Tampilkan postingan dengan label Hot Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot Sex. Tampilkan semua postingan

Cerita Seks Bugil Gairah Pasangan Seks

Cerita Seks Bugil Gairah Pasangan Sex. Dan kutarik bajunya. Kancing-kancing itu berserakan di permukaan lantai. Kupandangi buah dada yang bergelayutan di depanku. Tanpa terasa air liurku menetes ke dagu. Gadis ini begitu menyelerakan. Kujambak poni di kepalanya yang terkulai dan kutarik ke atas. Dapat kurasakan nafas lembut itu. Ia masih hidup, dan itu sesuatu yang menggembirakan. Kuamati bibirnya yang berdarah dan kantung matanya yang lebam. Mempesona. Kucium bibir itu, menggigitnya dengan gemas. Dan darah semakin banyak mengalir. Anyir. Kubiarkan cairan kental itu memenuhi rongga mulutku. Perlahan mata gadis itu semakin berkerut sebelum akhirnya membuka. Seperti yang kuduga. Gadis itu menjerit keras-keras menyadari ketelanjangannya. Menyenangkan. Kujilat bibir bawahnya serentak memegangi kepalanya supaya tidak berpaling. Gadis itu menggeliat, mencoba meronta melepaskan belenggu di tangannya. Tapi tentu saja usaha yang sia-sia. Kuangkat rok biru gadis itu. Pahanya yang tercancang membuka, membuatku leluasa untuk menyentuh dan memainkan lipatan vaginanya. Gadis itu melenguh dan jejak-jejak air mata mulai tampak di pipinya yang lembut.

Aku semakin bergairah saat gadis itu mengerang. Kuangkat tubuhku dan berdiri di belakangnya. Kubuka reitsleting celanaku dan membiarkan penisku yang menegang keluar. Gadis itu terus menggeliat. Menggeliat saat kutarik celana dalamnya menelusuri kulit kakinya yang putih mulus. Kugenggam penisku, menggerakkannya dengan cepat. Kurasakan nafsu sudah mencapai ubun-ubun kepalaku. Kujulurkan jemariku dan meraba liang vagina gadis itu. Si gadis meronta, mengejang sesaat, mengerang dan menjerit. Namun aku terlalu bergairah untuk memperhatikan ceceran darah di lantai yang membentuk pola tak menentu.

Dengan gerakan perlahan kuturunkan pinggulku dan menyusupkan batang penisku di lipatan pahanya. Gadis itu menjerit tertahan dan berusaha memalingkan wajahnya ke belakang. Matanya mendelik menatap senyumku. Aku menyukai kengerian yang terpancar darinya. Kulihat butir keringat mulai keluar dari pori-pori di kulit pantatnya. Indah sekali.

Kutekan batang penisku perlahan dengan gerakan vertikal. Sempit sekali. Kepala gadis itu terjatuh ke depan seiring rintihan tak jelas yang keluar dari bibirnya. Kuperhatikan batang penisku yang perlahan namun pasti menghilang di balik celah pantatnya. Geraman dan desahan keluar dari bibirku. Nikmat sekali. Gadis itu masih berusaha menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Masih berusaha menghindar. Tapi tidakkah itu justeru menambah kenikmatan yang kurasakan di ujung penisku? Tubuh gadis itu mulai melemas. Kugoyangkan pinggulku semakin cepat. Aliran darah membantuku memasuki liang vaginanya. Gemerincing rantai memenuhi ruangan. Hasratku semakin memuncak.

Dan kini ia memandangiku dengan sinis. Seperti biasanya. Lamunanku buyar seketika.
"Ngapain lihat-lihat?"

"Mel. Jangan ketus seperti itu."
"Biar saja. Lagian siapa yang mau dilihati olehnya."
Ah sudahlah. Jangan bertengkar. Kupalingkan saja wajahku menatap buku yang terbuka di bawah mataku. Angka-angka serasa menari-nari di hadapanku. Kudengar Mela mendengus kesal sebelum berlalu dari hadapanku. Yah, sudahlah. Lagipula aku masih punya urusan penting yang harus kuatasi sekarang juga. Penisku mengeras. Sampai terasa sakit terjepit meja.

"Whoi, si Helm lagi on!!" Suara teriakan itu mengejutkanku.
Anak-anak yang lain mulai berkerumun dan bergunjing di sebelahku. Beberapa dari mereka tertawa dan menudingku seraya mengeluarkan kata-kata cemoohan.
"Pasti kamu lagi membayangkan Mela. Iya kan?"
Aku membenci anak-anak sok tahu itu. Tapi mereka jauh lebih kuat dariku. Dan sekarang. Aku merasa wajahku panas seperti udang rebus. Beberapa anak memegangi kedua lenganku dan menarikku berdiri, seolah ingin memperlihatkan 'barang'ku yang menegang. Aku ingin menangis seketika itu juga. Kurasakan Mela menatapku.

Plakk!!
"Kurang ajar."
"Sudah, Mel. Ayo kita keluar."

Cerita Dewasa - Mama. Aku ingin pulang. Kurontakan lenganku dan berlari sekencang mungkin menuju gerbang sekolah. Aku tak perduli seruan beberapa siswa dan guru di belakangku. Aku tak perduli tawa mereka yang begitu menyakitkan. Tapi mengapa suara-suara itu justru menukik di gendang telingaku, walau sudah kututup rapat-rapat? Kutubruk jeruji gerbang yang terkunci itu. Air mataku sudah terlalu banyak untuk kubendung.
Mama. Aku ingin pulang. Sekarang juga.

"Nih. Jangan cengeng. Lelaki harus tegar."
Sebuah sapu tangan coklat menempel di punggung lenganku.
Kak Ray??

Anak itu tertawa dengan gaya begitu menyebalkan.
"Lalu begitu saja kamu menangis? Hahahaha. Alangkah tololnya."
"Tapi, Kak," aku mulai bergumam.
"Sini, aku ajak kamu menemui seseorang."
Wah. Ini sesuatu yang tak pernah kusangka. Kapten tim basket mengajakku pergi bersamanya? Tapi ini masih jam sekolah.
"Cuek saja. Ayo."
Kak Ray membisikkan beberapa kata kepada penjaga sekolah yang lalu memandangiku dengan penuh perhatian. Ketakutan mulai menyelubungiku. Tapi Mas pejaga sekolah itu malah tersenyum padaku dan membuka gembok gerbang.
"Ayo. Sebelum orang-orang usil itu datang."
Tanpa berpikir panjang kuikuti langkah Kak Ray keluar.

Dan kini aku bersama Kak Ray di atas Tiger-nya. Benar-benar merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagiku dapat memeluk pinggangnya dan merasakan rambut tebalnya menyapu wajahku. Seandainya anak-anak itu dapat melihatku sekarang. Seandainya Mela melihatku sekarang.Dia pasti akan menaksirku tanpa banyak cing-cong.
"Kita ke mana, Kak?"
"Ke rumah teman."
"Oh." Dan bahkan kini aku bisa mencium bau asap rokok itu menyerang hidungku. Ini benar-benar luar biasa. Aku dan Kak Ray. Di atas motor kesayangannya. Koboi sekolah. Aku seolah dapat merasakan kenikmatan yang pasti dirasakan juga oleh Kak Ray.

"Sinting. Ngapain kamu di sini?"
Kupandangi anak-anak bercelana abu-abu itu dengan was-was. Bagaimana kalau mereka mengompasiku? Tapi Kak Ray malah tampak tenang-tenang saja. Senyum masih mengembang di bibirnya.
"Ini namanya Warung Ibu," Kak Ray menatapku tanpa menghiraukan sapaan sinis dari beberapa anak. Sinis, setidaknya menurutku.
"Hoy, Ray. Ngapain ke sini?"
"Heheh," Kak Ray tertawa," mana Kak Kemal?"
Beberapa anak yang lain tertawa. Salah seorang yang paling dekat dengan Kak Ray merogohkan jemarinya ke kantung baju Kak Ray dan mengambil sebungkus Marlboro.
Setelah menyalakan rokoknya, anak yang barusan berteriak.
"Mal!"
Seraut wajah menoleh dari samping warung. Sekejap aku terkesiap merasakan kemiripan wajah itu dengan wajah Kak Ray. Bukan wajahnya, tapi pandangan matanya. Setengah terkatup, nakal dan menggoda. Kulirik Kak Ray yang tersenyum simpul. Orang yang duduk lesehan di samping warung itu juga tersenyum.

"Hik hik hik, sini Ray."
Cerita Dewasa - Tawa itu sedikit menyeramkan. Tapi getarannya penuh daya tarik. Aku jadi teringat cersil Kho Ping Hoo, tentang semacam tenaga dalam yang bisa tersalurkan lewat getaran suara. Tapi aku tak bisa tersenyum saat itu. Hanya mengikuti langkah Kak Ray. Aku bahkan tak berani duduk lesehan di atas trotoar dimana orang itu duduk. Aku memilih duduk di pinggir trotoar, setengah menggantungkan pantatku.
Kulihat Kak Ray tertawa-tawa dengan orang itu, mengatakan hal-hal yang tak jelas di telingaku, sambil sesekali melirikku penuh arti.
"Hik hik hik, jadi begitu ceritanya. Hey, sini kamu."
Tawa seram itu lagi. Tapi kali ini aku seperti tertarik mendekati orang itu. Lagipula, ia memanggilku. Kak Ray hanya tersenyum. Orang itu menatapku. Kulihat lingkaran tengah matanya yang kecoklatan seakan berusaha menelanjangiku. Lalu orang itu terkekeh.
"Hik hik hik, persis Ray dua tahun yag lalu. Kacangan."
Kulihat Kak Ray tertawa sambil menggaruk-garuk rambutnya.
"Jangan begitu ah, Kak."
"Benar, kok. Lengkap dengan sisa air matanya."
Air mata?
Jadi dulu Kak Ray..

"Kita perkosa saja rame-rame."
"Telanjangi, perkosa, potong tujuh.."
"..buang ke semak-semak."
"Gantung, diperkosa. Pokoknya 'salome'."
"Sodomi."
"Ah, dasar maniak."
Kulihat wajah-wajah itu seolah menjadi begitu liar. Dan Kak Ray duduk diantara mereka seolah-olah merupakan bagian dari kerumunan itu. Aku sebenarnya tak menyukai suasana buas ini, tapi kupaksakan diriku untuk tetap tertawa. Lagipula aku sempat membayangkannya pagi tadi.Kulihat Kak Kemal--kami sudah berkenalan tadi-- menghisap rokoknya dan menghembuskan asap dari sudut bibirnya.

"Bagaimana, Rik? Kamu mau?"
"T..tidak usah r..repot-repot, Kak."
Aku ingin memaki diriku sendiri, mengapa aku bisa membuat mereka tertawa saat itu. Termasuk Kak Ray.
"Hey," salah seorang dari kakak-kakak itu berseru, "Tak perlu sungkan dengan kami. Teman Ray berarti teman kami juga."
"I..iya, K..kak."
Aku sangat ingin memaki diriku.
"Kamu mau tahu apa yang dibuat Ray tempo dulu?"
"Wah, ini off the record, Kak."
Nada Kak Ray terdengar memprotes. Tapi mataku yang memancarkan sinar keingintahuan tak bisa menipu mereka.

Kak Kemal mendekatiku dan berbisik lirih.
"Ia menelanjangi mereka semua. Satu demi satu. Helai demi helai.."
"Kak!!"
"..lalu.. menjilati kemaluan mereka dan meminum cairan mereka sepuasnya. Bergantian. Dari hari ke hari. Dan mereka begitu terpesona, bahkan kami sendiri nyaris tak kebagian."
Kerumunan anak SMA itu tertawa bersamaan, salah seorang dari mereka menimpali, "Nyaris semua. Kecuali kamu, Mal." Dan yang ditimpali hanya terkekeh. Seolah merasa bangga. Wajah Kak Ray terlihat memerah.
"Tentu, dong. Mana mungkin murid mengalahkan gurunya, hik hik hik."
Kutatap Kak Kemal dengan penuh kekaguman. Bahkan Kak Ray yang selalu gonta-ganti pacar masih mempunyai seorang guru.
"Aaahh.." tanpa sadar desahan itu keluar dari mulutku.
"Kamu mau seperti dia, Rik?"
Mendadak suasana menjadi begitu khidmat. Semua mata --termasuk Kak Ray-- menatapku dengan penuh tanda tanya. Kurasa jawabanku sudah jelas.

Cerita Seks Bugil Gairah Pasangan Seks 2

Cerita Seks Bugil Gairah Pasangan Sex. "Pertama, jangan pakai poni. Menjijikkan."
Aku hanya bisa mengiyakan saat Kak Ray membawaku ke salon. Beberapa saat kemudian aku sudah memandangi rambutku yang baru. Cepak dan berdiri seperti kaktus. Wajahku malah nampak bundar. Kak Ray tersenyum menatapku.
"Begini lebih bagus."
Masa?

"Kedua, berpakaian lebih funky. Jangan semua dimasukkan seperti anak kura-kura." Kak Ray menarik baju belakangku dan menyelipkan sedikit ujung baju ke celanaku. Aku yakin, kalau mama melihatku saat ini, pasti beliau akan sangat marah.

