Home » Posts filed under Hot Sex
Cerita Seks Bugil Gairah Pasangan Seks
Cerita Seks Bugil Gairah Pasangan Seks 2
Permainan Terlarang
Seks Unik
Kisah Penjaga Warnet
Selama 4 hari ini hidupku penuh dengan mengerjakan tugas tugas dan tugas, bahkan aku hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hari Jumat semua tugasku terselesaikan dan kupikir aku bisa tidur dengan nyenyak, eh ternyata aku malah nggak bisa tidur karena beberapa hari tidak tidur tepat waktu menyebabkan siklus tidurku menjadi berubah. Setelah mencoba berbagai posisi untuk tidur tetap tidak bisa, aku memutuskan untuk pergi keluar mencari hiburan. Ke warnet aja ah, pikirku, nyari-nyari koleksi gambar porno sama cerita-cerita hot sekalian 'mengeluarkan' semua masalahku.
Waktu itu sudah jam 12 malam waktu aku pergi ke warnet, samapai di sana aku kaget karena yang jaga adalah wanita yang dulu pernah menggodaku saat aku minta copy film-film BF dari warnet tersebut ke CD, karena biasanya kalau jam begini suaminya yang jaga.
"Ada yang kosong, Mbak?" tanyaku.
"Mas pilih aja sendiri, cuma dua kok yang kepake, lainnya kosong," jawabnya.
"Wah Mbak, kok jadi kayak ke panti pijat aja pilih sendiri, ada katalog pemijatnya Mbak?" balasku sambil bercanda.
"Ih, Mas nih nakal ya, sudah biasa ke tempat gituan ya kok bisa tahu? Hayoo.."
"Ah, nggak kok Mbak, cuma pernah baca aja. Aku main dulu ya Mbak, maksudnya main internet, jangan mikir yang jorok dulu."
"Yee.., sudah tahu, emang selain main internet di situ mau main apa lagi?"
"Mainan mouse, mainan keyboard, mainan.. Ada deh, Mbak mau tahu aja sih."
"Iih.. Nakal, sudah main mainan kamu sana!"
Terus terang aku ngelihat Mbak itu aja sudah tegang lho, apalagi diajak becanda yang jorok-jorok, iihh.., jadi nggak tahan mau 'ngeluarin'. Sebut saja nama Mbak itu Meri, dia sudah bersuami tapi body tetap terawat. Dengan payudara yang kelihatan mantap bila dipegang, 34D mungkin (mungkin lho), dipadu dengan pantat semok yang bulat padat, walaupun tidak terlalu tinggi tapi sudah cukup menggoda imanku, hehe. Tidak putih, agak hitam, dengan wajah yang lumayan di umurnya yang sekitar 27-an.
Aku mulai dengan membuka e-mailku, sambil menunggu loading aku membuka mirc dan masuk ke channel #ngewe sambil baca cerita-cerita panas yang ada di channel itu. Nggak percaya? Coba aja sendiri! Aku juga buka sumbercerita.com (tentunya). Di masing-masing komputer terdapat koleksi film-film BF dari barat sampai timur, segala macam ras ada, jadi nyambi nonton juga.
Biasanya aku ke warnet untuk ngambil cerita dan gambar-gambar untuk kubawa ke kos, terus lihat di komputerku sambil.., kalian para cowok pasti tahulah. Tapi karena masalah yang sudah terlalu banyak menumpuk dan ditambah dengan godaan si Mbak tadi, akhirnya aku nggak tahan untuk 'ngeluarin' semuanya, lagipula aku belum pernah 'keluar' di warnet, jadi nyoba sensasi barulah. Saat aku sudah hampir 'keluar' buru-buru aku pergi ke kamar mandi yang letaknya (sialnya) di depan Mbak itu dengan anu-ku yang sedang di puncak ketegangannya.
"Mbak, kamar mandinya boleh dipakai?' tanyaku.
"Boleh, pakai aja. Tapi barusan ada orang yang barusan masuk, jadi tungguin saja bentar."
Sial, pikirku. Dasar orang tidak bermoral, menyiksa orang yang sedang di jalan menuju kenikmatan. Apalagi dari tadi aku lihat si Mbak itu lagi ngelihatin ehm, itu-ku yang lagi tegang. Terpaksa aku balik badan menghadap ke pintu kamar mandi karena malu, walaupun tambah tegang lagi gara-gara dilihatin. Aku menunggu dengan resah dan wajah yang kesal penuh dengan keringat, dan nafasku yang nggak beraturan, di depan dia lagi.
"Emangnya mau ngapain sih Mas, kok buru-buru amat, kelihatannya nggak sabaran gitu?" tanya si Mbak itu.
"Eh, nggak kok, cuma mau kencing saja, sudah nggak tahan nih."
"Masa' nahan kencing saja sampai keringetan, nafas kamu juga ngos-ngosan gitu, jangan-jangan kamu mau..? Sudah nggak tahan ya? Perlu dibantuin nggak?" godanya.
Dia ngomong gitu aku jadi malu, nunduk, dan anu-ku kok anehnya nggak turun-turun, tetap tegang.
"Uh, dasar Mbak ini jorok, dibilangin aku sudah kebelet kencing kok."
"Kebelet kencing apa kencing? Ntar yang keluar bukannya kuning malah putih lagi."
"Putih? Emang apaan Mbak? O ya, di dalem ada sabunnya nggak? Sekalian nyabun, ngebersihin maksudnya."
