepertinya sih seksi. Soalnya badan si Anti itu tidak besar tapi tidak kurus, dan tubuhnya itu putih.

Begitu ketemu buah dadanya, langsung kupegang dan kuraba-raba. Tapi masih terbungkus sama bra-nya. "Baju elo gue buka ya?" tanyaku. Dia ngangguk saja sambil mengangkat tangannya ke atas. Kubuka bajunya. Sekarang dia tinggal pakai bra warna pink dan celana panjang yang masih dipakai. Shit! kataku dalam hati. Mulus sekali! Kubuka saja bra-nya. Payudaranya bagus, runcing dan putingnya berwarna pink. Langsung kujilati payudaranya, dia mendesah, aku jadi makin terangsang. Aku jadi pingin menyetubuhi dia. Tapi aku belum pernah ML, jadi aku tidak berani. Tapi kalau sekitar dada saja sih aku lumayan tahu. Gimana ya? Tiba-tiba pas aku lagi menjilati payudara si Anti, adikku keluar dari kamar. Kami sama-sama kaget. Dia kaget melihat apa yang kakak dan temannya perbuat. Aku dan Anti kaget pas melihat Dina keluar dari kamar. Si Anti buru-buru pakai bra dan bajunya lagi. Si Dina langsung masuk ke kamarnya lagi. Sepertinya dia shock melihat apa yang kami berdua lakukan. Si Anti langsung pamit mau pulang. "Bilang sama Dina ya.. sorry," kata Anti. "Tidak apa-apa kok," jawabku. Akhirnya dia pulang.

Aku ketuk kamarnya Dina. Aku ingin menjelaskan. Eh, dianya diam saja. Masih kaget kali ya, pikirku. Aku tidur saja, dan ternyata aku ketiduran sampai malam. Pas kebangun, aku tidak bisa tidur lagi, aku keluar kamar. Nonton TV ah, pikirku. Pas sampai di depan TV ternyata adikku lagi tidur di kursi depan TV. Pasti ketiduran lagi nih anak, kataku dalam hati. Gara-gara melihat dia tidur dengan agak "terbuka" tiba-tiba aku jadi keingat sama film X2 yang belum selesai kutonton, yang ceritanya tentang hubungan seks antara adik dan kakak, ditambah hasrat aku yang tidak kesampaian pas sama Anti tadi. Ketika adikku menggerakan kakinya membuat roknya tersingkap, dan terlihatlah CD-nya. Begitu melihat CD-nya aku jadi semakin nafsu. Tapi aku takut. Ini kan adikku sendiri masa aku setubuhi sih. Tapi dorongan nafsu semakin menggila. Ah, aku peloroti saja CD-nya. Eh, nanti kalau dia bangun bagaimana? Ah, cuek saja. Begitu CD-nya turun semua, wow, belahan kemaluannya terlihat masih amat rapat dan dihiasi bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Kucoba sentuh, hmm.. halus sekali. Kusentuh garis kemaluannya. Tiba-tiba dia menggumam, aku jadi kaget. Aku merasa di ruang TV terlalu terbuka. Kurapikan lagi pakaian adikku, terus kugendong ke kamarnya.

Sampai di kamar dia, it's show time, pikirku. Kutiduri dia di kasurnya. Kubukakan bajunya. Ternyata dia tidak pakai bra. Wah, payah juga nih adikku. Nanti kalau payudaranya jadi turun bagaimana. Begitu bajunya terbuka, buah dada mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil buah dadanya tapi lumayan ada. Kucoba hisap putingnya, hmm.. nikmat! Buah dada dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun! "Kak.. ngapain lo!" teriaknya sambil mendorongku. Aku kaget sekali, "Ngg.. ngg.. tidak kok, aku cuma pengen nerusin tadi pas sama si Anti, tidak papa kan?" jawabku ketakutan. Aku berharap orangtua aku tidak mendengar teriakan adikku yang agak keras tadi. Dia menangis.
"Sorry ya Din, gue salah, habis elo juga sih ngapain tidur di ruang TV dengan keadaan seperti itu, tidak pake bra lagi," kataku.
"Jangan bilang sama mama dan papa ya, please.." kataku.
Dia masih nangis. Akhirnya kutinggali dia. Aduh, aku takut nanti dia ngadu.

Sejak saat itu aku kalau ketemu dia suka canggung. Kalau ngomong paling seadanya saja. Tapi aku masih penasaran. Aku masih ingin mencoba lagi untuk "ngegituin" Dina. Sampai pada suatu hari, adikku sedang sendiri di kamar. Aku coba masuk,
"Din, lagi ngapain elo," aku mencoba untuk beramah-tamah.
"Lagi dengerin kaset," jawabnya.
"Yang waktu itu, elo masih marah ya.." tanyaku.
".." dia diam saja.
"Sebenernya gue.. gue.. pengen nyoba lagi.." gila ya aku nekat sekali.
Dia kaget dan pas dia mau ngomong sesuatu langsung aku dekati mukanya dan langsung kucium bibirnya.
"MmhHPp.. Kakk.. mmHPh.." dia seperti mau ngomong sesuatu.