"Ketiga, tunjukkan bahwa kamu memiliki jati diri yang pasti." Kak Ray memasangkan gelang-gelang kain itu ke pergelanganku. Kuhitung-hitung semuanya berjumlah lima biji. Tiga di kanan, dan dua di kiri.

"Keempat, ayo ikut aku."
"Ke mana, Kak?"
"Ekskul Basket. Khusus kakak kelasmu."
"Hah?"
Dan baru aku ketahui bahwa basket itu menyenangkan. Kak Ray meyakinkan sahabat-sahabatnya bahwa aku 'harus' diterima mulai saat itu. Kurasakan keringat menetes membanjiri sekujur tubuhku saat aku berlari, melompat. Kakak-kakak yang lain dengan ramah mengajariku cara melakukan dribbling, pivot, shooting, dan berbagai atraksi lainnya. Aku sedikit kecewa saat ekskul berakhir. Sementara aku masih belum menghapal benar setiap gerakan yang mereka ajarkan.
"Nih. Bawa pulang. Main di rumah saja."
Kutangkap bola basket itu. Luar biasa. Semua kakak pelatih menatapku dan tersenyum mengangguk.Aku kini salah seorang dari mereka. Luar biasa.

Setelah mengantarku sampai ke depan rumah, Kak Ray menyodorkan tas sekolahku. Katanya, tas ini tadi dititipkannya pada salah seorang sahabatnya. Mungkin lebih tepat disebut 'bawahannya'?
"Di sini pelajaran ke lima, jangan lupa mempelajarinya di rumah nanti." Kutatap pandangannya yang ramah. Sekejap aku mulai merasa ingin menangis. Tapi Kak Ray meninju lenganku dengan keras.
"Pelajaran selingan, jangan menangis seperti banci."
Kubusungkan dadaku dan berusaha menahan air mataku. Kak Ray tertawa dan berlalu sambil melambaikan tangannya.
"Jangan lupa, pelajari baik-baik."
Tentu saja, Kak.

Mama sekejap merasa heran dengan penampilanku yang begitu aneh. Tapi beliau lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya. Papa malah menatapku dengan tersenyum.
"Kamu tampak seperti laki-laki."
Dan aku merasa benar-benar bangga. Ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin. Tapi aku segera berlari ke kamar dan membuka tasku dengan penuh penasaran.

"Teka-teki Kepribadian oleh bla bla bla."
Hanya ini?? Sebersit rasa kecewa merasukiku. Kubuka halaman pertama. Dan secarik kertas terjatuh. Segera kupungut dan kubaca. Akhirnya. Aku ingin menangis lagi. Tapi kubusungkan dadaku dan berlari ke depan cermin. Kutiru gerakan Kak Ray saat menjadi guard di ekskul basket tadi sore.
"Dan kalian gadis-gadis. Akan segera kujilat. Satu-persatu."

Cerita Dewasa - Rasa percaya diriku terasa surut seketika saat menyaksikan bayangan di depan cermin itu. Awut-awutan mungkin sebuah kata yang tepat. Tapi seperti kata buku semalam. Aku seorang sanguinis. Penuh percaya diri. Tapi mama tak boleh melihatku. Jadi kularikan saja tubuhku keluar tanpa berpamitan. Di sepanjang trotoar kupraktekkan gaya berjalan John Travolta dalam film Grease--persis gaya berjalan Kak Ray saat menelusuri lorong sekolah. Stylish. Penuh gaya. Kukunyah permen karet di mulutku dengan berirama.
It's a new me.
Ray Junior.
Si pewaris.
"Hahahaha.. huahahaha.."
Gendang telingaku terasa sakit. Semua anak menatapku dengan tertawa. Mata mereka menyipit seperti mata setan. Aku gila. Aku gila. Kulihat Mela menutupi mulutnya dan terbahak-bahak sampai mengeluarkan selembar tissue dari tasnya. Apakah aku sekonyol itu? Apakah kakak-kakak itu mempermainkanku? Tak mungkin. Kak Ray begitu baik. Buku itu. Aku harus cuek. Kutegakkan tubuhku dan melangkah mendekati salah seorang anak yang tertawa paling keras. Kudekatkan wajahku dan mendesis.

"Kamu..sirik, ya?"
Tawa-tawa itu terhenti seketika. Aku merasa sedikit lebih tangguh dari yang kukira. Tentu saja sebelum lengan-lengan itu meraihku dan menempelkan punggungku ke tembok.
"Heheh.. si Helm.. eh.. Kaktus ini sudah mulai rewel."
Aku tak boleh gemetar sekarang. Aku harus berani. Kuayunkan dengkulku sekuat tenaga dan menyaksikan anak di depanku terjatuh. Darahku tersirap, sejenak keringat dingin menyeruak tengkukku. Kurasakan anak-anak lain yang memegangiku sejenak ikut terdiam melihat reaksiku yang tak terduga. Mendadak suasana menjadi riuh rendah. Kupejamkan mataku saat kepalan tangan itu terangkat.

"Hey, Rik. Kok tidak segera datang? Kamu ditunggu loh."
Kubuka mataku perlahan. Kerumunan anak itu mendadak menyeruak. Seseorang berdiri dan bersandar di ambang pintu.
"Ayo, tunggu apa lagi?"
Kukembangkan senyumku melihat Kak Ray yang mengerutkan alisnya tak sabar. Beberapa gadis mulai kasak-kusuk di sebelahku. Anak yang terjatuh tadi tak mengucapkan sepatah katapun. Begitupula anak-anak yang memegangiku. Kalian baru tahu, ya? Aku salah seorang dari mereka. Kulangkahkan kakiku keluar kelas, bergabung dengan Kak Ray dan teman-temannya. Tak berapa jauh dari kelas, Kak Ray berbisik di telingaku.
"Bodoh. Jangan pernah memejamkan mata."
Beberapa kakak yang menguping tertawa. Kurasakan wajahku memerah.

Hubunganku dengan Kak Ray semakin dekat. Kak Ray mulai menjemputku sebelum ekskul basket, dan mengantarku pulang setelahnya. Aku sangat mengagumi kemampuan Kak Ray berkomunikasi dengan papa dan mama. Kedua orang tuaku sering membincangkan kebaikan-kebaikannya di meja makan. Aku merasa semakin bangga saat mereka menganjurkanku untuk bisa menjadikan Kak Ray sebagai teladanku.Anak-anak itu? Mereka tak pernah lagi mencemoohku setelah kejadian itu. Mereka justeru berubah seratus delapan puluh derajat. Anak-anak pria selalu mengerubungiku dan bertanya-taya tentang informasi terbaru di dunia elite kakak kelas. Gadis-gadis mulai melirik ke arahku dengan malu-malu. Beberapa dari mereka bahkan mulai dijodoh-jodohkan denganku. Aku sendiri tak menyadari perubahan yang terjadi padaku. Semenjak ikut ekskul basket beratku berkurang jauh. Pipiku yang semula seperti bakpao sekarang sudah mengempis--setidaknya istilah yang tepat menurutku. Buku yang diberikan Kak Ray padaku tempo hari sangat bermanfaat. Apalagi setelah aku berhasil memasuki kamarnya --yang ternyata sangat berantakan-- aku bisa membaca apapun yang aku inginkan. Mulai dari cara menjadi pendengar yang baik, cara berkomunikasi dengan orang-orang dengan keaneka ragaman mereka. Aku mulai bisa membuat mereka tertawa. Aku mulai bisa memberikan nuansa kehadiranku di tengah-tengah mereka. Dan itu sungguh menceriakan hidupku dari sisi yang belum pernah kualami sebelumnya. Sampai tiba pelajaran ke-enam. Wanita dan Cinta.

"Ehm, Rik. Mau temani aku ke tata usaha?"
"Huh?" Kupandangi wajah gadis itu dengan seksama. Dalam hati aku tertawa. Alangkah konyolnya gadis ini. Ternyata masih banyak gadis yang lebih cantik darimu. Lalu kenapa aku harus mau?
"Aku ma.."
"Please."
Dan kini aku berjalan mengiringinya ke ruang tata usaha. Menyebalkan. Mengingat betapa enam bulan lalu gadis ini menamparku di depan teman-temannya. Dan inilah. Dan itulah. Konyol benar.

"Rik, maafkan aku waktu itu."
"Oh, yang mana?"
"Jangan menggodaku," Mela menundukkan kepalanya, "Kamu tahu."
"Aku sudah lupa."
"Rik."
"Yang kamu menamparku? Wah, aku barusan lupa."
Kubiarkan gadis itu mencubit lenganku dan berlari malu-malu. Mendadak rasa suka itu datang lagi.

Cerita Dewasa - Pelajaran ke-enam kuhabiskan semalaman bersama Kak Ray di kamarnya. Kak Ray menunjukkan foto-foto gadis yang pernah dikencaninya. Aku terkagum-kagum melihat beberapa gadis yang berasal dari SMP lain. Selebihnya, aku berusaha keras mencerna semua yang dikatakannya dalam otakku. Semua. Sampai aku hapal.

Inikah rasanya?
Kubuka perlahan kancing baju gadis itu. Menelan air liurku saat menatap buah dada yang menyembul dari balik bra itu. Ingatanku melayang pada selorohan Kak Ray, "Payudara yang paling asyik adalah payudara muda yang sama sekali belum pernah tersentuh."
Itu sebuah kenyataan.
Kugerakkan lenganku dan menekan kulit payudara itu, merasakan kekenyalannya di jemariku. Mela mendesah dan meraba punggungku. Kujulurkan lidahku dan menjilat apapun yang bisa kujilat. Kususupkan jemariku ke balik cup bra-nya dan bergetar saat merasakan puting susunya. Luar biasa. Inikah yang dinamakan payudara? Inikah yang disebut puting susu? Kutarik cup itu ke atas dan membuka mataku lebar-lebar, mengamati setiap lekuk payudara di hadapanku. Mela mendesah saat kukecup puting susunya. Gadis itu menggeliat penuh kenikmatan. Kugerakkan lidahku seperti yang diajarkan Kak Ray padaku semalam. Letter U. Letter S. Letter O. Dan dapat kudengar desahan itu keluar dari bibirnya.

Itu yang pertama.
Sebulan berikutnya aku mulai sedikit jarang menghabiskan waktu bersama Kak Ray, kecuali saat ekskul basket seminggu dua kali. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Mela. Menjelajahi dan menemukan apa yang belum pernah kualami sebelumnya. Saat itu aku sudah mulai berani menelanjangi tubuh atasku dan tubuh atasnya, menempelkan ketelanjangan dada kami satu dengan lainnya. Jemariku mulai beraksi dengan lebih mahir. Aku mulai bisa memagut bibirnya sementara tanganku beraksi di dadanya. Jilatan-jilatanku pada puting susunya mulai terasa mengalir seperti kebiasaan sarapan pagi.

Bulan kedua.

Aku mulai berani mempertontonkan kemaluanku padanya. Bersama kami mempelajari cara-cara melakukan masturbasi satu dengan lainnya. Ketakjubanku saat melihat vagina untuk yang pertama kalinya di depan mataku menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan. Aku menyukai kelembaban liang itu saat jemariku menyentuh dan memainkan bibir-bibirnya. Aku menikmati setiap desahan yang keluar dari bibirku saat jemari Mela memainkan batang penisku. Mela sempat menjerit kaget saat spermaku menyembur dan membasahi telapak tangannya. Tepat di minggu ke tiga bulan kedua aku bersamanya, aku sudah memberanikan diri untuk menjilat kemaluannya. membiarkan wajahku dibasahi oleh cairannya. Kata-kata Kak Kemal selalu terngiang di telingaku.
"..lalu.. menjilati kemaluan mereka dan meminum cairan mereka sepuasnya. Bergantian. Dari hari ke hari. Dan mereka begitu terpesona.."
Dan aku mengerang saat Mela mencium kemaluanku dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Benar-benar sebuah perasaan yang luar biasa. Apakah gadis-gadis yang lain juga serupa? Bergantian. Aku juga menginginkan mereka.

Bulan ketiga minggu kedua.

Cerita Dewasa - Saat itu aku bahkan masih bisa terkagum-kagum dengan Kak Ray, guruku dan sahabatku. Bahkan dengan kebengalannya, ia masih bisa menduduki rangking di sepuluh besar danem tertinggi di SMP kami. Walaupun bukan tiga besar, tapi tetap sebuah prestasi yang mengagumkan. Saat itu aku sudah positif memenangkan pemilihan Ketua OSIS. Temanku sudah begitu banyaknya. Mela juga semakin dekat denganku. Gadis-gadis sudah mulai bersuit saat aku lewat. Tak ada yang kurang dalam hidupku. Apalagi setelah papa membelikanku sebuah Honda Tiger hijau metalik. Persis seperti kepunyaan Kak Ray. Kudengar Kak Kemal juga sudah lulus dengan nilai memuaskan. Aku juga harus bisa. Kutekadkan itu. Pandai dalam bergaul dan cerdas akademik.