"O tentu ada dong, kan kami juga ikut membantu bagi orang-orang yang kepengen nyabun, kaya kamu gitu."
"Yee.. Mbak nih. O ya, tawaran bantuannya tadi jadi nggak, he.. he.."
"Kamu ini kok denger aja sih pertanyaan basa basi gitu? Tapi nanti siapa yang jaga dong?"
"Nggak kok Mbak, cukup dengan ngelihat Mbak saja itu sudah membantu kok."
Akhirnya orang yang di kamar mandi tadi keluar dengan tampang yang penuh kenikmatan, aku dan si Mbak berpandangan sambil sedikit tersenyum ngelihat si orang tadi.
"Sudah ah Mbak, sudah nggak tahan nih, aku masuk dulu ya."
"Iya iya, masuk sana, keburu lemes duluan ntar. Semoga sukses ya!" godanya sambil memberi semangat.
Kututup pintu kamar mandi, dan aku mulai melepaskan celana pendek dan celana dalamku yang menahan 'adik'ku ini untuk maksimal. Aku membersihkan tanganku dulu, lalu mulai mengelus-elus kepala 'adik'ku. Kuelus ujungnya, karena tidak disunat jadi ujungnya masih ada sedikit kulit yang menutupi lubang 'anu'ku. Sambil membayangkan hal-hal yang porno, termasuk jika aku sedang bercinta dengan Mbak tadi, kujepit ujung kemaluanku dengan dua jari kananku, lalu kugosok-gosok dengan jempol kananku. Rasanya geli (coba aja), lalu aku mulai mengambil sabun, mengusapnya di tangan dan batangku. Aku pegang batangku, aku kocok-kocok, makin lama makin cepat dan akhirnya keluarlah segala masalahku. Mungkin karena terlalu nikmat sehingga tanpa sadar aku sedikit melenguh, aku lupa kalau itu sedang di kamar mandi warnet. Tapi ya sudahlah, paling-paling nggak ada yang denger. Habis itu aku cuci dengan bersih batangku dan tanganku, kupakai lagi CD dan celanaku, lalu aku keluar untuk kembali ke KBU ku.
"Sudah puas keluarnya?" tanya si Mbak tadi, yang sedikit mengagetkanku.
"Keluar apaan? Lagian, kok Mbak tahu?"
"Abisnya tadi aku denger suara kamu, aku pikir kenapa, tapi ah paling-paling juga gitu. Berarti nggak perlu bantuan Mbak dong?"
Mendengar godaannya itu aku menjadi tegang lagi, kebetulan 'burungku' kuhadapkan ke atas, jadi kalau tegang kelihatan ada yang menonjol di bagian depan celanaku.
"Tuh kan, Mbak godain sih, jadi tegang lagi nih. Hayo, Mbak harus tanggung jawab!" candaku sambil mengharap kali aja dia benar-benar mau, kan rejeki.
"Ya sudah Mbak tanggung jawab, tapi gimana?"
"Nggak kok Mbak, cuma becanda. Aku balik ke KBU ku dulu ya Mbak."
Aku balik dan duduk kembali di depan komputerku, dan mulai membuka situs-situs hot lagi. Rencana sih mau aku bawa ke pulang buat nanti, gara-gara si Mbak itu jadinya aku tegang lagi, dan tanggung kalau nggak dikeluarin sekalian.
Tak disangka tak dinyana, beberapa saat setelah aku duduk si Mbak tadi datang dan duduk di sampingku. Kaget, itulah yang terlintas pertama kali di pikiranku. Aku dengan terburu-buru menutup situs-situs dan mirc ku yang semuanya berisi sesuatu yang hot-hot karena malu.
"M.. M.. Mbak ada ap.. ap.. apa kesini?" tanyaku sambil terbata-bata.
"Iiihh, kamu nakal ya, suka buka-buka situs gituan. Ntar Mbak sentil lho!"
"Jangan ah, ntar Mbak nyentilnya milih lagi. Yah, itu kan kegiatan seorang cowok normal, lagian daripada buka-buka yang lain mending buka situs aja."
"Terserahlah, Mbak ke sini kan mau mempertanggungjawabkan godaan Mbak tadi. Gimana, jadi nggak?"
Wah, pucuk dicinta ulampun tiba nih. Rejeki nomplok datang dengan sendirinya. Lagian kebetulan keadaan warnet juga lagi sepi, makanya dia berani datengin aku.
"Wah, siapa sih yang bisa nolak Mbak. Hehe, ngerayu dikit nggak papa kan Mbak?"
"Tapi buruan ya, soalnya aku takut kalau ada orang lewat atau nyari Mbak kan nggak enak. Tapi gimana caranya? Yang cepet, dalam hal proses dan kalau ada hal yang nggak diharapkan."
"Umm.. Gimana kalau Mbak kocok saja pake tangan? Kalau mau cepet ya dari luar aja."
"Iya deh, sini."
Pertama dia menyentuh kemaluanku, rasanya enak banget, soalnya baru ini aku dipegang oleh orang lain, sama cewek lagi. Sambil dia megang 'burung'ku aku sambil baca cerita-cerita hot di sumbercerita.com.
"Mbak penasaran nih ingin lihat punya kamu, keluarin aja ya?"
"Tapi kalau ada orang gimana? Ntar bisa jadi gosip dong?"