Tapi akhirnya dia diam dan mengikuti permainanku untuk ciuman. Sambil ciuman itu tanganku mencoba meraba-raba dadanya dari luar. Pertama merasakan payudaranya diraba, dia menepis tanganku. Tapi aku terus berusaha sambil tetap berciuman. Setelah beberapa menit berciuman sambil meraba-raba payudaranya, aku mencoba membuka bajunya. Eh, kok dia langsung mau saja dibuka ya? Mungkin dia lagi merasakan kenikmatan yang amat sangat dan pertama kali dirasakannya. Begitu dibuka, langsung kubuka bra-nya. Kujilati putingnya dan sambil mengusap dan mneremas-remas buah dada yang satunya. Walaupun payudara adikku itu masih agak kecil, tapi dapat memberikan sensasi yang tak kalah dengan payudara yang besar. Ketika sedang dihisap-hisap, dia mendesah, "Sshh.. sshh.. ahh, enak, Kak.." Setelah kuhisap, putingnya menjadi tegang dan agak keras. Terus kubuka celanaku dan aku keluarkan "adik"-ku yang sudah lumayan tegang. Pas dia melihat, dia agak kaget. Soalnya dulu kami pernah mandi bareng pas "punya"-ku masih kecil. Sekarang kan sudah besar dong.

Aku tanya sama dia, "Berani untuk ngisep punya gue tidak? Entar punya elo juga gue isepin deh, kita pake posisi 69."
"69.. apa'an tuh?" tanyanya.
"Posisi dimana kita saling mengisap dan ngejilatin punyanya partner kita pada saat berhubungan," jelasku.
"Ooo.."
Langsung aku membuka celana dia dan CD-nya. Kami langsung mengambil posisi 69. Aku buka belahan kemaluannya dan terlihatlah klitorisnya seperti bentuk kacang di dalam kemaluannya itu. Ketika kusentuh pakai lidah, dia mengerang,
"Ahh.. Kakak nyentuh apanya sih kok enak banget.." tanyanya.
"Elo mestinya ngejilatin dan ngisep punya gue dong. Masa elo doang yang enak," kataku.
"Iya Kak, habis takut dan geli sih.." jawabnya.
"Jangan bayangin yang bukan-bukan dong. Bayangin saja keenakan elo," kataku lagi.
Saat itu juga dia langsung menjilat punyaku. Dia menjilati kepala anu-ku dengan perlahan. Uuhh, enak benar. Terus dia mulai menjilati seluruh dari batanganku. Lalu dia masukkan punyaku ke mulutnya dan mulai menghisapnya. Oohh.. gila benar. Dia ternyata berbakat. Hisapannya membuatku jadi hampir keluar.

"Stop.. eh, Din, stop dulu," kataku.
"Lho kenapa?" tanyanya.
"Tahan dulu entar aku keluar," jawabku.
"Lho emang kenapa kalau keluar?" tanyanya lagi.
"Entar game over," kataku.
Ternyata adikku memang belum mengerti masalah seks. Benar-benar polos. Akhirnya kujelaskan kenapa kalau cowok sudah keluar tidak bisa terus pemainannya. Akhirnya dia mulai mengerti. Posisi kami sudah tidak 69 lagi, jadi aku saja yang bekerja. Kemudian aku teruskan menghisapi kemaluannya dan klitorisnya. Dia terus menerus mendesah dan mengerang.
"Kak Iwan.. terus Kak.. di situ.. iya di situ.. oohh.. sshh.."

Aku terus menghisap dan menjilatinya. Dia menjambak rambutku. Sambil matanya merem-melek. Akhirnya aku sudah dalam kondisi fit lagi (tadi kan kondisinya sudah mau keluar). Kutanya sama adikku,
"Elo berani ML tidak?"
".." dia diam.
"Gue pengen ML, tapi terserah elo.. gue tidak maksa," kataku.
"Sebenerya gue takut. Tapi sudah kepalang tanggung nih.. gue lagi 'on air'," kata dia.
"OK.. jadi elo mau ya?" tanyaku lagi.
".." dia diam lagi.
"Ya udah deh, kayanya elo mau," kataku.
"Tapi tahan sedikit. Nanti agak sakit awalnya. Soalnya elo baru pertama kali," kataku.
".." dia diam saja sambil menatap kosong ke langit-langit.

Kubuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Kelihatan bibir kemaluannya yang masih sempit itu. Kuarahkan ke lubang kemaluannya. Begitu aku sentuhkan kepala "anu"-ku ke liang kemaluannya, Dina menarik nafas panjang, dan kelihatan sedikit mengeluarkan air mata. "Tahan ya Din.." Langsung kudorong anu-ku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Tapi masih susah, soalnya masih sempit sekali. Aku terus mencoba mendorong anu-ku, dan.. "Bleess.." masuk juga kepala kemaluanku. Dina agak berteriak,
"Akhh sakit Kak.."
"Tahan ya Din.." kataku.
Aku terus mendorong agar masuk semua. Akhirnya masuk semua kemaluanku ke dalam selangkangan adikku sendiri.
"Ahh.. Kak.. sakit Kak.. ahh.."
Setelah masuk, langsung kugoyang maju-mundur, keluar masuk liang kemaluannya.
"Ssshh.. sakitt Kak.. ahh.. enak.. Kak, teruss.. goyang Kak.."
Dia jadi mengerang tidak karuan. Setelah beberapa menit dengan posisi itu, kami ganti dengan posisi "dog style". Dina kusuruh menungging dan aku masukkan ke lubang kemaluannya lewat belakang. Setelah masuk, terus kugenjot. Tapi dengan keadaan "dog style" itu ternyata Dina langsung mengalami orgasme. Terasa sekali otot-otot di dalam kemaluannya itu seperti menarik batang kemaluanku untuk lebih masuk.

"Ahh.. ahha.. aku lemess banget.. Kak," rintihnya dan dia jatuh telungkup. Tapi aku belum orgasme. Jadi kuteruskan saja. Kubalikkan badannya untuk tidur terlentang. Terus kubuka lagi belahan pahanya. Kumasukkan kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Padahal dia sudah kecapaian.