"Rik, mulai sekarang kamu sendiri. Sanggup?"
"Sanggup, Kak." Kupandangi STTB dan Danem yang terselip di lengannya. Aku ingin memeluknya saat itu juga.
"Aku setelah ini di kompleks. Kalau ada apa-apa, aku di Warung Ibu."
"Ya, Kak."
"Pelajaran selingan, jangan menangis."
Ia tahu. Tapi aku tak perduli. Kak Ray tersenyum dan menyeka air mata di pipiku, "Bodoh. Oh, ya. Pelajaran ketujuh. Tentang berhubungan seksual.."
"Aku tahu, Kak. Aku tahu," isakku.
"Oh, baguslah."
"Aku sudah melakukannya. Dengan Mela. Luar biasa."
Aku tersenyum, mengharapkan pujian darinya.
Tapi Kak Ray mengangkat lengan kanannya dan menepukkannya di dahinya sendiri. Wajahnya terlihat pucat dan matanya membelalak.
"K..kenapa, Kak?"

"Pelajaran terakhir.. jangan sampai terjebak dan terikat."
Kudengar Kak Ray mendesah menatapku.
Kurasakan jantungku berdegup kencang.

"Jangan terjebak. Jangan terikat."
Satu-satunya jurus yang tersisa.
Satu-satunya yang terlewatkan.

Masa depan mendadak terbentang terlalu jelas di depan mataku.

Permainan Terlarang

Sama-samar kudengar suara hujan dari kamar hotel yang kubooking bersama teman-teman untuk acara tahun baru nanti malam. Kupandangi kamar yang bertarif 700 ribu dengan pandangan kagum dan bangga karena bisa menginap di hotel mewah bintang lima yang baru berdiri sejak 5 bulan yang lalu. Interior yang mewah dan suasana yang romantis serta ciri khas kebudayaan daerah yang jelas terpampang membuatku merasa nyaman untuk tinggal di kamar berduaan dengan pasangan, begitu yang terlintas di benakku.

Perlahan saya bangkit dari tempat tidur berukuran king size yang telah kududuki selama 5 menit. Pandanganku yang semula menonton acara MTV kualihkan ke arah jendela. Saya berjalan menuju jendela, memandang keluar melihat kotaku yang disiram oleh hujan yang telah berlangsung selama selama dua pekan. Dingin hujan ditambah dengan dinginnya AC membuat diriku merasa bergolak untuk menikmati kehangatan dari seorang wanita yang telah lama menjadi partnerku untuk urusan sex.

Klik..

Kudengar suara kunci pintu diputar dan pintu kamar mandi terbuka diiringi dengan langkah seorang gadis yang keluar dari kamar mandi. Maya, begitu nama gadis partner sexku. Sebenarnya kami pernah berpacaran selama kurang lebih tiga tahun yang selalu disertai putus sambung sehingga akhirnya kami menyadari bahwa kami tidak dapat bersatu disebabkan oleh perbedaan prinsip. Namun karena masih memiliki rasa sayang kami akhirnya berkomitmen untuk menjadi ‘sahabat’ yang saling membantu termasuk untuk urusan sex.

“Loh, kok belum dibuka sih bajunya say. Lagi liat apa?”
“Hhmm.. Gak liat apa-apa kok. Cuman lagi liat pemandangan kota aja.” jawabku.

Maya berjalan ke arahku dan kemudian memelukku dari belakang. Kurasakan dadanya yang berukuran 36-B menghimpit punggungku. Rasa hangat kurasakan di punggungku, kudekap tangannya yang melingkari dadaku. Memang tinggi badan kami sepadan, yaitu 168 cm. Yang berbeda hanya beratnya saja, Maya 48 Kg dan saya 55 Kg.

“Say, udah lama yah kita ga berduaan seperti ini. Saya kangen banget ama kamu.” bisik Maya.
“Namanya juga tinggal berjauhan. Masak kamu tega sih nyuruh saya tiap hari bolak balik S-BL. Emangnya saya penjabat? Kalo pengacara iya. He.. He.. He..” candaku.
“Ihh.. Nihh orang. Asal aja ya ngomongnya.” sambil berkata demikian Maya memasang tampang cemberut sambil melayangkan cubitan ke arah pinggang dan tanganku.

Secara refleks kubalikkan badanku dan kutangkap kedua tangannya. Sambil senyum kutatap kedua matanya dan perlahan kucium bibirnya yang merah merona. Dengan mata terpejam Maya menerima ciumanku dan kedua tangannya perlahan-lahan memeluk leherku. Kedua tanganku kuarahkan ke bongkah pantatnya yang montok dan kuremas-remas. Ternyata Maya hanya mengenakan celana dalam berenda warna merah dan buah dadanya dibiarkan tanpa ditutupi dengan BH. Kurasakan lidah Maya menari bersama lidahku, kami saling berpagutan dengan penuh nafsu.

Tiba-tiba..

“Aduh..!! Apaan sihh! Sakit tahu!” kulepaskan ciumanku. Kurasakan sakit di bibirku. Maya sengaja menggigit bibir bawahku, raut muka nakal terlihat dari wajahnya yang bersih.
“Rasain. Itu balasannya yang udah buat saya kangen selama 6 bulan. Gara-gara suara kamu yang mendesah-desah di telepon saya sampai gak bisa tidur sebelum masturbasi.” jawab Maya sambil tersenyum.

Memang selama ini setiap kali kami saling telepon akan ada selingan sex telepon selama 20 menit. Hal itu sering kami lakukan sehingga membuat tagihan telepon kami menjadi bengkak. Maklumlah selama ini kami kuliah di kota berbeda. Maya di kota Sd dan saya di Kota S tetapi setiap 6 bulan saya dan Maya berusaha pulang ke kota kami di BL.

“Awas kamu yahh. Kubalas nih..” Langsung kucium bibir Maya dengan penuh nafsu. Maya berusaha mengimbangi ciuman yang kulancarkan sambil tangan kanannya mengelus-elus penisku dari luar celana. Tangan kananku pun tak mau kalah, kuremas buah dada Maya sebelah kanan sambil kupelintir putingnya yang berwarna kecoklatan.

Masih saling berciuman, kedua tangan Maya berusaha membuka kancing celana jins biru tua kesayanganku. Setelah berhasil membuka kancing dan resleting celanaku, secara otomatis celanaku jatuh ke bawah melewati kedua kakiku, yang tersisa hanyalah CD-ku saja. Kuangkat kedua kakiku secara bergantian untuk lepas dari celana yang sudah jatuh ke lantai. Maya langsung memasukkan tangannya kedalam CDku, perlahan-lahan tangannya mulai mengelus dan mengocok penisku yang sudah tegak berdiri dari tadi.

Kulepaskan ciumanku dan dengan cepat pula kulepaskan kaos yang kupakai serta CD-ku. Begitu melihat penisku yang berdiri tegak ke atas, Maya terlihat kaget.

“Gila! Say, kontolmu kok tambah gede? Habis kamu apain?”
“Nggak kuapa-apain kok. Paling cuma ngocok aja waktu kita sex di telepon.”
“Ah yang bener.. Jangan-jangan kamu sering ngentot ama perempuan lain yahh..”

Pertanyaan Maya hanya kujawab dengan senyuman, memang gaya bahasa Maya agak kasar bagiku tapi Maya memang kuajarkan untuk berbahasa kasar ketika kami sedang bercinta karena Maya dulunya adalah gadis alim yang punya nafsu sex yang besar tapi tidak dapat tersalurkan.

“Udah jangan ngerusak suasana, mo dilanjutin nga acara ngentotnya? Kalo mau buka donk CD-nya”
“Ihh.. Yayangku kok jadi pemarah sih.. Hehehehhe..” Sehabis berkata demikian Maya segera melepas CD-nya. Terlihat bulu kemaluannya yang tercukur tipis dan rapi membuat diriku bertambah nafsu.

Kembali kucium Maya dengan penuh nafsu sambil kutuntun Maya ke arah ranjang dan kuremas-remas kedua buah dadanya. Maya pun tidak tinggal diam, kedua tangannya asyik mengelus biji penisku dan mengocok penisku dengan lembut. Kudengar suara napas Maya dan diriku sudah mulai berat seperti habis olahraga selama 2 jam. Begitu sampai di tepi ranjang, Maya menjatuhkan dirinya secara perlahan dengan ditopang oleh kedua tangannya dengan posisi masih dalam keadaan berciuman. Begitu Maya sudah dalam posisi tidur, perlahan ciumanku mulai kuarahkan ke bagian telinganya, turun ke leher dan akhirnya berhenti di dada sebelah kanan. Kuhisap secara bergantian kedua puting milik Maya yang sudah mengeras sambil kuremas-remas dengan penuh nafsu. Tangan Maya mencengkeram kepalaku sambil merintih pelan.

“Sstt.. Ah.. Ahh.. Hmm.. Eennaakk Say..”

Lidahku mulai menari di kedua puting milik Maya. Kujilat, kusedot-sedot dan kugigit-gigit pelan kedua putingnya secara bergantian. Puting yang sudah mengeras seperti biji kacang atom menambah nafsuku untuk terus bermain di dadanya. Memang untuk ukuran wanita puting susu milik Maya termasuk besar dan saya termasuk lelaki yang lumayan suka dengan puting susu wanita yang besar (karena menurut mitos yang kubaca di majalah, wanita dengan puting susu besar memiliki nafsu sex yang besar pula).

Kedua tangan Maya mulai mengacak-acak rambutku. Kuarahkan tangan kiriku ke daerah vaginanya. Perlahan kuarahkan jari tengahku ke belahan vaginanya. Kurasakan vagina Maya sudah mulai basah. Kumasukkan secara perlahan jari tengahku kedalam lubang vaginanya dan jari tengahku mulai bermain di dalam lubang kenikmatannya. Kedua tangan Maya menjambak rambutku secara tiba-tiba sambil mengeluarkan suara.

“Uuhh.. Ahh.. Say udah nga tahan lagi nniihh.. Cepat Masukin kontolnya..!”

Rengekan Maya tetap tak kuhiraukan, kumainkan kedua dadanya sambil kupercepat pompaan jari tengahku di dalam lubang kenikmatan milik Maya. Rupayanya Maya sudah tidak tahan, berkali-kali kedua pahanya menjepit tanganku. Selang 5 menit kemudian Maya mengejang, kedua pahanya menjepit tanganku dan rambutku dijambak dengan kuatnya.

“Aahh..” Erang kenikmatan Maya.

Tanganku penuh dengan cairan kenikmatan yang terasa hangat, jari tengahku pun terasa dipijit perlahan oleh dinding kenikmatan milik Maya. Begitu kedua pahanya mulai longgar kutarik tanganku dan kujilat cairan kenikmatan dari Maya tanpa sisa. Tampaknya saya masih haus dengan cairan kenikmatan milik Maya, segera kuarahkan kepalaku ke vaginanya dan kujilat serta kusedot-sedot vagina milik Maya. vaginanya terasa becek lagi, Maya kembali mengusap-usap kepalaku.

“Say, gantian donkk. Maya khan juga pengen ngisap kontolmu, pengen rasain sperma kamu.”
“Ya udah kita ganti posisi ke 69 aja. Saya di bawah yahh..”

Kami pun berganti posisi, saya tidur telentang dan Maya naik diatas perutku. vagina Maya yang terlihat basah dengan warna merah kecoklat-coklatan diarahkan ke mukaku. Segera kusambar vagina, kujilat, kusedot-sedot, dan kumainkan lidahku di vagina Maya. Maya sendiri asyik dengan kontolku, perlahan dikocok dan dihisap kontolku dengan lembut disertai dengan permainan lidah Maya di seputar kepala kontolku. Kurasakan rasa dingin bercampur nikmat setiap kali Maya memainkan lidahnya di seputar kepala kontolku. Tanpa bisa kucegah kutembakan cairan spermaku kedalam mulut Maya, Maya langsung berhenti menghisap kontolku. Setelah selesai kukeluarkan spermaku Maya menelan semua spermaku dan menjilat sisa-sisa sperma yang ada di kontolku.

“Satu sama yahh..” Maya tersenyum sambil mengedipkan matanya.
“Spermamu banyak juga, saya sampe sempat eneg waktu nelannya..” Sambil berkata demikian Maya berlutut di samping tubuhku.
“Iya udah dua minggu nggak ngocok biar bisa keluarin di mulut kamu ama di dalam memek kamu.”
“Daasarr..! Masukkin ya kontolnya..” ujarnya sambil meraih kontolku dan mengarahkannya ke vagina miliknya.
“Iya, masuukin aja. Saya udah nggak tahan nih..”

Kontolku masuk dengan mudahnya di vagina Maya yang sudah basah oleh cairannya sendiri dan cairan ludahku. Setelah masuk semuanya, Maya mulai perlahan naik turun diatas kontolku. Dengan posisi Maya diatas dia terlihat sexy, kedua payudaranya ikut naik turun mengikuti irama Maya yang memompa kontolku. Kupeluk pinggangnya dan perlahan kugoyangkan kedua pinggulku mengikuti irama goyangan Maya. Tak lama kemudian Maya terlihat begitu liar, dia menggoyang pinggulnya dengan cepat dan ditopangkannya kedua tangannya ke dadaku.

“Cepookk.. Cepokk.. Ceepookk..”, ternyata vagina Maya sudah becek sekali sehingga menimbulkan bunyi dan tak berapa lama kumudian Maya mengalami orgasmenya yang kedua.