"Nggak papa, Mbak sambil ngawasin sekitar juga. Keluarin ya?"
"Terserah Mbak deh."
Perlahan dia membuka retsletingku lalu kancing celanaku. Lalu dielusnya burungku sebentar dari luar CD ku, walaupun dari luar tapi rasanya merasuk ke dalam. Dia mulai membuka belahan CD ku (biasanya merk CD GT-Man ada belahannya di bagian depan, tul nggak para cowok?), terlihatlah 'kepala' nya. Dengan lembut dia mengeluarkan 'milik'ku dari sarangnya, seperti bayi yang dilahirkan, keluar kepalanya dulu baru badannya. Ukuran 'burung'ku memang tidak terlalu panjang, sekitar 14 cm dan cukup untuk digenggam oleh tangannya.
Dia mulai memegang 'batang'ku dengan lembut, menggerakkan tangannya naik turun. Sambil melihat ekspresi wajahku yang sedang keenakan sambil membaca cerita-cerita panas di layar monitor. Dia meludahi tangannya lalu dioleskannya ke 'batang'ku, agar tidak lecet katanya. Gerakannya mulai dipercepat, tiba-tiba dia berhenti. Aku bertanya dalam hati, tentu saja itu mengecewakan. Dia mulai meludahi tangannya lagi, lalu menjepit ujung kemaluanku dengan dua jarinya, dan mengelus lembut ujung 'burung'ku, seperti yang biasa kulakukan. Tentu saja itu membuat aku keenakan, dan sedikit mendesah membuatnya makin bersemangat.
"Oo.. Ternyata di situ ya titik rangsangmu?"
"Iya Mbak, kok Mbak tahu? Sama di ujung bagian bawah juga Mbak."
"Iya dong, habisnya suami Mbak kalau Mbak oral paling geli di situ juga."
"Wah, jadi kepengen juga nih di oral sama Mbak, Mbak mau nggak?"
"Jangan dulu, kita kan baru sekali ini. Kapan-kapan saja ya. Gini juga kamu nanti sudah sangat pas kok, jaminan mutu!"
"Iya deh Mbak, jadi nggak sabar nih. Tapi gini juga sudah enak kok Mbakkhh.."
"Hihi.., kena kau!"
Dia sengaja membuatku keenakan dengan sentuhannya tadi. Semakin lama dia menyentuh dan mengocok 'burung'ku, semakin ingin aku untuk 'keluar', tapi aku tahan biar nggak malu-maluin, masa' cepet amat.
"Mm.. Mbak, aku boleh megang punya Mbak nggak?"
"Nggak, jangan dulu."
"Yah, padahal aku kepengen Mbak, daripada cuma bisa bayangin aja."
Sebentar dia berpikir, tapi masih tetap mengocok 'burung'ku.
"Iya deh boleh, tapi cuma payudara Mbak, dan dari luar aja. Takutnya kalau dari dalem terus ada orang dateng gimana?"
"Horee.. Dari luar aja sudah seneng kok Mbak."
"Tapi pelan-pelan ya, jangan kasar-kasar."
Mulai kupegang buah dadanya yang menggantung indah itu dari luar, sedikit kuremas agar dia kerasa. Kuelus-elus dengan jariku payudara bagian atasnya yang tidak tertutup oleh BH nya. Dia sedikit merem, keenakan kali, dan dia semakin meremas 'burung'ku yang sedang ada di genggamannya. Kuremas lagi 'susu'nya, kuputar-putar tanganku yang menyebabkan buah dadanya ikut bergerak seiring dengan putaran tanganku.
Wow! Ternyata buah dada perempuan itu empuk dan kenyal ya, baru kali ini aku bisa megang payudara yang selama ini cuma bisa aku bayangkan. Semakin kupegang semakin ingin juga aku untuk 'keluar'. Gerakan tangan si Mbak juga semakin intens, dan sepertinya aku sudah nggak tahan lagi untuk 'keluar'.
"Mmbakkhh.. Aku.. Udakhh.. Mau.. Kke.. Eeluarrkh.." erangku yang semakin tinggi menuju ke puncak klimaks.
"Ayo keluarin yang banyak, biar Mbak nggak rugi capek-capek bantuin."
"Mmmhh.. Mbakkh.. Aku.. Aku.. Keluarr.."
Crot.. Crott.. Crott.. Dengan sigap si Mbak menampung semua maniku ke tissue yang sudah disiapkannya. Aku mengeluarkan segala mani yang ada di dalam kantung zakarku, dan remasanku pada payudara Mbak itu semakin keras, mataku merem melek merasakan kenikmatan yang amat sangat yang baru aku rasakan kali ini. Semua mani yang keluar tadi sampai nggak cukup ditampung oleh tissue sehingga tangan si Mbak itu juga terpaksa ikut menadahinya. Aku duduk dengan lemas di depan komputer, sambil berpikir, apakah ini benar-benar terjadi?
"Wah, kok banyak banget ya, lebih dari yang Mbak kira. tahu gini Mbak tadi bawa tissue banyak, jadi kotor deh tangan Mbak. Mbak ke kamar mandi dulu ya."
Aku hanya bisa mengangguk dengan lemas, karena semua tenagaku sudah habis untuk mengeluarkan maniku di ronde yang kedua tadi. Setelah memulihkan tenaga sebentar, aku Log Out dari komputerku, lalu ke operator unutk membayar. Kucari-cari si Mbak tadi, eh tahunya dia lagi di kamar mandi, sempat kudengar juga desahannya dari luar. Wah, si Mbak ini juga masturbasi ternyata. Sesaat kemudian dia keluar dan sedikit kaget karena aku sudah menunggunya di meja operator.