"Kak, udah dong! Gue udah lemes.." pintanya.
"Sebentar lagi ya.." jawabku.
Tapi setelah beberapa menit kugenjot, eh, dianya segar lagi.
"Kak, yang agak cepet lagi dong.." katanya.
Kupercepat dorongan dan genjotanku.
"Ya.. kayak gitu dong.. sshh.. ahh.. uhuuh," desahannya makin maut saja.
Sambil menggenjot, tanganku meraba-raba dan meremas payudaranya yang mungil itu. Tiba-tiba aku seakan mau meledak, ternyata aku mau orgasme. "Ahh, Din aku mau keluar.. ahh.." Ternyata saat yang bersamaan dia orgasme juga. Kemaluanku seperti dipijat-pijat di dalam. Karena masih enak, kukeluarkan di dalam kemaluannya. Nanti kusuruh minum pil KB saja supaya tidak hamil, pikirku dalam hati.

Setelah orgasme bareng itu kucium bibirnya sebentar. Setelah itu aku dan dia akhirnya ketiduran dan masih dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar gara-gara kecapaian. Ketika bangun, aku dengsr dia lagi merintih sambil menangis.
"Kak, gimana nih. Punyaku berdarah banyak," tangisnya.
Kulihat ternyata di kasurnya ada bercak darah yang cukup banyak. Dan kemaluannya agak sedikit melebar. Aku kaget melihatnya. Gimana nih jadinya?
"Kak, aku udah tidak perawan lagi ya?" tanyanya.
".." aku diam saja.
Habis mau jawab apa. Gila! aku sudah merenggut keperawanan adikku sendiri.
"Kak, punyaku tidak apa-apakan?" tanyanya lagi.
"Berdarah begini wajar untuk pertama kali," kataku.
Tiba-tiba, gara-gara melihat dia tidak pakai CD dan memperlihatkan kemaluannya yang agak melebar itu ke aku, anu-ku "On" lagi!

Maniak Seks

Namaku Andrie. Dan pacarku Yuni. Aku baru berkenalan dengannya sekitar 2 bulan. Waktu awal kenalan,aku tidak pernah mampir kerumahnya. Kami hanya bertemu diluar saja dan ngobrol-ngobrol saja. Tapi lantaran perasaan kami yang semakin akrab,maka suatu kali aku mampir juga kerumahnya, sekaligus berkenalan dengan keluarganya. Yuni punya seorang ibu tiri yang umurnya sekitar 38 tahun dan dua orang kakak perempuan,yang tertua namanya Linda, umurnya 28 tahun dan yang nomor dua namanya Shinta umurnya 26 tahun. Walaupun ibunya ibu tiri,Tapi sangat baik. Mereka tinggal 3 orang satu rumah. Sedang kakaknya yang pertama sudah menikah,belum punya anak dan tinggal ditempat lain. Hubungan mereka sekeluarga sangat akrab. Keluarganya ramah terhadapku.
Waktu kedatanganku yang pertama aku cuma duduk bdiruang tamu.Kedatanganku yang selanjutnya aku sudah biasa aja dirumahnya. Aku sudah bisa masuk keruangan yang lainnya. Suatu kali aku masuk kekamar Yuni,didalam kami ngobrol-ngobrol aja. Jarak antara kami makin dekat. Kupegang tangannya,kemudian perlahan-lahan kudekatkan wajahku kepadanya.Kami saling berciuman.Kulumat bibirnya yang berwarna kemerah-merahan dan Yuni membalas ciumanku. Cukup lama kami berciuman dan aku tidak berani menyentuh bagian yang lain. Sehabis itu kami main Play Stasion.
Minggu berikutnya aku main lagi ke rumah Yuni. Waktu itu kakaknya yang no.2 yaitu Shinta ada dirumah.Dia tidak masuk kerja.Setelah basa basi dengan kakaknya aku masuk kekamar Yuni.Didalam seperti biasa setelah kami ngobrol-ngobrol sedikit aku mendekati Yuni. Kami kembali berciuman,aku meremas tangannya,kemudian ciumanku menyusuri lehernya yang putih bersih.Nafas Yuni terdengar agak terengah-engah.Aku meneruskan ciumanku dengan meremas dadanya yang indah.kemudian satu persatu kancing bajunya kutanggalkan,sampai dia hanya pakai BH saja. BH nya yang berukuran 36B itupun kutanggalkan.
Payudaranya yang sekal dan indah itu pun habis kuciumi.Sementara tanganku meremas-remas dengan lembut payudaranya itu.Kemudian puting payudaranya yang berwarna agak kecoklatan kuhisap dan kujilati.Yuni makin menderu nafasnya.Aku terus asyik menghisap payudaranya yang sekal itu.Tapi secara tiba-tiba aku melirik ke pintu yang sedikit terbuka,disitu kulihat shinta berdiri termangu.Aku segera menghentikan gerakanku.
Shinta kemudian masuk kekamar Yuni.Tapi Yuni cuek saja melihat kakaknya masuk kedalam kamarnya.Dia tidak berusaha menutupi tubuhnya.Malah membiarkan saja tubuhnya dalam keadaan terbuka.Aku tentu saja merasa grogi.Aku takut Shinta marah kemudian melarangku main kerumahnya lagi.Tapi Shinta tidak marah malah tersenyum melihat aku yang salah tingkah.Kemudian Shinta bicara:
“Kamu mau kubuatkan teh Andrie?”
“Ya mbak,boleh ….eh..terima kasih…”jawabku agak gugup.