Maya pun merebahkan tubuhnya ke dadaku yang bidang, kurasakan kontolku dipijat-pijat dengan perlahan oleh dinding vagina Maya. Kubiarkan Maya menikmati sisa-sisa orgasmenya. Setelah nafas Maya mulai teratur segera kubalikkan tubuhnya dan kini posisi kami adalah missionary. Maya hanya bisa menatapku sambil tersenyum, kupompakan kontolku dengan perlahan sambil mencium bibir Maya. Semakin lama kupercepat pompaan kontol dengan hitungan 10x pompa cepat 1x tusukan yang dalam (teknik ini kupelajari semalam sebelumnya dari sebuah majalah bacaan dewasa). Rupanya Maya sangat menikmati teknik yang kulakukan padanya.

“Ehh.. Hhmm.. Say.. Enakk..”
“Teerruuss sayy.. Teerruuss.. Ahh..”
Tiba-tiba.., “Saayy..” teriak Maya.

Saya masih terus memompa vagina Maya, tak kuhiraukan teriakan dan cakaran Maya di punggungku. Kucium bibir Maya dan kemudian kualihkan ke payudaranya. Kunikmati kedua puting coklat Maya seperti saya menikmati es krim. Rasa pegal dikedua tanganku mulai terasa, perlahan kurebahkan badanku diatas tubuh Maya dan kucium bibirnya dengan nafsu. Maya tampak begitu nafsu menyambut ciumanku, dia menyedot lidahku dan memainkan lidahnya didalam rongga mulutku. Puas dengan ciuman dibibir kuarahkan ciumanku kekupingnya. Kumainkan lidahku di lekukan telinganya, hal ini membuat Maya tambah naik nafsunya.

“Say.. Geellii.. Aahh..”
“Sayy.. Lebbihh dallaamm lagii.. Teruusshh..”

Racauan Maya tak kudengar lagi karena tiba-tiba kurasakan kontolku hendak memuntahkan ‘peluru’ yang sudah lama kutahan.

“May.. Saya mo keluar nihh..”
“Sama-sama.. Saya juga mo keluar kokk..”

Kupercepat pompaanku dan tak lama kemudian.. Kutekan pinggulku dengan kuat ke dalam vagina Maya dan kulepaskan sperma yang sudah siap untuk bertemu dengan induknya. Sekejap rasa nikmat, puas dan lega menjadi satu membuat diriku seperti terbang ke langit kesembilan.

“Saayy.. Saya.. Sayaa.. Aahh..”

Kedua paha Maya menjepit pinggulku, Maya pun mengalami orgasme yang ketiga. Kubiarkan Maya memelukku, kudengar suara nafas Maya yang terengah-engah seperti lari 5 km. Berangsur-angsur nafas Maya mulai kembali normal. Perlahan kuangkat tubuhku, kulihat Maya tersenyum dengan bahagia. Kucium bibirnya dan kurebahku tubuhku disampingnya. Maya memelukku sambil tangannya mengelus-elus kontolku (Sejenak saya berpikir mengapa kontolku tidak lemas setelah berhubungan dengan Maya, apa memang nafsuku sedang tinggi. Tapi tak kuhiraukan kejanggalan tersebut karena hari ini saya memang akan bercinta sampai puas dengan Maya).

“Say, tadi itu enak banget. Saya ampe keluar empat kali. Kamu emang perkasa..”
“Loh.. Bukannya tiga kali? Tadi kamu tiba-tiba teriak kenapa?”
“Ihh.. Kamu ini. Tadi itu pas ngentot pertama saya keluar trus keluar lagi barusan. Jadi selama ngentot tadi saya keluar 2 kali.” Maya tersenyum malu ketika mengatakan hal tersebut
“Jadi hari ini saya yang menang yahh.. Hehehhehe..”
“Iya, kamu yang menang. Kontol kamu enak banget say. Tambah gede dan juga kamu tambah pintar aja. Sapa yang ngajarin?”
“Ada dehh.. RAHASIA. Tapi memek kamu juga enak, kelihatannya tambah sempit. Beda ama waktu kita ngentot pertama kali. Makasih yahh..! CUP..” ujarku sambil kukecup keningnya tanda ucapan terimakasih dan sayang. Tampak raut muka Maya tersipu malu bercampur senang dan memelukku dengan lebih erat lagi.
“Yang penting kamu bisa membuat saya puas itu sudah cukup kok.”

Setelah itu permainan kami lanjutkan seharian di kamar mandi, di ranjang, di atas kursi tamu, di depan jendela yang menghadap ke kota serta di lantai kamar beralaskan selimut hotel yang tebal. Total permainan kami saat itu adalah sekitar 8 kali.

Akhirnya Maya kuantar pulang ke rumah pukul 21.45 dan saya kembali ke hotel tempat saya melakukan ‘olahraga’ nikmat bersama Maya karena malam itu saya mengadakan pesta tahun baru bersama teman-temanku. Sepanjang jalan kuputar lagu Stinky yang berjudul ‘Cinta Suci’ secara berulang-ulang dan saya pun dengan suara lemas ikut menyanyikan lagu tersebut.

Seks Unik

Pagi itu, aku lupa hari apa, aku masih tertidur di ranjangku, yang kebetulan sekamar dengan orang tuaku. Kata orang tuaku sich, kami tidur seranjang untuk menghemat biaya AC yang cukup mahal itu. Saat itu Aku memakai baju tidur satin warna pink yang tidak berlengan. Di dalamnya hanya mengenakan celana dalam warna kuning yang mini, sehingga kalau ada pria yang melihat pasti akan terangsang melihatnya.

Hari itu, mama dan papaku kembali sedang pergi ke Jakarta. Sedang ciciku sudah ke kantornya. Memang sudah kebiasaan di rumahku, jika ada orang di rumah, pintu depan tidak pernah terkunci, hanya dirapatkan saja.

Pagi itu, aku tidak tahu bahwa mamaku memanggil tetanggaku Benny yang tukang servis AC itu, untuk menservis AC di rumah. Benny adalah seorang cowok chinese yang wajahnya jauh dari tampan. Rambutnya agak botak. Tubuhnya tinggi. Usianya tak jauh beda dari ciciku. Katanya sich dia pernah naksir aku.

Pagi itu, sekitar jam 8, Benny datang ke rumahku membawa peralatan hendak menservis AC. Dia mengetuk pintu namun tak ada jawaban karena aku masih pulas tidur di kamar. Maka dia memberanikan diri, karena sudah kenal, masuk ke rumah.

Waktu dia mendekati kamarku, rupanya mamaku lupa merapatkan pintu kamar, hingga agak terbuka sedikit. Benny tanpa kusadari membuka pintu itu pelan-pelan. Aku saat itu sedang tertidur pulas tanpa ditutupi selimut. Baju tidurku juga sudah tersingkap sampai di pusar, sehingga celana dalamku yang berwarna kuning menyala itu terpampang bebas di hadapan Benny.

Aku merasa ada tangan yang meraba-raba pahaku. Namun aku saat itu sedang memimpikan bersetubuh dengan pacarku. Saat tangan itu membelai-belai selangkanganku yang masih tertutup CD itu, aku merasa bahwa itu adalah jilatan-jilatan dari pacarku.

Kurasakan tangan itu semakin berani merabai tubuhku. Diselipkan jarinya dibalik Cdku yang sudah mulai basah itu. Diraba-rabanya bibir vaginaku dari luar.

Tiba-tiba di halaman belakang ada suara genteng jatuh sehingga aku terkaget dan terbangun. Lebih kaget lagi saat kulihat Benny sedang mempermainkan vaginaku dengan jari-jarinya sambil cengegesan.

“Pagi Dya, sorry gua masuk tanpa permisi, abis ngga ada yang bukain pintu. Pas gua masuk eh gua liat lu lagi bobo dengan baju seksi gini.” “Gua ngga tahan kalo liat lu begini”

Aku berusaha menolak Benny, tapi tangannya kuat mencengkeram bahuku sambil jari tangan yang satunya sibuk mengorek-ngorek isi vaginaku dari balik Cdku yang sudah basah itu.

Aku merasakan geli yang amat sangat, namun aku juga tak begitu rela disetubuhi oleh si Bandot ini.

“Sudah Ben.. gua ngga tahan nich.. entar ketahuan orang ngga enak ” kataku sambil berusaha memegang tangannya. Namun dia tetap bertahan “Tenang aja Dya, bentar lagi pasti enak koq.. Ayo lah.. kita kan udah kenal lama, sekali-sekali kasih donk gua kesempatan..” kata Benny sambil terus mengorek-ngorek vaginaku.

Tak lama kemudian aku merasakan akan orgasme, sehingga pahaku menjepit kuat tangan Benny yang ada di selankanganku. Kira-kira 5 menit kemudian aku merasakan ada cairan yang keluar deras dari vaginaku. Aku jadi lemas karenanya dan telentang tak berdaya, pasrah membiarkan apa yang akan dilakukan Benny.

Benny kemudian menaikkan dasterku ke atas hingga lewat kepala dan membuangnya entah kemana. Dia tersenyum mesum melihat payudaraku yang terpampang bebas dengan putingnya yang merah kecoklatan itu.

Dia segera mengenyot payudara kananku, sambil lidahnya bermain-main di atas putingku. Tangan kanannya perlahan-lahan merosot Cdku hingga bugil. Kemudian jari-jarinya kembali ditusuk-tusukkan ke dalam vaginaku yang sudah becek itu. Mulutnya berganti-ganti mengenyot kedua payudaraku.

Aku yang sudah terangsang itu tak sadar mulai mengelus-elus kepala Benny yang botak itu seperti kekasihku. Padahal sebelumnya aku sama sekali tak kepengen disentuh Benny. Namun Benny sungguh sangat pandai menaikkan nafsuku.

Kemudian Benny melepas seluruh pakaiannya hingga terlihatlah kontolnya yang berukuran sekitar 18 cm dengan diameter 4 cm itu. Dia menyuruhku untuk menjilatnya.

Mulanya aku menolak karena kontol itu agak bau, namun dia menjejalkan kontolnya ke mulutku hingga aku mulai mengemutnya. Kepalaku digerakkannya maju mundur seperti sedang dientot oleh kontolnya.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara. “Wah, lagi apa nich.. lagi asik ya.. ikutan donk..” Kami berdua menoleh. Rupanya Bang Man, sopir tetanggaku masuk ke dalam rumahku yang tak terkunci itu. “Sorry non, tadinya mau minjem tangga, eh ternyata lagi pada asyik..” Kata Bang Man.

Aku merasa kepalang basah, maka mendiamkan saja keadaanku yang sedang bugil bersama Benny. Kulihat Bang Man segera melepas celana panjang dan Cdnya. Kontol Bang Man sedikit lebih panjang dari Benny tapi lebih kurus. Selain itu warnanya juga hitam.

Kini kedua pria itu mendekatkan kontol mereka ke bibirku. Sambil terus mengocok kontol Benny yang sudah tegang itu, kontol Bang Man yang masih lemas itu mulai kujilat-jilat. Perlahan tapi pasti kontol itu mulai menegang, hingga akhirnya sama tegangnya seperti kontol Benny.

“Bang, aku udah ngga tahan.. langsung masukin aja ya.. Ben, elu masukin dari bawah aja dech..” kataku kepada keduanya.

Benny kemudian menelentang hingga kontolnya mengacung tegak ke atas. Perlahan aku naik ke atas tubuh Benny dan memasukkan kontolnya ke vaginaku.

Mula-mula agak sakit, namun Benny menghentakkan tubuhnya ke atas hingga bless.. Kontolnya langsung masuk ke dalam lubang memekku.

Aku perlahan-lahan mulai menaik turunkan tubuhku. Tak terlalu susah karena vaginaku sudah basah. Aku merasakan kegelian yang amat sangat saat kontol Benny keluar masuk tubuhku.

Tiba-tiba Bang Man memaksaku agak menelungkup. Kemudian.. bless.. Kurasakan kontolnya yang panjang itu menyodok lubang pantatku hingga aku agak terdongak ke atas. Bang Man segera menjambak rambutku dan menjadikannya sebagai pegangan.

Aku semakin kegelian karena payudaraku yang tergantung bebas itu dijilat-jilat Benny dari bawah. Sungguh sensasi yang luar biasa. Saat Bang Man menyodokkan kontolnya, saat itu pula kontol Benny tertanam makin dalam ke liang vaginaku. Aku sampai dibuat orgasme 2 kali.

15 menit kemudian mereka berganti posisi. Benny masih menelentang, namun dia mendapat jatah lubang duburku. Sementara itu dari depan, Bang Man menyodokkan batangnya kedalam vaginaku yang sudah becek. Bang Man menggenjot kontolnya maju mundur dengan cepat sambil tangannya berebutan dengan tangan Benny meremasi payudaraku.

Aku dibuat menggelinjang kesana kemari oleh terjangan dua cowok ini, hingga akhirnya aku tak tahan dan orgasme untuk entah yang keberapa.

Tak berapa lama kurasakan kontol Benny berdenyut-denyut, dan dia mencengkeram keras payudaraku. Dia kemudian menyemprotkan spermanya banyak sekali di dalam duburku.