"Ehm, Mbak habis ngapain kok lama banget?" godaku sambil tersenyum nakal.
"Hihi, mau tahu aja deh kamu."
"Sudah lama, pake mendesah-desah lagi, wah pasti Mbak juga ya?"
"Ih, dasar tukang nguping, nakal kamu ya. Awas, tunggu hukuman buat kamu nanti!"
"Kalau hukumannya membuat nikmat sih nggak papa, hehe. Lain kali saja kalau aku ke sini lagi, ya. Mbak nggak keberatan kan?"
"Kalau sepi saja lho ya, entar hukumannya lebih dari tadi deh pokoknya."
Mendengar itu aku jadi tegang lagi, dasar nggak tahu tuannya sudah capek tetep tegang lagi. Lalu aku membayar dan berpamitan sama Mbak tadi, sambil meremas payudaranya sebentar.
"Iihh.. Nakal, sudah pulang tidur sana! Jangan mikir yang macem-macem, entar mimpi basah lho!"
"Makasih ya Mbak, kapan-kapan kalau lagi ingin aku ke sini lagi ya?"
"Iya iya, sudah pulang sana."
Lalu aku pulang dan hanya tersenyum saja di perjalanan. Kulihat HP ku, ternyata sudah jam 3 pagi. Sampai di kamar aku langsung menjatuhkan diri di kasur dan tidur, sambil tetap tersenyum mengenang kejadian tadi.
*****
Mohon maaf lagi kalau aku nggak bisa membuat cerita yang menarik untuk para pembaca, seperti yang aku bilang tadi, ini pertama kalinya aku menulis cerita. Mungkin nanti kalau aku jadi meneruskan acara kami tadi di lain hari, aku akan menceritakannya lagi. Mohon saran dan kritik para pembaca supaya ceritaku bisa lebih menarik lagi.
Hanya Sebatas Petting
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada sumbercerita.com, dengan dimuatnya beberapa cerita saya, pelan tapi pasti saya menerima banyak e-mail dari wanita baik yang hanya ingin berkenalan, kirim cerita yang lain sampai minta dilayani. Dan tidak sedikit dari mereka tercapai keinginannya. Tetapi beberapa yang lain justru tidak dapat dilacak keberadaannya karena e-mail yang diberikan eror, padahal diantara mereka ada yang ingin sekali berkenalan dan berlanjut ke permainan ranjang, berhubung e-mail yang mereka berikan salah hingga kini kehilangan kontak. Semoga saat ini mereka membaca, seperti Mbak Heny 36 tahun, Cornelia di Bali, Yuni, Nela, tolong berikan e-mail yang bener dong.
Mungkin cerita ini jauh dari seks yang menggairahkan, tetapi buatku ini adalah pengalaman yang baru. Tante Ana adalah seorang ibu rumah tangga berumur 35 tahun, untuk seusianya masih dapat dikatakan cantik walaupun tidak seksi. Kulitnya kuning langsat (rajin luluran katanya), ukuran fisik tinggi 165 cm, payudara 34 cup B, berat 58 kg, rambut hitam pendek, beranak dua, yang terbesar 8 tahun.
Saya mengenal Tante Ana dari e-mail yang dikirim setelah membaca kisahku di sumbercerita.com. Disitu ia ingin berkenalan, setelah saya beritahu no HP saya, maka diaturlah pertemuan yang singkat di hari Kamis. Sengaja saya mengambil hari kerja, supaya tidak mengganggu rumah tangga Tante Ana.
Kami bertemu di restoran yang terkenal dengan menu steak-nya, dari pertemuan tersebut sepertinya Tante Ana kaget juga, dengan terus terang dia berkata bahwa tampangku sangat tidak meyakinkan dan jauh dari tampan. Body-ku pun juga tidak seatletis yang dibayangkannya. Tapi aku senang dengan keterbukaannya. Dan memang bukan di"sana"lah kelebihanku. Akhirnya suasana mencair seiring waktu.
Kami ngobrol panjang lebar dan ditutup dengan sebuah pujian yang kupikir jujur keluar dari mulutnya.
"OK Sakti, Tante sekarang tahu kenapa banyak cewek yang mau sama kamu, cara kamu memperlakukan wanita sangat gentle, cara kamu berbicara supel dan mudah bergaul, dan yang terpenting kamu punya brain, sehingga wawasan kamu luas. Aku suka gaya kamu bersikap dan berbicara walaupun awalnya sulit. Maklumlah namanya juga baru kenal. Oh ya, ini no HP Tante.."
Akhirnya dia mengerti juga dimana kelebihanku. Ini juga diakui wanita-wanita yang pernah bercinta denganku.
Selang seminggu tepatnya hari Selasa, kutelepon Tante Ana.
"Siang Tante, sedang apa nih, sibuk ya?" sapaku basa basi.
"Ah nggak kok Sakti, eh di mana kamu sekarang?"
"Di kantor, Tante"
"Kok Tante nggak pernah kirim e-mail lagi sih, atau sudah lupa ya?"
"Oh ya sorry, Tante nggak sempet ke warnet, sibuk ngurus Tomy kenaikan kelas nih, besok deh Tante buka e-mail, emang Sakti kirim e-mail ya, apa sih isinya, sekalian aja ngomong sekarang?"