Dalam hati aku merasa senang karena Shinta tidak marah padaku.Kemudian aku keluar dari kamar dan Yuni memakai bajunya tanpa mengenakan BH lagi.Masih kelihatan payudaranya yang montok itu dibungkus baju kaos yang tipis.Aku diruang tamu ngobrol-ngobrol saja bersama Yuni dan kakaknya.Shinta sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi,dan bicara hal-hal lain.
Minggu berikutnya aku kembali datang kerumah Yuni.Setelah ngobrol-ngobrol dengan kakaknya Shinta,aku kembali masuk kekamar Yuni.Didalam kami kembali berciuman.Aku mencium bibir Yuni yang harum.Yuni membalas ciumanku.Berbeda waktu kemarinnya,kali ini Yuni agak agresif.Dia mencium bibirku dengan ganasnya. Aku juga semakin berani membuka pakaian Yuni,sehingga dia hanya memakai celana dalam saja.Aku segera menyapu lehernya yang jenjang dan putih bersih.Yuni terlihat menggelinjang membuat aku semakin bersemangat.Nafasnya mulai terengah-engah.Ciumanku terus kearah dadanya yang montok.Aku menghisap puting payudaranya.Sungguh sangat enak rasanya.Aku menghisap puting payudaranya bergantian.Yuni makin terengah-engah.
Lalu aku membuka celana dalamnya,sehingga sekarang dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Aku menjilati pahanya yang putih mulus.Jilatanku terus naik kearah vagina Yuni yang memancarkan hawa harum dan wangi.Aku menjilat klitorisnya yang sebelumnya aku menyibakkan bulunya yang belum begitu lebat.Lama aku menghisap klitorisnya.Sampai aku merasakan cairan yang khas,mungkin dia sudah semakin teransang.
Yuni lalu mendorongku,sehingga aku berada dalam posisi telentang. Dia langsung mengarahkan bibirnya yang mungil ke penisku.Wahhh…enak sekali … Yuni mengulum dan menghisap penisku .Aku semakin terengah-engah.Yuni pun semakin semangat mendengar desahan nafasku. Lalu aku mendorong Yuni dengan lembut agar dia segera telentang.Yuni pun mengerti dengan keinginanku. Penisku kuarahkan kearah vagina Yuni dan memasukkannya dengan perlahan-lahan.Yuni menjerit tertahan begitu penisku masuk semua kedalam vaginanya.Aku mengangkat pantatku perlahan-lahan,dan memasukkannya.Begitu seterusnya aku lakukan,memaju-mundurkan pantatku.Yunipun kelihatan sangat menikmatinya.
Lalu aku mengangkat kaki kiri Yuni dan tetap aku menggoyang pantatnya yang montok.Sampai akhirnya dia menjerit dengan suara yang agak keras.Dan akupun merasakan cairan hangat yang membasahi penisku didalam vaginanya.Rupanya Yuni sudah keluar.Sementara aku nampaknya masih lama untuk mencapai puncak orgasmeku. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang sudah aku kenal.
“Wah..kamu kuat juga ya Andrie…”
Rupanya itu suaranya Shinta kakak Yuni.Rupanya dia sudah dari tadi berdiri dibelakangku memperhatikan apa yang kuperbuat bersama dengan adiknya.Aku sangat kaget sekali,dan mencabut penisku yang masih tegang dari vagina Yuni.Kupikir tadi Yuni sudah mengunci pintu kamar.
Shinta segera menghampiri kami berdua.Kulihat Yuni cuek saja dan masih menikmati puncak orgasmenya. Shinta duduk disamping kami dan memperhatikan punyaku yang masih tegang.Sementara aku sendiri masih jauh dari puncak orgasmeku.Melihat situasinya seperti itu aku jadi memberanikan diriku meraih tangan Shinta.Kutarik lembut tangannya dan aku segera melumat bibirnya yang lembut.Sementara tanganku langsung meremas-remas payudaranya.Sekilas aku melirik Yuni dan kulihat dia tersenyum melihat yang kuperbuat dengan kakaknya.Dia bilang,
“Nah…sekarang giliran saya yang nonton kakak ya…?”
Shinta hanya menjawab dengan tersenyum saja.Nampaknya Yuni ingin aku berbuat yang sama dengan kakaknya.
Tanganku terus saja meremas-remas payudaranya dari luar.Aku segera melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuhnya,sampai dia tidak mengenakan pakaian selembar benangpun alias bugil,seperti Yuni. Aku terus melumat bibirnya. Shinta pun tidak kalah membalas ciumanku.Ciumanku terus turun kelehernya yang putih bersih.Shinta mengelinjang membuat aku semakin bersemangat saja.Aku terus menciumi payudaranya yang montok,mungkin ukurannya ada sekitar 36,aku tidak tahu persis tapi sama dengan ukurannya si Yuni.
Aku menghisap puting payudaranya dengan lahap.Aku kembali melirik Yuni dan melihat dia tersenyum manis padaku.Aku jadi semakin bersemangat saja.Sementara Shinta terus saja menggelinjang keenakan.Aku terus saja menghisap puting payudara Shinta.Sementara tangan kiriku meraba-raba selangkangan Shinta.Aku merasakan bulu-bulu vaginanya yang lembut.Ciumanku terus kuturunkan kedaerah vaginanya.Aku menjilati klitoris Shinta dan Shinta terus saja menggelinjang.Aku merasakan cairan yang khas dari vaginanya,tapi aku yakin dia belum orgasme.