Rupanya Bang Man masih perkasa. Tanpa mempedulikanku yang kecapean, dia segera memangkuku, sambil kontolnya naik turun menusuk vaginaku. Bibirnya yang hitam itu sibuk mengenyot-ngenyot puting susuku hingga aku kegelian.

Akhirnya aku kepengen orgasme lagi. ” Bang.. aku mau keluar lagi..” “Tahan non, abang juga dah mau nyampe.. barengan aja ”

Akhirnya kurasakan aku mulai mengejang, Bang Manpun juga demikian. Akhirnya pertahananku jebol. Dari vaginaku keluar cairan banyak sekali. Tak lama kurasakan Bang Man juga menyemprotkan banyak sekali air maninya ke dalam vaginaku.

Kami berdua kecapean hingga telentang di ranjang. Rupanya Benny sudah bangkit lagi. Hingga tanpa memberiku waktu istirahat, dia segera menancap vaginaku.

Hari itu, kami bertiga bermain sex sampai kira-kira hampir sore. Aku merasa sangat kelelahan sekali, namun juga sekaligus puas sekali. Ini adalah pengalamanku yang sangat hebat.

“Nadya, elu sungguh hebat, kapan-kapan kita main lagi ya” kata Benny sebelum pulang sambil menciumku. Dalam hati aku hanya bisa mendongkol. Enakan di dia, ngga enak di guanya, gerutuku dalam hati.

Kisah Penjaga Warnet

Selama 4 hari ini hidupku penuh dengan mengerjakan tugas tugas dan tugas, bahkan aku hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hari Jumat semua tugasku terselesaikan dan kupikir aku bisa tidur dengan nyenyak, eh ternyata aku malah nggak bisa tidur karena beberapa hari tidak tidur tepat waktu menyebabkan siklus tidurku menjadi berubah. Setelah mencoba berbagai posisi untuk tidur tetap tidak bisa, aku memutuskan untuk pergi keluar mencari hiburan. Ke warnet aja ah, pikirku, nyari-nyari koleksi gambar porno sama cerita-cerita hot sekalian 'mengeluarkan' semua masalahku.

Waktu itu sudah jam 12 malam waktu aku pergi ke warnet, samapai di sana aku kaget karena yang jaga adalah wanita yang dulu pernah menggodaku saat aku minta copy film-film BF dari warnet tersebut ke CD, karena biasanya kalau jam begini suaminya yang jaga.

"Ada yang kosong, Mbak?" tanyaku.

"Mas pilih aja sendiri, cuma dua kok yang kepake, lainnya kosong," jawabnya.

"Wah Mbak, kok jadi kayak ke panti pijat aja pilih sendiri, ada katalog pemijatnya Mbak?" balasku sambil bercanda.

"Ih, Mas nih nakal ya, sudah biasa ke tempat gituan ya kok bisa tahu? Hayoo.."

"Ah, nggak kok Mbak, cuma pernah baca aja. Aku main dulu ya Mbak, maksudnya main internet, jangan mikir yang jorok dulu."

"Yee.., sudah tahu, emang selain main internet di situ mau main apa lagi?"

"Mainan mouse, mainan keyboard, mainan.. Ada deh, Mbak mau tahu aja sih."

"Iih.. Nakal, sudah main mainan kamu sana!"

Terus terang aku ngelihat Mbak itu aja sudah tegang lho, apalagi diajak becanda yang jorok-jorok, iihh.., jadi nggak tahan mau 'ngeluarin'. Sebut saja nama Mbak itu Meri, dia sudah bersuami tapi body tetap terawat. Dengan payudara yang kelihatan mantap bila dipegang, 34D mungkin (mungkin lho), dipadu dengan pantat semok yang bulat padat, walaupun tidak terlalu tinggi tapi sudah cukup menggoda imanku, hehe. Tidak putih, agak hitam, dengan wajah yang lumayan di umurnya yang sekitar 27-an.

Aku mulai dengan membuka e-mailku, sambil menunggu loading aku membuka mirc dan masuk ke channel #ngewe sambil baca cerita-cerita panas yang ada di channel itu. Nggak percaya? Coba aja sendiri! Aku juga buka sumbercerita.com (tentunya). Di masing-masing komputer terdapat koleksi film-film BF dari barat sampai timur, segala macam ras ada, jadi nyambi nonton juga.

Biasanya aku ke warnet untuk ngambil cerita dan gambar-gambar untuk kubawa ke kos, terus lihat di komputerku sambil.., kalian para cowok pasti tahulah. Tapi karena masalah yang sudah terlalu banyak menumpuk dan ditambah dengan godaan si Mbak tadi, akhirnya aku nggak tahan untuk 'ngeluarin' semuanya, lagipula aku belum pernah 'keluar' di warnet, jadi nyoba sensasi barulah. Saat aku sudah hampir 'keluar' buru-buru aku pergi ke kamar mandi yang letaknya (sialnya) di depan Mbak itu dengan anu-ku yang sedang di puncak ketegangannya.

"Mbak, kamar mandinya boleh dipakai?' tanyaku.

"Boleh, pakai aja. Tapi barusan ada orang yang barusan masuk, jadi tungguin saja bentar."

Sial, pikirku. Dasar orang tidak bermoral, menyiksa orang yang sedang di jalan menuju kenikmatan. Apalagi dari tadi aku lihat si Mbak itu lagi ngelihatin ehm, itu-ku yang lagi tegang. Terpaksa aku balik badan menghadap ke pintu kamar mandi karena malu, walaupun tambah tegang lagi gara-gara dilihatin. Aku menunggu dengan resah dan wajah yang kesal penuh dengan keringat, dan nafasku yang nggak beraturan, di depan dia lagi.

"Emangnya mau ngapain sih Mas, kok buru-buru amat, kelihatannya nggak sabaran gitu?" tanya si Mbak itu.

"Eh, nggak kok, cuma mau kencing saja, sudah nggak tahan nih."

"Masa' nahan kencing saja sampai keringetan, nafas kamu juga ngos-ngosan gitu, jangan-jangan kamu mau..? Sudah nggak tahan ya? Perlu dibantuin nggak?" godanya.

Dia ngomong gitu aku jadi malu, nunduk, dan anu-ku kok anehnya nggak turun-turun, tetap tegang.

"Uh, dasar Mbak ini jorok, dibilangin aku sudah kebelet kencing kok."

"Kebelet kencing apa kencing? Ntar yang keluar bukannya kuning malah putih lagi."

"Putih? Emang apaan Mbak? O ya, di dalem ada sabunnya nggak? Sekalian nyabun, ngebersihin maksudnya."

"O tentu ada dong, kan kami juga ikut membantu bagi orang-orang yang kepengen nyabun, kaya kamu gitu."

"Yee.. Mbak nih. O ya, tawaran bantuannya tadi jadi nggak, he.. he.."

"Kamu ini kok denger aja sih pertanyaan basa basi gitu? Tapi nanti siapa yang jaga dong?"

"Nggak kok Mbak, cukup dengan ngelihat Mbak saja itu sudah membantu kok."

Akhirnya orang yang di kamar mandi tadi keluar dengan tampang yang penuh kenikmatan, aku dan si Mbak berpandangan sambil sedikit tersenyum ngelihat si orang tadi.

"Sudah ah Mbak, sudah nggak tahan nih, aku masuk dulu ya."

"Iya iya, masuk sana, keburu lemes duluan ntar. Semoga sukses ya!" godanya sambil memberi semangat.

Kututup pintu kamar mandi, dan aku mulai melepaskan celana pendek dan celana dalamku yang menahan 'adik'ku ini untuk maksimal. Aku membersihkan tanganku dulu, lalu mulai mengelus-elus kepala 'adik'ku. Kuelus ujungnya, karena tidak disunat jadi ujungnya masih ada sedikit kulit yang menutupi lubang 'anu'ku. Sambil membayangkan hal-hal yang porno, termasuk jika aku sedang bercinta dengan Mbak tadi, kujepit ujung kemaluanku dengan dua jari kananku, lalu kugosok-gosok dengan jempol kananku. Rasanya geli (coba aja), lalu aku mulai mengambil sabun, mengusapnya di tangan dan batangku. Aku pegang batangku, aku kocok-kocok, makin lama makin cepat dan akhirnya keluarlah segala masalahku. Mungkin karena terlalu nikmat sehingga tanpa sadar aku sedikit melenguh, aku lupa kalau itu sedang di kamar mandi warnet. Tapi ya sudahlah, paling-paling nggak ada yang denger. Habis itu aku cuci dengan bersih batangku dan tanganku, kupakai lagi CD dan celanaku, lalu aku keluar untuk kembali ke KBU ku.

"Sudah puas keluarnya?" tanya si Mbak tadi, yang sedikit mengagetkanku.

"Keluar apaan? Lagian, kok Mbak tahu?"

"Abisnya tadi aku denger suara kamu, aku pikir kenapa, tapi ah paling-paling juga gitu. Berarti nggak perlu bantuan Mbak dong?"

Mendengar godaannya itu aku menjadi tegang lagi, kebetulan 'burungku' kuhadapkan ke atas, jadi kalau tegang kelihatan ada yang menonjol di bagian depan celanaku.

"Tuh kan, Mbak godain sih, jadi tegang lagi nih. Hayo, Mbak harus tanggung jawab!" candaku sambil mengharap kali aja dia benar-benar mau, kan rejeki.

"Ya sudah Mbak tanggung jawab, tapi gimana?"

"Nggak kok Mbak, cuma becanda. Aku balik ke KBU ku dulu ya Mbak."

Aku balik dan duduk kembali di depan komputerku, dan mulai membuka situs-situs hot lagi. Rencana sih mau aku bawa ke pulang buat nanti, gara-gara si Mbak itu jadinya aku tegang lagi, dan tanggung kalau nggak dikeluarin sekalian.

Tak disangka tak dinyana, beberapa saat setelah aku duduk si Mbak tadi datang dan duduk di sampingku. Kaget, itulah yang terlintas pertama kali di pikiranku. Aku dengan terburu-buru menutup situs-situs dan mirc ku yang semuanya berisi sesuatu yang hot-hot karena malu.

"M.. M.. Mbak ada ap.. ap.. apa kesini?" tanyaku sambil terbata-bata.

"Iiihh, kamu nakal ya, suka buka-buka situs gituan. Ntar Mbak sentil lho!"

"Jangan ah, ntar Mbak nyentilnya milih lagi. Yah, itu kan kegiatan seorang cowok normal, lagian daripada buka-buka yang lain mending buka situs aja."

"Terserahlah, Mbak ke sini kan mau mempertanggungjawabkan godaan Mbak tadi. Gimana, jadi nggak?"

Wah, pucuk dicinta ulampun tiba nih. Rejeki nomplok datang dengan sendirinya. Lagian kebetulan keadaan warnet juga lagi sepi, makanya dia berani datengin aku.

"Wah, siapa sih yang bisa nolak Mbak. Hehe, ngerayu dikit nggak papa kan Mbak?"

"Tapi buruan ya, soalnya aku takut kalau ada orang lewat atau nyari Mbak kan nggak enak. Tapi gimana caranya? Yang cepet, dalam hal proses dan kalau ada hal yang nggak diharapkan."

"Umm.. Gimana kalau Mbak kocok saja pake tangan? Kalau mau cepet ya dari luar aja."

"Iya deh, sini."

Pertama dia menyentuh kemaluanku, rasanya enak banget, soalnya baru ini aku dipegang oleh orang lain, sama cewek lagi. Sambil dia megang 'burung'ku aku sambil baca cerita-cerita hot di sumbercerita.com.

"Mbak penasaran nih ingin lihat punya kamu, keluarin aja ya?"

"Tapi kalau ada orang gimana? Ntar bisa jadi gosip dong?"

"Nggak papa, Mbak sambil ngawasin sekitar juga. Keluarin ya?"

"Terserah Mbak deh."

Perlahan dia membuka retsletingku lalu kancing celanaku. Lalu dielusnya burungku sebentar dari luar CD ku, walaupun dari luar tapi rasanya merasuk ke dalam. Dia mulai membuka belahan CD ku (biasanya merk CD GT-Man ada belahannya di bagian depan, tul nggak para cowok?), terlihatlah 'kepala' nya. Dengan lembut dia mengeluarkan 'milik'ku dari sarangnya, seperti bayi yang dilahirkan, keluar kepalanya dulu baru badannya. Ukuran 'burung'ku memang tidak terlalu panjang, sekitar 14 cm dan cukup untuk digenggam oleh tangannya.

Dia mulai memegang 'batang'ku dengan lembut, menggerakkan tangannya naik turun. Sambil melihat ekspresi wajahku yang sedang keenakan sambil membaca cerita-cerita panas di layar monitor. Dia meludahi tangannya lalu dioleskannya ke 'batang'ku, agar tidak lecet katanya. Gerakannya mulai dipercepat, tiba-tiba dia berhenti. Aku bertanya dalam hati, tentu saja itu mengecewakan. Dia mulai meludahi tangannya lagi, lalu menjepit ujung kemaluanku dengan dua jarinya, dan mengelus lembut ujung 'burung'ku, seperti yang biasa kulakukan. Tentu saja itu membuat aku keenakan, dan sedikit mendesah membuatnya makin bersemangat.

"Oo.. Ternyata di situ ya titik rangsangmu?"