"Ah nggak kok, cuma kangen aja, boleh kan?" ceplas-ceplos kuucapkan, terkesan kurang ajar memang, tapi buat apa ditutupi.
"Kangen apa kangen.." Tante Ana mulai nakal menggodaku.
"Kalau kangen kok beraninya cuma telepon."
"Abis Tante juga sih yang nggak mulai, kalau ditawarin yang lain masak iya Sakti nolak, gimana?"
"Emang lagi kosong ya, ha.. ha.." Tante Ana menggoda.
"Gini aja deh.. sorry Tante belum terpikir ke "arah" sana untuk saat ini, tapi jujur saja Tante termasuk orang yang open mind dan bukan sesuatu yang tidak mungkin untuh hal itu.. Sakti tahu maksud Tante kan? Dengan berani ketemu Sakti saja itu sudah kemajuan buat Tante, dan butuh keberanian lho, artinya kemungkinan ke "arah" itu masih terbuka kok.. kita tunggu saja kapan Tante siap, OK."
Tiba-tiba pada hari Kamis Tante Ana bell ke HP-ku, "Sakti, sedang ngapain? Bisa ketemu nggak hari ini? Tante ada yang mau dibicarakan nih."
"Saya selalu ada waktu untuk Tante." gombalku, "Kapan, dimana, Tante yang tentuin deh."
"Di restoran kita dulu, jam dua sore ini bagaimana.." balas Tante Ana.
Beberapa jam kemudian..
"Maaf aku terlambat Tante, habis nggak punya mobil sih, jadi pakai angkutan umum, ini aja bajuku sampai basah oleh keringat, bagaimana Tante, tumben kok buru-buru ingin ketemu?"
"Begini Sakti, sekali lagi aduh.. Tante malu mau ngomongnya, sebenarnya sampai saat ini Tante belum siap untuk selingkuh, tapi memang libido Tante sebenarnya berlebih, cuma takut untuk mencoba dengan orang lain."
"Suami Tante bagaimana?"
"Sebenarnya nggak masalah dengan seks suami, kita selalu enjoy saja, dan orgasme setiap main dengan suami, demikian juga suami.. Cuma ya itu tadi.. mungkin ini gila, karena dorongan seks Tante yang besar.. seperti ada perasaan yang luar biasa untuk mencoba dengan orang lain, karena Tante nggak tahu harus bagaimana, jadi selama ini ya hanya baca-baca cerita porno saja sampai ketemu kamu, begini saja.. untuk permulaan karena Tante takut sekali, kita cukup petting saja bagaimana? sorry lho aku sudah nggak tahan nih untuk mencoba.. gila ya.. ha.ha?"
"OK," jawabku singkat, tetapi aku masih tidak mengerti maksudnya. Pokoknya tempat dan waktu sudah diatur, hari Rabu jam 4 sore kami janjian di sebuah hotel, setelah ketemu Tante Ana sudah menyiapkan laptop dan beberapa keping VCD porno.
Pertama Tante Ana minta ijin untuk membersihkan badan dulu, sementara aku menikmati tayangan VCD porno tersebut, beberapa diantaranya aku sudah hapal ceritanya karena pernah kutonton, apalagi bintangnya pasaran.
Tiba-tiba Tante Ana keluar hanya dengan handuk dibelit saja.
"Lho kok belum dibuka bajunya, Sakti?"
"Ah Tante saja dong yang bukain." Aku coba memulai merangsang daya keinginannya.
Pelan-pelan Tante Ana meraih kepalaku dan mula-mula sambil memejamkan mata dia bilang, "Sakti coba kiss Tante dong."
Dan pelan-pelan kubelai rambutnya sambil mengarahkan bibirnya ke bibirku, terasa hangat saat bibir kami bersentuhan. Inisiatif datang dari Tante Ana, dia coba memainkan lidahnya di rongga mulutku, aku juga mencoba mengimbangi. Sambil tannganku melepas handuk yang melilitnya. Tante Ana sekarang sudah dalam kondisi polos, rambut kemaluannya tipis, menandakan rajin dicukur, bibir vaginanya rapat dan kecil.
Kami berciuman cukup lama, kadang-kadang saling menggigit ringan, aku dan Tante berlomba untuk saling memainkan lidah kami. Dalam hal berciuman, Tante Ana cukup hot juga, dan aku kadang-kadang kehabisan napas karena tidak dibiarkan melepaskan lidahnya. Hangat dan sensual.
Aku merengkuh payudaranya sebelah kiri, dan terasa sudah mengeras. Aku baru sadar kalau puting Tante Ana sangat seksi, bahkan terseksi yang pernah kulihat. Aku sempat heran, untuk seusia Tante, puting payudaranya masih kencang dan berwarna merah, tidak hitam atau coklat tua. Betul, Tante Ana mengakui kalau dia jarang bermain di sekitar puting. Dan dia ingin sekali dimainkan dengan mulutku. Tapi ciuman kami belum berakhir, maka tanganku dengan aktif meraba dan membelai puting Tante Ana, refleks Tante Ana mulai mendesah, "Aaakkhh.. terus Sayang.. ucchh, nikmat Sayang, uh.. uh.. uh.." nafasnya tersengal-sengal.