Aku lalu mendekatkan penisku kedalam mulut Shinta dan diapun melumat penisku dan menghisapnya.Sungguh sangat enak sekali.Lama Shinta menghisap penisku yang sudah sangat tegang sekali.Aku hampir tidak tahan lagi. Aku menyuruh Shinta supaya menungging.Aku lalu mengatur posisiku di belakang Shinta.Perlahan-lahan aku memasukkan penisku kedalam vaginanya.Tapi sebelum aku memasukkan penisku,Yuni bergerak mendekatiku dan tangannya menggenggam penisku.
“Biar kumasukin Ndrie…,”katanya.
Tapi sebelum itu dia masih sempat-sempatnya menghisap penisku.Setelah itu dia mengarahkan penisku ke kemaluan kakaknya.Dia tersenyum padaku.Shinta juga tersenyum padaku.Aku semakin tidak tahan dan segera memasukkan penisku ke vagina Shinta.shinta menjerit tertahan,
“Ahh…Andrie…punyamu enak sekhali…shayang…”
Aku semakin bersemangat menggoyangkan pantatku.Sementara Yuni duduk disampingku.Aku segera meraih tangan Yuni dan aku bilang,
“Yun, sini payudaramu aku hisap…”
Yuni segera menyodorkan payudaranya kemulutku.Jadi sementara aku menggoyang Shinta,mulutku menghisap payudaranya Yuni.Shinta semakin histeris menjerit-jerit keenakan kugoyang vaginanya dari belakang.Aku lalu menyuruh Yuni berdiri dan mengarahkan selangkangannya ke mulutku.Aku kembali menjilati klitoris Yuni.Yuni terdengar menjerit-jerit keenakan seperti kakaknya.
Tak lama tubuh Shinta menegang.Agaknya dia sudah mau keluar.Benar saja tak lama aku merasakan cairan hangat membasahi penisku yang masih menancap di vaginanya.Yuni juga masih menjerit-jerit.Aku lalu berdiri dan mengarahkan penisku yang masih tegang ke kemaluan Yuni yang berada dalam posisi berdiri dari depan.Aku mengangkat kaki Yuni dan meletakkan kakinya di pinggir tempat tidur.Aku memasukkan penisku kedalam vagina Yuni dari depan dan kugoyang-goyang,maju mundur.
Yuni kembali mendesah-desah,
“…Ahh…Andrie…kamu pintar juga juga pake gaya berdiri seperti dalam film …ahhh…akh..”mulutnya terus saja menceracau.
Aku terus saja menggoyangnya,sementara mulutku tidak berhenti menciumi payudaranya yang montok kiri kanan bergantian dan juga menghisapnya bergantian.Yuni semakin melayang-layang kenikmatan saja.Tak lama aku juga sudah ingin keluar.Tapi sebelum aku keluar,Yuni sudah keluar duluan dan badannya mendadak jadi lemas.Aku segera mencengkram pantatnya dan memeluk tubuhnya.”Akh…”akhirnya kau keluar juga dengan perasaan yang melayang-layang. Spermaku membasahi vagina Yuni.Aku tidak kuat lagi menahan tubuh Yuni dan membiarkan dia terduduk dan akhirnya penisku pun tercabut dari vaginanya.
Shinta yang dari tadi memperhatikan,kembali mendekatkan kepalanya ke penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Yuni pun tidak ketinggalan,juga menghisap penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Kedua kakak beradik tadi masih dengan lahap menghisap penisku bergantian.
Akhirnya kami bertiga terbaring lemas.Aku berada ditengah-tengah mereka.Tanganku masih saja bergantian meremas-remas payudara Yuni dan Shinta bergantian.Mereka juga masih menikmati remasan tanganku di payudaranya.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Lama kami terdiam.
Tiba-tiba kami dikejutkan teriakan suara panggilan.
“Shinta,Yuni kalian dimana? Ini mbak Linda datang nih…kok nggak ada yang menyahutin?”
Rupanya kakaknya yang tertua datang.Shinta lalu berdiri dan berkata pada Yuni,
“Yun,biar mbak saja yang menemuin mbak Linda,kayaknya dia sendirian saja kesini.Suaminya kayaknya nggak ikut tuh…”
Lalu tanpa pakaian sehelai benangpun Shinta berdiri dan jalan keluar kamar.Aku kaget dan bertanya pada Yuni,
“Yun,kalau ketahuan mbak Linda bagaimana nih…?”kataku agak cemas.
Tapi Yuni hanya tersenyum saja dan mengecup bibirku sebagai jawabannya. Sementara diluar kamar,mbak Linda sangat terkejut melihat adiknya Shinta menyambutnya tanpa busana sehelai benangpun.
“Shinta…kamu ngapain..?Kok nggak pake pakaian…?”tanya mbak Linda.
Tapi Shinta cuma tersenyum saja dan berkata,
“Nggak apa-apa kok mbak…Mbak nggak usah banyak tanya deh…” sambil tangannya menggandeng tangan kakaknya kekamar Yuni.
Sesampai dikamar Yuni,mbak Linda kelihatan terkejut melihatku dan Yuni juga tanpa pakaian.Shinta segera menjelaskan,
“Mbak,itu Andrie pacarnya Yuni…Mbak udah kenal kan?”kata Shinta.
Sementara aku masih agak cemas,takut kalau-kalau mbak Linda marah besar.Tapi rupanya Yuni mengerti perasaanku.Dia berkata pada Linda,
“Mbak ayo duduk disini,ngapain berdiri disitu.Apa mbak nggak pingin merasakan punya Andrie yang perkasa ini..?Bukankah Mbak dulu bilang kalau nggak pernah puas kalau main sama suami mbak…?”