"Iya Mbak, kok Mbak tahu? Sama di ujung bagian bawah juga Mbak."

"Iya dong, habisnya suami Mbak kalau Mbak oral paling geli di situ juga."

"Wah, jadi kepengen juga nih di oral sama Mbak, Mbak mau nggak?"

"Jangan dulu, kita kan baru sekali ini. Kapan-kapan saja ya. Gini juga kamu nanti sudah sangat pas kok, jaminan mutu!"

"Iya deh Mbak, jadi nggak sabar nih. Tapi gini juga sudah enak kok Mbakkhh.."

"Hihi.., kena kau!"

Dia sengaja membuatku keenakan dengan sentuhannya tadi. Semakin lama dia menyentuh dan mengocok 'burung'ku, semakin ingin aku untuk 'keluar', tapi aku tahan biar nggak malu-maluin, masa' cepet amat.

"Mm.. Mbak, aku boleh megang punya Mbak nggak?"

"Nggak, jangan dulu."

"Yah, padahal aku kepengen Mbak, daripada cuma bisa bayangin aja."

Sebentar dia berpikir, tapi masih tetap mengocok 'burung'ku.

"Iya deh boleh, tapi cuma payudara Mbak, dan dari luar aja. Takutnya kalau dari dalem terus ada orang dateng gimana?"

"Horee.. Dari luar aja sudah seneng kok Mbak."

"Tapi pelan-pelan ya, jangan kasar-kasar."

Mulai kupegang buah dadanya yang menggantung indah itu dari luar, sedikit kuremas agar dia kerasa. Kuelus-elus dengan jariku payudara bagian atasnya yang tidak tertutup oleh BH nya. Dia sedikit merem, keenakan kali, dan dia semakin meremas 'burung'ku yang sedang ada di genggamannya. Kuremas lagi 'susu'nya, kuputar-putar tanganku yang menyebabkan buah dadanya ikut bergerak seiring dengan putaran tanganku.

Wow! Ternyata buah dada perempuan itu empuk dan kenyal ya, baru kali ini aku bisa megang payudara yang selama ini cuma bisa aku bayangkan. Semakin kupegang semakin ingin juga aku untuk 'keluar'. Gerakan tangan si Mbak juga semakin intens, dan sepertinya aku sudah nggak tahan lagi untuk 'keluar'.

"Mmbakkhh.. Aku.. Udakhh.. Mau.. Kke.. Eeluarrkh.." erangku yang semakin tinggi menuju ke puncak klimaks.

"Ayo keluarin yang banyak, biar Mbak nggak rugi capek-capek bantuin."

"Mmmhh.. Mbakkh.. Aku.. Aku.. Keluarr.."

Crot.. Crott.. Crott.. Dengan sigap si Mbak menampung semua maniku ke tissue yang sudah disiapkannya. Aku mengeluarkan segala mani yang ada di dalam kantung zakarku, dan remasanku pada payudara Mbak itu semakin keras, mataku merem melek merasakan kenikmatan yang amat sangat yang baru aku rasakan kali ini. Semua mani yang keluar tadi sampai nggak cukup ditampung oleh tissue sehingga tangan si Mbak itu juga terpaksa ikut menadahinya. Aku duduk dengan lemas di depan komputer, sambil berpikir, apakah ini benar-benar terjadi?

"Wah, kok banyak banget ya, lebih dari yang Mbak kira. tahu gini Mbak tadi bawa tissue banyak, jadi kotor deh tangan Mbak. Mbak ke kamar mandi dulu ya."

Aku hanya bisa mengangguk dengan lemas, karena semua tenagaku sudah habis untuk mengeluarkan maniku di ronde yang kedua tadi. Setelah memulihkan tenaga sebentar, aku Log Out dari komputerku, lalu ke operator unutk membayar. Kucari-cari si Mbak tadi, eh tahunya dia lagi di kamar mandi, sempat kudengar juga desahannya dari luar. Wah, si Mbak ini juga masturbasi ternyata. Sesaat kemudian dia keluar dan sedikit kaget karena aku sudah menunggunya di meja operator.

"Ehm, Mbak habis ngapain kok lama banget?" godaku sambil tersenyum nakal.

"Hihi, mau tahu aja deh kamu."

"Sudah lama, pake mendesah-desah lagi, wah pasti Mbak juga ya?"

"Ih, dasar tukang nguping, nakal kamu ya. Awas, tunggu hukuman buat kamu nanti!"

"Kalau hukumannya membuat nikmat sih nggak papa, hehe. Lain kali saja kalau aku ke sini lagi, ya. Mbak nggak keberatan kan?"

"Kalau sepi saja lho ya, entar hukumannya lebih dari tadi deh pokoknya."

Mendengar itu aku jadi tegang lagi, dasar nggak tahu tuannya sudah capek tetep tegang lagi. Lalu aku membayar dan berpamitan sama Mbak tadi, sambil meremas payudaranya sebentar.

"Iihh.. Nakal, sudah pulang tidur sana! Jangan mikir yang macem-macem, entar mimpi basah lho!"

"Makasih ya Mbak, kapan-kapan kalau lagi ingin aku ke sini lagi ya?"

"Iya iya, sudah pulang sana."

Lalu aku pulang dan hanya tersenyum saja di perjalanan. Kulihat HP ku, ternyata sudah jam 3 pagi. Sampai di kamar aku langsung menjatuhkan diri di kasur dan tidur, sambil tetap tersenyum mengenang kejadian tadi.

*****

Mohon maaf lagi kalau aku nggak bisa membuat cerita yang menarik untuk para pembaca, seperti yang aku bilang tadi, ini pertama kalinya aku menulis cerita. Mungkin nanti kalau aku jadi meneruskan acara kami tadi di lain hari, aku akan menceritakannya lagi. Mohon saran dan kritik para pembaca supaya ceritaku bisa lebih menarik lagi.

Hanya Sebatas Petting

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada sumbercerita.com, dengan dimuatnya beberapa cerita saya, pelan tapi pasti saya menerima banyak e-mail dari wanita baik yang hanya ingin berkenalan, kirim cerita yang lain sampai minta dilayani. Dan tidak sedikit dari mereka tercapai keinginannya. Tetapi beberapa yang lain justru tidak dapat dilacak keberadaannya karena e-mail yang diberikan eror, padahal diantara mereka ada yang ingin sekali berkenalan dan berlanjut ke permainan ranjang, berhubung e-mail yang mereka berikan salah hingga kini kehilangan kontak. Semoga saat ini mereka membaca, seperti Mbak Heny 36 tahun, Cornelia di Bali, Yuni, Nela, tolong berikan e-mail yang bener dong.

Mungkin cerita ini jauh dari seks yang menggairahkan, tetapi buatku ini adalah pengalaman yang baru. Tante Ana adalah seorang ibu rumah tangga berumur 35 tahun, untuk seusianya masih dapat dikatakan cantik walaupun tidak seksi. Kulitnya kuning langsat (rajin luluran katanya), ukuran fisik tinggi 165 cm, payudara 34 cup B, berat 58 kg, rambut hitam pendek, beranak dua, yang terbesar 8 tahun.

Saya mengenal Tante Ana dari e-mail yang dikirim setelah membaca kisahku di sumbercerita.com. Disitu ia ingin berkenalan, setelah saya beritahu no HP saya, maka diaturlah pertemuan yang singkat di hari Kamis. Sengaja saya mengambil hari kerja, supaya tidak mengganggu rumah tangga Tante Ana.

Kami bertemu di restoran yang terkenal dengan menu steak-nya, dari pertemuan tersebut sepertinya Tante Ana kaget juga, dengan terus terang dia berkata bahwa tampangku sangat tidak meyakinkan dan jauh dari tampan. Body-ku pun juga tidak seatletis yang dibayangkannya. Tapi aku senang dengan keterbukaannya. Dan memang bukan di"sana"lah kelebihanku. Akhirnya suasana mencair seiring waktu.

Kami ngobrol panjang lebar dan ditutup dengan sebuah pujian yang kupikir jujur keluar dari mulutnya.
"OK Sakti, Tante sekarang tahu kenapa banyak cewek yang mau sama kamu, cara kamu memperlakukan wanita sangat gentle, cara kamu berbicara supel dan mudah bergaul, dan yang terpenting kamu punya brain, sehingga wawasan kamu luas. Aku suka gaya kamu bersikap dan berbicara walaupun awalnya sulit. Maklumlah namanya juga baru kenal. Oh ya, ini no HP Tante.."
Akhirnya dia mengerti juga dimana kelebihanku. Ini juga diakui wanita-wanita yang pernah bercinta denganku.

Selang seminggu tepatnya hari Selasa, kutelepon Tante Ana.
"Siang Tante, sedang apa nih, sibuk ya?" sapaku basa basi.
"Ah nggak kok Sakti, eh di mana kamu sekarang?"
"Di kantor, Tante"
"Kok Tante nggak pernah kirim e-mail lagi sih, atau sudah lupa ya?"
"Oh ya sorry, Tante nggak sempet ke warnet, sibuk ngurus Tomy kenaikan kelas nih, besok deh Tante buka e-mail, emang Sakti kirim e-mail ya, apa sih isinya, sekalian aja ngomong sekarang?"
"Ah nggak kok, cuma kangen aja, boleh kan?" ceplas-ceplos kuucapkan, terkesan kurang ajar memang, tapi buat apa ditutupi.
"Kangen apa kangen.." Tante Ana mulai nakal menggodaku.
"Kalau kangen kok beraninya cuma telepon."
"Abis Tante juga sih yang nggak mulai, kalau ditawarin yang lain masak iya Sakti nolak, gimana?"
"Emang lagi kosong ya, ha.. ha.." Tante Ana menggoda.
"Gini aja deh.. sorry Tante belum terpikir ke "arah" sana untuk saat ini, tapi jujur saja Tante termasuk orang yang open mind dan bukan sesuatu yang tidak mungkin untuh hal itu.. Sakti tahu maksud Tante kan? Dengan berani ketemu Sakti saja itu sudah kemajuan buat Tante, dan butuh keberanian lho, artinya kemungkinan ke "arah" itu masih terbuka kok.. kita tunggu saja kapan Tante siap, OK."

Tiba-tiba pada hari Kamis Tante Ana bell ke HP-ku, "Sakti, sedang ngapain? Bisa ketemu nggak hari ini? Tante ada yang mau dibicarakan nih."
"Saya selalu ada waktu untuk Tante." gombalku, "Kapan, dimana, Tante yang tentuin deh."
"Di restoran kita dulu, jam dua sore ini bagaimana.." balas Tante Ana.

Beberapa jam kemudian..
"Maaf aku terlambat Tante, habis nggak punya mobil sih, jadi pakai angkutan umum, ini aja bajuku sampai basah oleh keringat, bagaimana Tante, tumben kok buru-buru ingin ketemu?"
"Begini Sakti, sekali lagi aduh.. Tante malu mau ngomongnya, sebenarnya sampai saat ini Tante belum siap untuk selingkuh, tapi memang libido Tante sebenarnya berlebih, cuma takut untuk mencoba dengan orang lain."
"Suami Tante bagaimana?"
"Sebenarnya nggak masalah dengan seks suami, kita selalu enjoy saja, dan orgasme setiap main dengan suami, demikian juga suami.. Cuma ya itu tadi.. mungkin ini gila, karena dorongan seks Tante yang besar.. seperti ada perasaan yang luar biasa untuk mencoba dengan orang lain, karena Tante nggak tahu harus bagaimana, jadi selama ini ya hanya baca-baca cerita porno saja sampai ketemu kamu, begini saja.. untuk permulaan karena Tante takut sekali, kita cukup petting saja bagaimana? sorry lho aku sudah nggak tahan nih untuk mencoba.. gila ya.. ha.ha?"
"OK," jawabku singkat, tetapi aku masih tidak mengerti maksudnya. Pokoknya tempat dan waktu sudah diatur, hari Rabu jam 4 sore kami janjian di sebuah hotel, setelah ketemu Tante Ana sudah menyiapkan laptop dan beberapa keping VCD porno.

Pertama Tante Ana minta ijin untuk membersihkan badan dulu, sementara aku menikmati tayangan VCD porno tersebut, beberapa diantaranya aku sudah hapal ceritanya karena pernah kutonton, apalagi bintangnya pasaran.

Tiba-tiba Tante Ana keluar hanya dengan handuk dibelit saja.
"Lho kok belum dibuka bajunya, Sakti?"
"Ah Tante saja dong yang bukain." Aku coba memulai merangsang daya keinginannya.
Pelan-pelan Tante Ana meraih kepalaku dan mula-mula sambil memejamkan mata dia bilang, "Sakti coba kiss Tante dong."
Dan pelan-pelan kubelai rambutnya sambil mengarahkan bibirnya ke bibirku, terasa hangat saat bibir kami bersentuhan. Inisiatif datang dari Tante Ana, dia coba memainkan lidahnya di rongga mulutku, aku juga mencoba mengimbangi. Sambil tannganku melepas handuk yang melilitnya. Tante Ana sekarang sudah dalam kondisi polos, rambut kemaluannya tipis, menandakan rajin dicukur, bibir vaginanya rapat dan kecil.