Bibirku terlepas dari bibir Tante Ana, tampak sekali bibirnya basah dan memerah, ciumanku berlanjut ke lehernya.. lembut sekali, terdengar desahan yang tertahan tanda nafsunya mulai tidak dapat dikendalikan. Sementara aku baru mulai pemanasan.
Tante Ana mulai berani dan nakal dengan melepas pakaianku satu persatu hingga polos, "burung"ku sudah tegang karena bersentuhan dengan bulu-bulu di bibir vaginanya. Tangan Tante Ana meraih batang kemaluanku. Tangannya yang mungil terasa penuh menggenggam batang kemaluanku. Padahal ukuran burungku biasa saja. Tetapi cukup buat Tante Ana.
Jemarinya mengelus kepala penisku yang besar dan mulus. Memang kepala penisku berdiameter besar. Ternyata Tante Ana sudah pandai memainkan kemaluanku. Dengan gerakan yang teratur, ia dengan bersemangat mengocok batang kemaluanku.
Sementara itu ciumanku sudah mendarat di puncak payudaranya. Nikmat sekali.. payudaranya sudah mengeras dengan puting yang juga mengeras dan merekah. Pertama kugigit kecil putingnya sebelah kanan. Sementara puting sebelah kiri kupilin-pilin dengan jariku.
Tante Ana bergetar dan bibir vaginanya sudah mulai basah. Aku meneruskan dengan mulai menghisap keras payudaranya dan Tante Ana menjerit, "Sayang.. aku mau klimaks niihh.. oohh.. aku nggak kuat Sayang.. oohh.. akuu kliimmaaks Sayaagg ukkhh.."
Aku tidak berhenti, penisku yang sudah tegak kuarahkan ke bibir vaginanya yang sudah basah, tetapi sejenak Tante Ana berhenti dan memohon untuk tidak dimasukkan. Maka perlahan kubimbing Tante Ana ke ranjang dan kuarahkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana.
Kugesek-gesekkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana, terasa licin, dan kupercepat gesekan kemaluanku, kadang-kadang kutekan supaya menyentuh klitorisnya. "Ukkhh.. terus Sayang.. terus sayang.. ookkhh.. aauucchh.. aku mau dapat lagi nih, aduh sayang please jangan dimasukin ya.." Aku mencoba menghormatinya, maka secara perlahan gesekan kemaluanku, tetapi menambah tekanan ke bibir vaginanya, pantatnya kuganjal dengan bantal supaya agak terbuka dan memudahkan gerakanku.
Sebenarnya aku cukup terganggu dengan suasana ini, tapi aku mencoba untuk tidak melanggar. Maka dengan gerakan yang pelan dan keras gesekan antara kemaluanku dan bibir vaginanya akhirnya membangkitkan nafsuku, memuncak dan menuju ke klimaks.
Aku menyuruh Tante Ana di atas, dengan begitu ia bisa dengan mudah mengatur seberapa penetrasi yang dibutuhkan untuk memuaskannya. Tante Ana dengan gerakan yang sudah tidak teratur menggesek-gesekkan bibir vaginanya yang sudah basah dan licin dengan cepat. Dan untuk yang ketiga kalinya Tante Ana berteriak tanda orgasme, sedang aku terus mengatur napas untuk memacu pikiran supaya permainan ini segera tuntas.
Tiba-tiba Tante Ana berhenti dan membalikkan arah. Posisi 69 yang diharapkan, tentu saja aku harus menerimanya. Bau anyir vaginanya yang sudah basah sesaat membuatku terhenti, tetapi penisku yang dilumatnya masuk semua ke rongga mulut membuatku berani menjilat bibir vaginanya. Aku menyedot sisa cairan vagina yang ada dan kuusap dengan lidahku menelusuri setiap dinding vagina serta memainkan dengan ujung lidah di sekitar klitorisnya.
Sementara itu penisku terus dikulum seperti sedang menikmati ice cream. Aku sempat heran dengan hisapannya yang kuat, penisku siap meledak memuncratkan air mani, sementara desahan Tante Ana menambah nafsuku, sementara klitorisnya hangat dan basah terus kuusap dengan lidah. Gerakan mulut Tante Ana semakin tidak karuan, dan jilatan lidahku semakin penuh ke seluruh bagian bibir luar dan dalam vaginanya.
Tiba-tiba tante Ana berkata lirih, "Sayang keluarin di mulut Tante ya, semuanya ya Sayang.."Dengan mantap dan nafsu yang sudah tidak tertahan kugesek kencang penisku di mulut Tante Ana, sepertinya Tante Ana mengerti, dan lidahnya membantu mengusap penisku menambah semangat.
Saat yang ditunggu tiba, air maniku tumpah di rongga mulut Tante Ana, dan dengan sigap disedotnya air maniku, ditelan lalu sisa-sisanya tidak dibiarkan keluar dari mulut dan batang kemaluanku. Seluruhnya dibersihkan dengan lidahnya dan ditelan seperti menelan ice cream. Sebuah pemandangan yang sensual. Dan aku berhenti memainkan lidahku di klitorisnya, karena aku pun harus mendesah menahan klimaks.
Sejak permainan itu, kami rutin melakukan petting, karena Tante Ana masih takut untuk lebih dari itu. Sampai saat ini Tante Ana masih rajin berkirim e-mail, dan biasanya isinya jorok-jorok yang mengundang kami untuk janjian di sebuah hotel atau kadang-kadang kami main di mobil Tante Ana.