Mulanya mbak Linda ragu-ragu.Tapi Shinta segera menarik tangan kakaknya dan mengajaknya duduk didekatku yang juga sama-sama bugil dengan adik-adiknya.Akhirnya mbak Linda duduk juga didekatku.Shinta berkata,
“Ayo Andrie…kita teruskan,nih kakaknya Yuni yang paling tua udah datang.Dia nggak pernah puas kalau main.Mungkin kamu ketemu lawan tangguh…,”kata Shinta bercanda.
Mbak Linda dan Yuni kulihat hanya tersenyum saja.
“Sekarang aku dan mbak Shinta cuma nonton aja,kamu main sama mbak Linda…habis kami capek sih…”kata Yuni dengan manjanya.
Akupun nggak jadi takut dan ikut tersenyum.Aku jadi berani dengan situasi seperti ini.Aku merasa seperti diberi lampu hijau. Aku langsung saja mengarahkan tanganku ke payudara Linda dan meremas-remas payudaranya dari luar pakaiannya.Linda hanya tersenyum saja aku perlakukan begitu.Aku segera melumat bibirnya dan Linda membalasnya juga dengan ganasnya. Nampaknya dia benar-benar membutuhkan seks.Aku semakin senang.
Aku segera melucuti pakaian yang dikenakan Linda,sampai dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun seperti adik-adiknya. Aku merasa kaget juga,karena payudaranya mbak Linda lebih besar dibandingkan payudara adik-adiknya. Terus terang aku sangat senang dengan ukuran payudaranya yang besar itu.Aku segera menciumi payudaranya bertubi-tubi dan bergantian,maklum nafsu seksku mulai bangkit lagi.Linda sudah mulai terengah-engah menghadapi seranganku.Aku kembali melumat bibir mbak Linda yang indah.Mbak Linda juga kembali membalas ciumanku dengan bernafsu.
Sementara itu aku juga melirik Shinta dan Yuni dan mereka cuma tersenyum menatapku sambil mengelus-elus vaginanya masing-masing. Ciuamanku kembali kuarahkan keleher Linda yang putih bersih.Dan terus kuturunkan ke payudaranya yang montok. payudaranya kuciumi bergantian dan puting payudaranya kuhisap dengan lahap.Lama aku menghisap payudaranya.Linda berkata,
“akh…Andrie…terus hisap…sayhang..enakh..sekali.t erus sayang…kamu sekarang jadi bayi…ya….terus hisap payudara Mbak…sayang…?”katanya menceracau.
Aku nggak peduli dengan rintihan dan erangan mbak Linda.Malah aku semakin bersemangat saja.Ciumanku kuturunkan keperutnya yang putih dan ramping dan terus turun kepahanya yang mulus.Pahanya kujilatin sampai basah semua.Jilatanku kunaikkan ke sela-sela pahanya yaitu ke vaginanya.
“Akh…apa ini Andrie…ohhh..terus Andrie…”kata mbak Linda.
Kayaknya dia juga tidak peduli lagi dengan sekitarnya.
Aku menjilati vaginanya.Aku mencari klitorisnya dan menghisapnya.Mbak Linda menjerit tertahan dan menekan belakang kepalaku,sehingga aku semakin mencium bau wangi dari vaginanya.Aku terus menjilati klitorisnya itu,sampai akhirnya aku merasakan cairan yang keluar dari vagina mbak Linda.Tapi mbak Linda sendiri belum keluar.Sementara punyaku sendiri sudah semakin tegang.Aku segera merubah posisiku dan menyodorkan penisku kemulut mbak Linda.Mbak Linda membuka mulutnya dan melahap penisku dan menghisap penisku dengan sangat bernafsu.Aku menyadari nafsu seks mbak Linda sangat tinggi.Tapi aku yakin bisa memuaskannya.
Akhirnya kusuruh mbak Linda telentang.Diapun menurut untuk telentang dan membuka kakinya lebar-lebar.Akupun segera mengatur posisiku untuk mengarahkan penisku kedalam lubang kemaluannya.Tapi sebelum aku memasukkannya,Yuni dan shinta mendekat dan berkata,
“Andrie…sebentar dulu..”kata Shinta.
Tanpa menunggu jawabanku dia langsung memegang penisku dan memasukkan kedalam mulutnya lalu menghisapnya. Setelah itu giliran Yuni yang menghisap penisku.Aku melihat mbak Linda sudah nggak sabaran untuk merasakan penisku.Akhirnya setelah Yuni menghisap penisku,dia membimbing penisku dan mengarah kan ke lubang vagina kakaknya.Setelah posisinya pas,aku segera menekan pantatku perlahan-lahan.
Terdengar desahan dan jerita kecil keluar dari mulut mbak Linda.Rupanya lubang vagina mbak Linda masih sempit seperti punya adik-adiknya.Aku sangat senang sekali.Aku segera menaik-turunkan pantatku ke vagina mbak Linda.Jeritan dan desahan nafas mbak Linda makin keras.Aku tidak peduli dan terus saja menggenjot dan menaik turunkan pantatku.Sama seperti vagina adik-adiknya,vagina mbak Linda seperti meremas-remas penisku.
Aku sudah hampir keluar,tapi aku berusaha bertahan selama mungkin.Dan kuperhatikan mbak Linda hampir mencapai puncak orgasmenya.
“…akh…akh..akh..terus andrie..akh…aku sudah mau keluar nih…akh..,”katanya terus menceracau.
” Aahh aku juga mau keluar mbak…”kataku sambil meremas dan menghisap payudaranya.
Akhirnya aku merasakan cairan hangat membasahi penisku.