Kami berciuman cukup lama, kadang-kadang saling menggigit ringan, aku dan Tante berlomba untuk saling memainkan lidah kami. Dalam hal berciuman, Tante Ana cukup hot juga, dan aku kadang-kadang kehabisan napas karena tidak dibiarkan melepaskan lidahnya. Hangat dan sensual.

Aku merengkuh payudaranya sebelah kiri, dan terasa sudah mengeras. Aku baru sadar kalau puting Tante Ana sangat seksi, bahkan terseksi yang pernah kulihat. Aku sempat heran, untuk seusia Tante, puting payudaranya masih kencang dan berwarna merah, tidak hitam atau coklat tua. Betul, Tante Ana mengakui kalau dia jarang bermain di sekitar puting. Dan dia ingin sekali dimainkan dengan mulutku. Tapi ciuman kami belum berakhir, maka tanganku dengan aktif meraba dan membelai puting Tante Ana, refleks Tante Ana mulai mendesah, "Aaakkhh.. terus Sayang.. ucchh, nikmat Sayang, uh.. uh.. uh.." nafasnya tersengal-sengal.

Bibirku terlepas dari bibir Tante Ana, tampak sekali bibirnya basah dan memerah, ciumanku berlanjut ke lehernya.. lembut sekali, terdengar desahan yang tertahan tanda nafsunya mulai tidak dapat dikendalikan. Sementara aku baru mulai pemanasan.

Tante Ana mulai berani dan nakal dengan melepas pakaianku satu persatu hingga polos, "burung"ku sudah tegang karena bersentuhan dengan bulu-bulu di bibir vaginanya. Tangan Tante Ana meraih batang kemaluanku. Tangannya yang mungil terasa penuh menggenggam batang kemaluanku. Padahal ukuran burungku biasa saja. Tetapi cukup buat Tante Ana.

Jemarinya mengelus kepala penisku yang besar dan mulus. Memang kepala penisku berdiameter besar. Ternyata Tante Ana sudah pandai memainkan kemaluanku. Dengan gerakan yang teratur, ia dengan bersemangat mengocok batang kemaluanku.

Sementara itu ciumanku sudah mendarat di puncak payudaranya. Nikmat sekali.. payudaranya sudah mengeras dengan puting yang juga mengeras dan merekah. Pertama kugigit kecil putingnya sebelah kanan. Sementara puting sebelah kiri kupilin-pilin dengan jariku.

Tante Ana bergetar dan bibir vaginanya sudah mulai basah. Aku meneruskan dengan mulai menghisap keras payudaranya dan Tante Ana menjerit, "Sayang.. aku mau klimaks niihh.. oohh.. aku nggak kuat Sayang.. oohh.. akuu kliimmaaks Sayaagg ukkhh.."

Aku tidak berhenti, penisku yang sudah tegak kuarahkan ke bibir vaginanya yang sudah basah, tetapi sejenak Tante Ana berhenti dan memohon untuk tidak dimasukkan. Maka perlahan kubimbing Tante Ana ke ranjang dan kuarahkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana.

Kugesek-gesekkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana, terasa licin, dan kupercepat gesekan kemaluanku, kadang-kadang kutekan supaya menyentuh klitorisnya. "Ukkhh.. terus Sayang.. terus sayang.. ookkhh.. aauucchh.. aku mau dapat lagi nih, aduh sayang please jangan dimasukin ya.." Aku mencoba menghormatinya, maka secara perlahan gesekan kemaluanku, tetapi menambah tekanan ke bibir vaginanya, pantatnya kuganjal dengan bantal supaya agak terbuka dan memudahkan gerakanku.

Sebenarnya aku cukup terganggu dengan suasana ini, tapi aku mencoba untuk tidak melanggar. Maka dengan gerakan yang pelan dan keras gesekan antara kemaluanku dan bibir vaginanya akhirnya membangkitkan nafsuku, memuncak dan menuju ke klimaks.

Aku menyuruh Tante Ana di atas, dengan begitu ia bisa dengan mudah mengatur seberapa penetrasi yang dibutuhkan untuk memuaskannya. Tante Ana dengan gerakan yang sudah tidak teratur menggesek-gesekkan bibir vaginanya yang sudah basah dan licin dengan cepat. Dan untuk yang ketiga kalinya Tante Ana berteriak tanda orgasme, sedang aku terus mengatur napas untuk memacu pikiran supaya permainan ini segera tuntas.

Tiba-tiba Tante Ana berhenti dan membalikkan arah. Posisi 69 yang diharapkan, tentu saja aku harus menerimanya. Bau anyir vaginanya yang sudah basah sesaat membuatku terhenti, tetapi penisku yang dilumatnya masuk semua ke rongga mulut membuatku berani menjilat bibir vaginanya. Aku menyedot sisa cairan vagina yang ada dan kuusap dengan lidahku menelusuri setiap dinding vagina serta memainkan dengan ujung lidah di sekitar klitorisnya.

Sementara itu penisku terus dikulum seperti sedang menikmati ice cream. Aku sempat heran dengan hisapannya yang kuat, penisku siap meledak memuncratkan air mani, sementara desahan Tante Ana menambah nafsuku, sementara klitorisnya hangat dan basah terus kuusap dengan lidah. Gerakan mulut Tante Ana semakin tidak karuan, dan jilatan lidahku semakin penuh ke seluruh bagian bibir luar dan dalam vaginanya.

Tiba-tiba tante Ana berkata lirih, "Sayang keluarin di mulut Tante ya, semuanya ya Sayang.."Dengan mantap dan nafsu yang sudah tidak tertahan kugesek kencang penisku di mulut Tante Ana, sepertinya Tante Ana mengerti, dan lidahnya membantu mengusap penisku menambah semangat.

Saat yang ditunggu tiba, air maniku tumpah di rongga mulut Tante Ana, dan dengan sigap disedotnya air maniku, ditelan lalu sisa-sisanya tidak dibiarkan keluar dari mulut dan batang kemaluanku. Seluruhnya dibersihkan dengan lidahnya dan ditelan seperti menelan ice cream. Sebuah pemandangan yang sensual. Dan aku berhenti memainkan lidahku di klitorisnya, karena aku pun harus mendesah menahan klimaks.

Sejak permainan itu, kami rutin melakukan petting, karena Tante Ana masih takut untuk lebih dari itu. Sampai saat ini Tante Ana masih rajin berkirim e-mail, dan biasanya isinya jorok-jorok yang mengundang kami untuk janjian di sebuah hotel atau kadang-kadang kami main di mobil Tante Ana.

Kadang untuk mengobati rasa penasaranku, Tante Ana menyewa gadis panggilan yang seksi dan cantik untuk meneruskan keinginanku. Tetapi Tante Ana tidak ikut dan tidak berada dalam satu ruangan. Sehingga sehabis petting dengan Tante Ana, aku melanjutkan dengan bercinta dengan cewek yang disewa Tante Ana.

Demikianlah petualanganku yang menarik, hingga saat ini aku belum merasakan nikmatnya memasukkan penisku ke lubang vagina Tante Ana. Demikian juga Tante Ana belum merasakan nikmatnya permainan penisku di lubang vaginanya.

Pembaca tentu penasaran? Sama, sampai saat ini pun aku masih penasaran dengan Tante Ana, sementara itu, aku sudah berpetualang dengan wanita-wanita yang mengirimkan e-mailnya, Tante Ana masih tetap seperti yang dulu.

Cerita ini kupersembahkan buat Tante Heny, Cornelia, Yuni, dan semua yang ingin berkenalan dengan mengirimkan e-mailnya. Buat Tante Ana, kalau membaca kisah ini semoga suatu saat berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk memasukkan penisku ke vagina Tante Ana.

Memperdaya Artis Pujaan

Jay berjalan menyusuri lorong lokasi syuting. Ia adalah salah satu figuran dalam sinetron ini, yang berkisah tentang dunia kampus. Ketika ia melintasi sebuah ruangan berwarna kuning yang menarik perhatiannya, ia melongok ke dalam dan melihat ada kursi sofa kulit warna hitam dan meja kecil dengan kotak donat diatasnya. Disebelah kanan sofa tersebut terdapat lemari pakaian, dan disebelah kiri ada cermin panjang.

"Ooo..donat..!!" kata Jay dalam hati. Diambilnya beberapa buah, lalu disambarnya sebuah majalah dan iapun membaringkan diri di sofa tersebut. Tak beberapa lama iapun mengantuk dan tertidur di sofa tersebut.

Feby Febiola bergegas masuk ke dalam ruangan ganti pribadi yang disediakan untuknya dan suaminya, Bruce, yang berkebangsaan Perancis. Karena sibuknya shooting sinetron, Feby dan suaminya jarang mempunyai waktu luang untuk mereka, sehingga Bruce sering datang ke lokasi shooting agar bisa mendapatkan waktu untuk bercinta dengan Feby Febiola, istrinya yang cantik. Bagi Feby, Bruce adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah menikmati kemulusan tubuh Bintang Lux tersebut. Bruce sangat pandai dalam bercinta, dan hampir tiap kali membuat Feby merasakan nikmatnya sex. Bruce piawai menggunakan lidahnya, menyapu bibir vagina dan klitoris Feby, membuat istrinya itu menggelinjang dan merintih-rintih kenikmatan. Walaupun demikian, Feby tidak pernah mau mengulum penis Bruce, apalagi melakukan anal sex seperti yang sering diminta oleh pria Perancis itu.

Feby adalah tokoh utama dari sinetron ini, dimana ia memerankan seorang mahasiswi kembang kampus yang juga seorang cheerleader. Pada pengambilan gambar sebelumnya, ia menggunakan rok cheerleader yang tingginya 4 cm diatas lutut, sehingga mempertontonkan kemulusan pahanya, serta t-shirt putih ketat yang tak mampu menyembunyikan keindahan buah dadanya. Feby melihat bahwa "Bruce" (atau orang yang disangkanya sebagai Bruce) sedang tertidur lelap diatas sofa. "Kasihan..dia pasti lelah menunggu syuting. Aku harus memberikan alasan yang bagus agar dia terbangun. " pikir Feby. Feby pun kemudian membuka lemari pakaian untuk berganti.

Tepat pada saat itu, Jay terbangun, dan melihat bahwa ada orang sedang berganti pakaian. "Waduh..gawat!! " pikirnya. Ia kemudian melihat bahwa pintu kamar mandi terbuka, dan cepat-cepat ia masuk bersembunyi di dalamnya. Dari kamar mandi Jay kemudian mengintip keluar, dan ia tidak bisa mempercayai matanya.

Feby Febiola!! Bintang sinetron yang sering menghiasi mimpi-mimpi seksual Jay, kini sedang melepas pakaiannya satu persatu di hadapan mata pria itu. T-shirt ketat Feby Febiola sudah ditanggalkan, dan sekarang bintang cantik itu melepaskan BH-nya. Feby lalu mengagumi buah dadanya sendiri di kaca, buah dada yang bulat dan penuh, dengan puting yang kemerahan. Feby tahu bahwa Bruce-pun menyukai payudaranya, asal ia tidak terlalu keras meremas-remasnya, Feby senang dengan perlakuan Bruce pada buah dadanya itu. Sementara itu di kamar mandi, Jay tak henti-hentinya mengocoki kemaluannya melihat adegan telanjang Feby Febiola.

Lalu Feby mengenakan t-shirt tanpa bra, dan kembali ke dalam ruangan untuk menemui "Bruce". Tetapi didapatinya sofa tersebut kosong. "Kemana dia?" tanya Feby dalam hati. "Padahal aku ingin memberikan pelayanan untuknya"
Jay yang ada di kamar mandi sudah tidak kuat lagi menahan nafsunya. "Aku harus bisa meniduri Feby Febiola" katanya. Pelan-pelan ia keluar, dan mendekati Feby Febiola dari belakang. "Sekarang atau tidak sama sekali" tekad Jay. Ia memeluk Feby dari belakang dan mencium lehernya yang jenjang nan mulus.

"Oh..dari mana saja kamu..? Tanya Feby sambil kegelian ketika lidah Jay menyapu leher hingga belakang telinganya. Tangan Jay telah berada pada payudara bulat dan montok milik Feby. Ia seakan bermimpi ketika meremasi buah dada bintang pujaannya itu. Keindahan buah dada Feby Febiola mungkin hanya kalah dari Tamara Blezinski.

"Ooohh..Bruce.." Feby mendesah merasakan nikmatnya payudaranya diremas-remas oleh Jay. "Ayo sayang..aku sudah kepingin.." pinta Feby. Jay kemudian mendorong tubuh Feby hingga Feby berlutut di sofa, dan menarik turun celana dalamnya. Pantat Feby yang bulat indah itupun tampak di hadapan mata Jay, menyebabkan kemaluan Jay yang sudah tegang seakan mau meledak. Tanpa berlama-lama Jay membuka celananya sendiri dan segera menaruh kemaluannya di depan liang vagina Feby.