Kadang untuk mengobati rasa penasaranku, Tante Ana menyewa gadis panggilan yang seksi dan cantik untuk meneruskan keinginanku. Tetapi Tante Ana tidak ikut dan tidak berada dalam satu ruangan. Sehingga sehabis petting dengan Tante Ana, aku melanjutkan dengan bercinta dengan cewek yang disewa Tante Ana.
Demikianlah petualanganku yang menarik, hingga saat ini aku belum merasakan nikmatnya memasukkan penisku ke lubang vagina Tante Ana. Demikian juga Tante Ana belum merasakan nikmatnya permainan penisku di lubang vaginanya.
Pembaca tentu penasaran? Sama, sampai saat ini pun aku masih penasaran dengan Tante Ana, sementara itu, aku sudah berpetualang dengan wanita-wanita yang mengirimkan e-mailnya, Tante Ana masih tetap seperti yang dulu.
Cerita ini kupersembahkan buat Tante Heny, Cornelia, Yuni, dan semua yang ingin berkenalan dengan mengirimkan e-mailnya. Buat Tante Ana, kalau membaca kisah ini semoga suatu saat berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk memasukkan penisku ke vagina Tante Ana.
Memperdaya Artis Pujaan
Jay berjalan menyusuri lorong lokasi syuting. Ia adalah salah satu figuran dalam sinetron ini, yang berkisah tentang dunia kampus. Ketika ia melintasi sebuah ruangan berwarna kuning yang menarik perhatiannya, ia melongok ke dalam dan melihat ada kursi sofa kulit warna hitam dan meja kecil dengan kotak donat diatasnya. Disebelah kanan sofa tersebut terdapat lemari pakaian, dan disebelah kiri ada cermin panjang.
"Ooo..donat..!!" kata Jay dalam hati. Diambilnya beberapa buah, lalu disambarnya sebuah majalah dan iapun membaringkan diri di sofa tersebut. Tak beberapa lama iapun mengantuk dan tertidur di sofa tersebut.
Feby Febiola bergegas masuk ke dalam ruangan ganti pribadi yang disediakan untuknya dan suaminya, Bruce, yang berkebangsaan Perancis. Karena sibuknya shooting sinetron, Feby dan suaminya jarang mempunyai waktu luang untuk mereka, sehingga Bruce sering datang ke lokasi shooting agar bisa mendapatkan waktu untuk bercinta dengan Feby Febiola, istrinya yang cantik. Bagi Feby, Bruce adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah menikmati kemulusan tubuh Bintang Lux tersebut. Bruce sangat pandai dalam bercinta, dan hampir tiap kali membuat Feby merasakan nikmatnya sex. Bruce piawai menggunakan lidahnya, menyapu bibir vagina dan klitoris Feby, membuat istrinya itu menggelinjang dan merintih-rintih kenikmatan. Walaupun demikian, Feby tidak pernah mau mengulum penis Bruce, apalagi melakukan anal sex seperti yang sering diminta oleh pria Perancis itu.
Feby adalah tokoh utama dari sinetron ini, dimana ia memerankan seorang mahasiswi kembang kampus yang juga seorang cheerleader. Pada pengambilan gambar sebelumnya, ia menggunakan rok cheerleader yang tingginya 4 cm diatas lutut, sehingga mempertontonkan kemulusan pahanya, serta t-shirt putih ketat yang tak mampu menyembunyikan keindahan buah dadanya. Feby melihat bahwa "Bruce" (atau orang yang disangkanya sebagai Bruce) sedang tertidur lelap diatas sofa. "Kasihan..dia pasti lelah menunggu syuting. Aku harus memberikan alasan yang bagus agar dia terbangun. " pikir Feby. Feby pun kemudian membuka lemari pakaian untuk berganti.
Tepat pada saat itu, Jay terbangun, dan melihat bahwa ada orang sedang berganti pakaian. "Waduh..gawat!! " pikirnya. Ia kemudian melihat bahwa pintu kamar mandi terbuka, dan cepat-cepat ia masuk bersembunyi di dalamnya. Dari kamar mandi Jay kemudian mengintip keluar, dan ia tidak bisa mempercayai matanya.
Feby Febiola!! Bintang sinetron yang sering menghiasi mimpi-mimpi seksual Jay, kini sedang melepas pakaiannya satu persatu di hadapan mata pria itu. T-shirt ketat Feby Febiola sudah ditanggalkan, dan sekarang bintang cantik itu melepaskan BH-nya. Feby lalu mengagumi buah dadanya sendiri di kaca, buah dada yang bulat dan penuh, dengan puting yang kemerahan. Feby tahu bahwa Bruce-pun menyukai payudaranya, asal ia tidak terlalu keras meremas-remasnya, Feby senang dengan perlakuan Bruce pada buah dadanya itu. Sementara itu di kamar mandi, Jay tak henti-hentinya mengocoki kemaluannya melihat adegan telanjang Feby Febiola.
Lalu Feby mengenakan t-shirt tanpa bra, dan kembali ke dalam ruangan untuk menemui "Bruce". Tetapi didapatinya sofa tersebut kosong. "Kemana dia?" tanya Feby dalam hati. "Padahal aku ingin memberikan pelayanan untuknya"
Jay yang ada di kamar mandi sudah tidak kuat lagi menahan nafsunya. "Aku harus bisa meniduri Feby Febiola" katanya. Pelan-pelan ia keluar, dan mendekati Feby Febiola dari belakang. "Sekarang atau tidak sama sekali" tekad Jay. Ia memeluk Feby dari belakang dan mencium lehernya yang jenjang nan mulus.