“Ahh…Andriee..mbak sudah keluar…”kata mbak Linda.Rupanya dia sudah keluar.Bersamaan dengan itu akupun merasa sudah nggak kuat lagi.
“Mbak…akhu…jugha..mau keluar…h..”kataku dengan suara agak parau.
Akhirnya spermaku tumpah membasahi vaginanya.Aku tertelungkup lemas diatas tubuh mbak LInda.Kulihat Shinta dan Yuni tersenyum menatapku.Aku lalu mencabut penisku dari lubang vagina mbak Linda dan tidur menelentang.
Shinta dan Yuni segera mendekatkan melutnya dan kembali menghisap penisku bergantian.Begitu juga dengan mbak Linda bangun untuk menghisap penisku bergantian.Akhirnya kami kembali rebahan.Mbak Linda disebelah kananku,Shinta disebelah kiriku,sementara Yuni dengan manjanya telungkup diatas tubuhku.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Sementara tanganku kembali bergerilya seperti tadi meraba seluruh tubuh kakak-adik itu dan meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang mereka juga bangun sebentar hanya untuk menghisap penisku.Kami sama-sama terbaring lemas.
Tak lama Shinta membuka pembicaraan,
“Wah…Andrie…kamu memang kuat bisa mengalahkan mbak Linda.penismu juga besar dan kuat lho Andrie.”
Aku hanya tersenyum saja dan meremas payudara Shinta dengan lembut dan memainkan puting payudaranya dengan ujung jariku.
“Baru kali ini aku merasa puas kalo main gini Ndrie..”kata mbak Linda.
Aku hanya tersenyum saja mendengar pujian mereka dan tanganku semakin nakal dengan memasukkan jariku kelubang vagina mbak Linda.
“Aww…Andrie…tanganmu nakal..aku lagi capek nih…”kata mbak Linda manja.
Aku lalu berkata,”Wah…Yuni,Shinta,mbak Linda,kayaknya kita harus berpakaian nih sebelum ibumu datang.”
Yuni segera menjawab,
“Nggak apa-apa kok Andrie.Kalau ibu datang dan melihat kita begini nggak bakalan marah kok…ya kan mbak?”kata Yuni sambil bertanya pada kakaknya.
Kedua kakaknya tersenyum saja dan Shinta berkata,
“Kalau kamu mau,kamu juga boleh main sama ibu Andrie…”
“Iya…ibu pasti senang sekali ya kan mbak Linda?”tanya Yuni sama mbak Linda.
Mbak Linda menganggukkan kepalanya.Sekarang aku sudah mulai tenang.Sekarang tenagaku sudah mulai pulih.Lama kami terdiam,tapi tanganku tetap tidak bisa diam dan selalu menggerayangi tubuh ketiganya.Tapi mungkin karena kecapean,mereka bertiga cuma diam saja ketika tanganku menggerayangi tubuhnya,walaupun jari tengahku mengorek-ngorek vaginanya.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar,
“Shinta,Yuni..kalian dimana?”
Rupanya ibunya sudah datang.
“Kami disini Bu…”sahut Yuni.
Lalu Yuni berkata padaku,
“Ayo Andrie…kamu boleh coba ibuku..katanya tersenyum.
Aku cuma mengangguk saja dan sekarang tenagaku sudah benar-benar pulih lagi.
Tak lama kemudian ibunya Yuni sampai di kamar dan terkejut,
“hai…kalian lagi ngapain?”katanya sambil menutup mulutnya.
Ibunya Yuni masih melotot tidak percaya menatapku.Setelah dekat tanganku langsung memeluk ibu Yuni dan langsung meremas-remas payudaranya.Sementara itu dia masih setengah tidak percaya,tapi dia membiarkan tanganku meremas-remas payudaranya.Sambil berdiri aku menciumi bibirnya dan sekarang dia mulai membalas ciumanku.Aku tidak menduga ciuman ibunya ganas juga.Sementara tanganku masih terus meremas-remas payudaranya.Aku segera melucuti pakaiannya satu demi satu.Kulihat dia sekarang sudah bisa tersenyum dan berkata,
“Linda,Shinta,Yuni…kalian bear-benar nakalya…?tapi kalian baik juga mau mengajak ibu main sama Andrie.”
Linda,Shinta dan Yuni hanya tersenyum saja dan berkata,
“ya Bu..jangan malu-malu ya…ya…penis Andrie enak lho Bu…”
Setelah pakaian luarnya kulucuti,hingga hanya tinggal BH dan CD aja.Tanganku masih saja meremas-remas payudaranya.Nafas ibu Yuni mulai naik turun.Dia membiarkan saja apapun yang kulakukan pada tubuhnya dan menikmatinya.Aku mulai melepaskan BH nya dan aku kaget juga payudara dia masih kencang,putih dan montok dan besarnya hampir sama dengan payudara mbak Linda.Aku segera menyerbu payudaranya dengan ciuman-ciumanku.Aku menghisap puting payudaranya sambil berdiri.
Dia hanya merintih-rintih saja.Aku meremas-remas pantatnya yang montok,sementara mulutku tidak berhenti menghisap puting payudaranya kiri kanan.Setelah puas dibagian payudara,ciumanku kulanjutkan ke bawah.Ciumanku kuarahkan ke pahanya yang putih mulus dan terus naik keselangkangannya.Aku melepaskan CD nya sehingga dia tidak mengenakan apa-apa lagi,bugil seperti aku dan anak-anak tirinya.