"Ooohh.." Desah Feby dan Jay bersamaan ketika penis Jay menembus liang vagina Feby Febiola. Jay dengan cepat menggenjot Feby doggie style. Liang vagina Feby masih rapat walaupun sudah setahun lebih menikah. Karena nafsunya sudah di puncak, Jay mulai merasakan penisnya berdenyut-denyut, siap menumpahkan air maninya dalam lubang kemaluan Feby. Dipercepatnya kocokan dalam kemaluan artis cantik itu, dan dalam sekejap Jay pun menumpahkan spermanya dalam kemaluan Feby Febiola. Tapi Jay terus memompa penisnya keluar masuk vagina Feby sehingga tak lama kemudian, Feby pun mencapai orgasme.

Feby terkapar lemas di sofa menikmati sisa-sisa orgasmenya setelah digarap Jay. Sperma Jay sebagian mengalir keluar dari vaginanya. Tapi Jay sepertinya belum puas karena penisnya kembali mengeras.
"Dia cantik sekali!!" seru Jay dalam hati. Iapun berkeinginan untuk merasakan jepitan payudara Feby yang montok itu. Matanya mencari-cari di sekeliling dan ia menemukan sehelai selendang yang kemudian diambilnya. "Ini harusnya cukup" pikirnya. Ia lalu menutup mata Feby Febiola dan membalikkan tubuh mulus artis pujannya itu. Jay kemudian meremas-remas payudara Feby dengan lembut. Kemudian ia menciumi bongkahan payudara yang montok itu. Feby menggelinjang-gelinjang kegelian: " Ooohh..Bruce.." rintih Feby manja.

Jay kemudian mengangkangi tubuh Feby dan meletakkan penisnya yang sudah tegang itu di belahan dada montok yang selalu dimimpikannya. Feby menekan kedua buah dadanya sehingga penis Jay terjepit erat ditengah. Jay tidak membuang waktu dan segera memaju mundurkan penisnya di tengah jepitan payudara Feby. Dalam sekejap penis Jay memuntahkan sperma yang mengalungi leher jenjang Feby. Dengan tiba-tiba Jay memasukkan penisnya kedalam mulut Feby tepat ketika penisnya menyemprotkan muntahan sperma kedua. Mau tak mau Feby Febiola menelan sperma Jay dan membuat bintang film cantik itu ingin muntah. Seumur hidup belum pernah ada kemaluan lelaki, bahkan suaminya sekalipun, yang masuk ke mulutnya. Kini ia harus menelan spermanya pula.

Feby cepat-cepat bankit berdiri berusaha memuntahkan sperma di mulutnya. Namun Jay menangkap tubuh mulus Feby dan melempar kemabli ke sofa. Jay kemudian menunggingkan Feby sehingga pantatnya yang padat itu terangkat ke atas. Ia kemudian menyibakkan belahan pantat Feby dan menaruh ujung penisnya di depan anus perawan Feby Febiola.

"Bruce!! Jangan!! Kamu kan tahu saya tidak mau..AAHH!!" Feby Febiola menjerit keras kesakitan ketika anusnya ditembus oleh penis Jay. Lubang pantatnya yang sempit dan masih perawan itu diperkosa dengan kasar oleh Jay.

"KELUARKAN BRUCE!! SAKIITT!! OOHH!! " Feby berteriak-teriak merasakan anusnya robek oleh kemaluan Jay. Wanita cantik itu menangis sambil meremasi sofa tempat ia digagahi melalui anus oleh "suaminya". Tak lama kemudian, Jay memuntahkan spermanya dalam lubang anus Feby.

"Ooohh..Bruce..kamu tega sekali.." tangis Feby kesakitan. Darah bercampur sperma mengalir keluar dari liang anus Feby yang baru saja diperawani Jay. Jay kemudian mengambil celana dalam Feby. Diusapnya darah dan sperma dari pantat bintang Lux yang cantik itu dengan celana dalamnya. Dan kemudian Jay pun keluar meninggalkan kamar Feby Febiola dengan senyum kepuasan.


Menikmati Tubuh Artis Seksi

Tamara Bleszynski dan suaminya, turun dari mobil di depan rumah mereka. Mereka baru saja berkunjung ke kerabat mereka di Bandung, dan pada pukul 11 malam ini baru bisa sampai di rumah. Pada saat mereka berdua turun dari mobil, tiba-tiba ada Panther hitam yang mendekati sambil menyalakan lampu mobil yang sangat terang. Karena silau dan kaget, Tamara tidak langsung sadar bahwa mobil tersebut telah ada di sampingnya. Segera saja pintu Panther itu terbuka dan tiga pasang tangan keluar dari dalam mobil. Yang pertama memegang tangan kiri, yang kedua menarik tangan kanannya, dan yang ketiga meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya masuk ke Panther. Setelah Tamara masuk ke dalam. Panther tersebut langsung tancap gas.

Di dalam mobil, Tamara melihat ada lima orang yang bertampang beringas yang pertama dipanggil Boss oleh yang lain, ada juga yang Botak, yang satu lagi bermuka Bopeng dan di sampingnya ada salah satu matanya ditutup kain hitam ala bajak laut. Sedangkan di depan ada lagi yang berambut Jabrik.

"Lepaskan! Apa-apaan ini?! Tolong!" teriak Tamara sambil meronta-ronta, sementara ada tangan-tangan penculiknya menggerayangi tubuhnya. Ada yang meremas pinggulnya, mengelus pahanya, dan yang membuat Tamara menjerit kesakitan adalah Boss dan Botak yang meremas payudaranya keras-keras.
"Aaah, jangan! Jangan! Lepaskan saya! Tolong!" erang Tamara sambil berontak tanpa hasil.
Para penculik tersebut membuat Tamara seperti boneka selama perjalanan ke markas penculik tersebut. Akhirnya Panther tersebut berhenti dan dengan dipegangi oleh 4 orang masing-masing di tangan dan kaki, Tamara yang sudah kelelahan meronta selama perjalanan digotong masuk ke sebuah ruangan. Dalam ruangan itu hanya ada satu ranjang dan lemari besi.

"Ikat dia!" Boss menyuruh 4 anak buahnya mengikat tangan dan kaki Tamara ke sudut-sudut ranjang, sehingga tubuh Tamara membentuk huruf X, kaki dan tangannya membuka lebar.
"Gimana sekarang Boss?" tanya Jabrik sambil menjilati bibirnya. Dia sudah sangat terangsang, batang kemaluannya sudah menegang dari tadi.
"Kita giliran! Pertama gue, trus selanjutnya loe gantian!" putus sang Boss, "Sekarang loe semua telanjangin aja dulu dia."
"Jangan! Jangan! Lepaskan!" Tamara mulai meronta-ronta lagi ketika Botak, Mata Satu, dan yang lainnya mendekatinya dan langsung merobek-robek bajunya sampai dia telanjang bulat. Tamara menangis sekeras-kerasnya sambil terus berusaha melepaskan diri.

"Wow, bodinya oke banget" seru Botak, "Gila, bunder ama sih loe. Gue taruhan pasti enak banget ngisep puting susu loe!" Setelah itu mereka semua langsung melepas pakaiannya masing-masing. Tamara menggigil ketakutan melihat ukuran kejantanan mereka yang luar biasa besarnya. Sementara anak buahnya menggerayangi tubuh Tamara dari pinggir ranjang, sang Boss langsung naik ke atas ranjang dan mengambil posisi di atas Tamara.

"Gimana? Loe udah siap kan Sayang? Tenang aja loe bakal ngerasain yang belon pernah loe rasain lewat suami loe!" kata si Boss sambil mengocok batang kemaluannya agar benar-benar tegang.
"Jangan! Lepaskan saya! Saya janji tidak lapor polisi!" mohon Tamara sambil menangis.
"Hush! Kita di sini mau senang-senang Sayang! Masa loe mau pergi dulu!" kata si Boss sambil mulai mengarahkan batang kejantanannya ke liang senggama Tamara.

"Jangan.. jangan.. saakkit, jaangaakkhh" Tamara berteriak-teriak ketika si Boss mulai mendorong masuk batang kejantanannya.
"Buset! Sempit amat memek loe.. Loe seminggu maen berapa kali sih ama suami loe?!" dengus si Boss sambil terus mendorong batang kejantanannya yang baru bisa masuk sampai kepala, sementara Tamara menjerit sejadi-jadinya, karena selain masih sempit, liang kewanitaannya juga kering sekali sehingga setiap si Boss mendorong batang kejantanannya sakitnya bukan main.

"Jangan! Ampun! Sakit sekali! Saya nggak kuat! Ampuungghh" Tamara kembali mendengus kesakitan ketika si Boss mulai mendorong-dorong batang kejantanannya lagi.
"Dorong sekalian aja Boss!" saran Bopeng sesaat waktu dia berhenti mengisap-isap puting susu Tamara.
"Oke Sayang! Loe siap ya! Gue mau dorong loe sekali lagi", si Boss bersiap sambil mengusap keringat di dadanya, Tamara merintih-rintih ketika sodokan si Boss berhenti sejenak. "Sakit sekkhh.. Aaarrgghh.. aakkhh.." si Boss mendorong keras-keras batang kejantanannya sambil memegangi pinggul Tamara. Hasilnya seluruh batang kejantanannya bisa masuk sambil diiringi jeritan Tamara yang melengking tinggi. Setelah itu mulailah si Boss bergerak maju mundur perlahan, setiap tarikan dan dorongan semuanya diiringi oleh erangan Tamara.

Akhirnya setelah 15 menit maju mundur, si Boss mulai bergerak makin cepat. Tamara yang sudah kelelahan mengerang dan lemas, mulai merasakan sakit yang menggigit liang kewanitaannya, sementara si Boss makin cepat maju mundur sampai seluruh ranjang berguncang-guncang.

"Sakitt! Aaah, ampuun! Ampuun.." Tamara tak berdaya, tubuhnya juga terbanting-banting di ranjang seirama dengan gerakan si Boss. Tubuh Tamara juga sekarang berkilau karena air liur yang dari lidah-lidah penculiknya yang menjilati tubuhnya dari paha sampai wajahnya. Sekarang si Mata Satu sedang mengigiti puting susunya sementara si Bopeng menjilati wajahnya. Si Jabrik meremas-remas susunya dan si Botak meraba sisa tubuh Tamara yang lain.

"Eeeggh, gue mau keluar Sayang, eegh.. eegh.. eegh.." dengus si Boss "Yaa.. ya.. gue keluarin Sayang, akk.. eaah.. eaahh.." tubuh si Boss mengejang sesaat sambil mendorong batang kejantanannya masuk ke liang kemaluan Tamara. Dari batang kejantanannya keluar sperma yang saking banyaknya sampai menetes keluar.

"Aaah! Gue puas bener nih! Gimana dengan loe Sayang?" perlahan si Boss menarik keluar batang kejantanannya yang lemas.
"Ampun, sakit sekali! Saya mohon, ampun.." erang Tamara lirih karena kesakitan dan kecapaian diperkosa si Boss selama 20 menit lebih.
"Oke sekarang giliran loe semua, jangan rebutan, dia udah jadi milik kita sekarang! Gue mau duduk dulu biar kontol gue bisa istirahat!" si Boss berkata sambil bersila di lantai, "Lo semua tunjukin gue kalo loe jantan oke?!"
"Beres Boss", seru mereka serempak.
"Sekarang gue duluan!" si Jabrik naik ke atas ranjang.
"Halo Tamara sayang! Kita mulai aja ya! Gue jamin punya gue lebih besar dari Boss!" Tamara kembali membelalakkan mata sambil berteriak.

Tak lama kemudian kontol besar milik si Jabrik sudah menyodok liang kewanitaan Tamara yang sudah tidak karuan bentuknya dan sodokan ganas ini membuat Tamara meneteskan air matanya. Berjam-jam lamanya Tamara mesti menerima siksaan dari laki-laki yang sudah lapar akan seks dan tubuh Tamara yang sangat seksi dan menggairahkan itu. Setelah mereka semua puas menyemprotkan cairan kenikmatan mereka ke dalam liang kemaluanTamara. Mereka menampar Tamara sehingga tamara menjadi pingsan dan ketika dia sadar, dia sudah berada di sebuah hutan yang dia sendiri tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

Tak lama kemudian, Tamara melihat sebuah cahaya lampu senter di kejauhan dan dia berpikir bahwa sebentar lagi dia bisa melaporkan kejadian yang baru saja dia alami ke polisi. Tetapi sayang sekali karena dugaan dia salah sama sekali. Cahaya cahaya lampu itu berasal dari pemuda-pemuda desa dan ketika mereka melihat tubuh Tamara yang seksi dan panas itu, mereka tidak menolong Tamara tetapi mereka malah memperkosa Tamara. Sungguh pedih hati Tamara menerima kenyataan bahwa dia harus melayani 20 pemuda pemuda sekaligus. Ada beberapa pemuda yang menjilati payudaranya yang gempal, ada yang memasukkan kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Tamara yang penuh dengan sperma yang sudah tidak tahu lagi milik siapa sperma itu dan ada pula yang menancapkan batangannya ke dalam anus Tamara dan mulut Tamara yang indah sekarang mesti melayani batang kemaluan dari 3 pemuda dan dia mesti menjilatinya satu persatu sehingga tak lama kemudian wajah cantik Tamara sudah dihiasi oleh sperma pemuda-pemuda itu. Setelah mereka semua puas memuaskan nafsu bejat mereka, mereka meninggalkan Tamara seorang diri di hutan yang gelap itu.

Cerita Populer