Aku lalu menjilati vaginanya.Sambil berdiri, dia membuka kakinya agar mulutku leluasa menjilati vaginanya.Sementara tangannya menekan belakang kepalaku.Aku terus saja menghisap klitorisnya. Dia menjerit-jerit kecil dan kakinya kulihat agak gemetaran. Setelah puas menjilati vaginanya,aku lalu menekan tubuhnya supaya duduk jongkok menghadapku.Dia mengerti dan langsung saja mulutnya melumat penisku.Aku merasa sangat enak.Kayaknya Dia lebih berpengalaman dalam hal menjilat penis.Dia terus saja menghisap penisku dengan penuh semangat.
Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi,aku lalu menyuruhnya membelakangiku.Aku lalu mengatur posisi dan mengarahkan penisku ke lubang vaginanya dari belakang dan menekannya pelan-pelan.Dia menjerit tertahan.Tapi aku tidak peduli. sementara Linda,Shinta dan Yuni hanya menonton dengan bersemangat dari samping.Aku menggoyang pantatku maju mundur sambil berdiri.Tangan kirinya kutarik kebelakang dan tangan kananku meremas-remas payudaranya yang sebelah kanan.Dia kembali menjerit-jerit dengan desahan nafasnya yang memburu.
“Andrie…kamu…punyamu sangat enakh…akh…akh..”katanya menceracau.
Aku semakin bersemangat mendengar rintihannya.Lalu aku menarik tangan kanannya sehingga kedua tangannya kutarik kebelakang.Sementara pantatku tetap maju mundur menggoyang pantatnya.payudaranya yang besar terus saja bergoyang-goyang ke bawah.
Aku lalu merubah posisi dan menyuruhnya telentang.Dengan nafas memburu dia menurut saja dan telentang dengan membuka kakinya lebar-lebar.Aku segera mengarahkan penisku ke vaginanya. Penisku pun segera menusuk vaginanya dan pantatku naik turun menghujam vaginanya.vaginanya tidak kalah rasanya dibandingkan vagina anak-anaknya. Masih menggigit dan meremas-remas penisku. Nafaskupun semakin cepat seperti nafasnya.
Sementara penisku menusuk-nusuk vaginanya,aku selalu menghisap payudaranya bergantian Sekitar hampir satu jam kami main,sampai akhirnya dia berkata,
“Andrie…ahh…penismu sangat enakh…kuat…lubang vaginau jadi penuh oleh penismu…ahh…ahhh..terus sayang..aku sudah hampir keluarhh..ahh..ahhh..”
Dan tak berapa lama akupun segera merasakan penisku jadi hangat karena cairan dari vaginanya sebagai tanda dia sudah sampai puncak orgasmenya.Badannya yang tegang tadi mulai lemas.Aku masih saja menggenjot vaginanya dan akhirnya akupun merasakan sesuatu yang hendak keluar.penisku kubenamkan dalam-dalam kedalam vaginanya.Dan spermaku pun keluar membasahi liang vaginanya.Aku tertelungkup lemas dengan nafas tidak beraturan.
Dia juga begitu lemas dan nafasnya juga tidak beraturan.Aku lalu mencabut penisku dari vaginanya dan telentang sambil menarik nafas panjang.Aku memejamkan mataku.Walaupun sudah keluar tapi penisku masih ngaceng.Mbak Linda,shinta dan Yuni mendekat dan mereka bergantian menghisap penisku dan menelan sisa-sisa spermaku.Aku merasakan nikmatnya hisapan mereka bergantian.
Mereka bertiga akhirnya merebahkan badannyadisampingku.Lama kami terdiam karena kelelahan.Akhirnya Yuni berkata,
“Gimana Bu..?Enakkan penisnya Andrie..?”
Ibunya berkata,”Wah..Andrie…kamu memang luar biasa.penismu besar,kuat…wah…enak sekali…”
Aku menjawab,”Kalian juga sangat enak sekali.vagina kalian terasa meremas-remas penisku.Aku juga sangat suka dengan payudara kalian yang montok-montok ini.”kataku sambil meremas-remas payudara mereka bergantian.
Akhirnya aku tidak diperbolehkan pulang dan harus menginap malam itu.Kami kembali main bergantian.Aku kembali main sama mbak Linda,Shinta ,Yuni dan ibunya.Sungguh aku merasa sangat terpuaskan saat itu.Aku bisa menikmati tubuh mereka,tubuh kakak Yuni,tubuhnya sendiri dan tubuh ibunya.Aduh sangat enak sekali.Apalagi kulit tubuh mereka putih semua,maklum karena mereka adalah orang cina turunan.Apalagi payudara mereka sangat montok dan vaginanya juga bisa memijit-mijit penisku.
Setelah hari itu,tiap kali aku main ke sana,kalau baru sampai di rumah Yuni,aku selalu meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang aku langsung melucuti pakaian mereka dan langsung menghisap payudara mereka bergantian.mereka pun sangat senang dengan caraku waktu aku datang itu.Kadang-kadang kalau baru datang,aku langsung membuka celanaku dan menyodorkan penisku kedalam mulut Yuni,Shinta ibunya atau mbak Linda.Mereka pun sangat senang sekali.Sehingga tiap kali aku datang kesana pasti main dengan mereka bergantian.
Kadang-kadang Yuni,Shinta,mbak Linda atau ibunya juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya dan akupun sering juga main dengan teman-teman mereka.Aku bilang pada mereka,kalau mau mengundang teman untuk main harus yang bersih.Rata-rata teman-teman mereka itu adalah wanita yang tidak bisa dipuaskan oleh suaminya.Ada salah satu temannya yang mau memberiku bayaran,tapi aku menolaknya karena aku melakukannya dengan suka sama suka.Karena aku sangat suka seks.

Cerita Populer