"Oh..dari mana saja kamu..? Tanya Feby sambil kegelian ketika lidah Jay menyapu leher hingga belakang telinganya. Tangan Jay telah berada pada payudara bulat dan montok milik Feby. Ia seakan bermimpi ketika meremasi buah dada bintang pujaannya itu. Keindahan buah dada Feby Febiola mungkin hanya kalah dari Tamara Blezinski.
"Ooohh..Bruce.." Feby mendesah merasakan nikmatnya payudaranya diremas-remas oleh Jay. "Ayo sayang..aku sudah kepingin.." pinta Feby. Jay kemudian mendorong tubuh Feby hingga Feby berlutut di sofa, dan menarik turun celana dalamnya. Pantat Feby yang bulat indah itupun tampak di hadapan mata Jay, menyebabkan kemaluan Jay yang sudah tegang seakan mau meledak. Tanpa berlama-lama Jay membuka celananya sendiri dan segera menaruh kemaluannya di depan liang vagina Feby.
"Ooohh.." Desah Feby dan Jay bersamaan ketika penis Jay menembus liang vagina Feby Febiola. Jay dengan cepat menggenjot Feby doggie style. Liang vagina Feby masih rapat walaupun sudah setahun lebih menikah. Karena nafsunya sudah di puncak, Jay mulai merasakan penisnya berdenyut-denyut, siap menumpahkan air maninya dalam lubang kemaluan Feby. Dipercepatnya kocokan dalam kemaluan artis cantik itu, dan dalam sekejap Jay pun menumpahkan spermanya dalam kemaluan Feby Febiola. Tapi Jay terus memompa penisnya keluar masuk vagina Feby sehingga tak lama kemudian, Feby pun mencapai orgasme.
Feby terkapar lemas di sofa menikmati sisa-sisa orgasmenya setelah digarap Jay. Sperma Jay sebagian mengalir keluar dari vaginanya. Tapi Jay sepertinya belum puas karena penisnya kembali mengeras.
"Dia cantik sekali!!" seru Jay dalam hati. Iapun berkeinginan untuk merasakan jepitan payudara Feby yang montok itu. Matanya mencari-cari di sekeliling dan ia menemukan sehelai selendang yang kemudian diambilnya. "Ini harusnya cukup" pikirnya. Ia lalu menutup mata Feby Febiola dan membalikkan tubuh mulus artis pujannya itu. Jay kemudian meremas-remas payudara Feby dengan lembut. Kemudian ia menciumi bongkahan payudara yang montok itu. Feby menggelinjang-gelinjang kegelian: " Ooohh..Bruce.." rintih Feby manja.
Jay kemudian mengangkangi tubuh Feby dan meletakkan penisnya yang sudah tegang itu di belahan dada montok yang selalu dimimpikannya. Feby menekan kedua buah dadanya sehingga penis Jay terjepit erat ditengah. Jay tidak membuang waktu dan segera memaju mundurkan penisnya di tengah jepitan payudara Feby. Dalam sekejap penis Jay memuntahkan sperma yang mengalungi leher jenjang Feby. Dengan tiba-tiba Jay memasukkan penisnya kedalam mulut Feby tepat ketika penisnya menyemprotkan muntahan sperma kedua. Mau tak mau Feby Febiola menelan sperma Jay dan membuat bintang film cantik itu ingin muntah. Seumur hidup belum pernah ada kemaluan lelaki, bahkan suaminya sekalipun, yang masuk ke mulutnya. Kini ia harus menelan spermanya pula.
Feby cepat-cepat bankit berdiri berusaha memuntahkan sperma di mulutnya. Namun Jay menangkap tubuh mulus Feby dan melempar kemabli ke sofa. Jay kemudian menunggingkan Feby sehingga pantatnya yang padat itu terangkat ke atas. Ia kemudian menyibakkan belahan pantat Feby dan menaruh ujung penisnya di depan anus perawan Feby Febiola.
"Bruce!! Jangan!! Kamu kan tahu saya tidak mau..AAHH!!" Feby Febiola menjerit keras kesakitan ketika anusnya ditembus oleh penis Jay. Lubang pantatnya yang sempit dan masih perawan itu diperkosa dengan kasar oleh Jay.
"KELUARKAN BRUCE!! SAKIITT!! OOHH!! " Feby berteriak-teriak merasakan anusnya robek oleh kemaluan Jay. Wanita cantik itu menangis sambil meremasi sofa tempat ia digagahi melalui anus oleh "suaminya". Tak lama kemudian, Jay memuntahkan spermanya dalam lubang anus Feby.
"Ooohh..Bruce..kamu tega sekali.." tangis Feby kesakitan. Darah bercampur sperma mengalir keluar dari liang anus Feby yang baru saja diperawani Jay. Jay kemudian mengambil celana dalam Feby. Diusapnya darah dan sperma dari pantat bintang Lux yang cantik itu dengan celana dalamnya. Dan kemudian Jay pun keluar meninggalkan kamar Feby Febiola dengan senyum kepuasan.
Menikmati Tubuh Artis Seksi
Tamara Bleszynski dan suaminya, turun dari mobil di depan rumah mereka. Mereka baru saja berkunjung ke kerabat mereka di Bandung, dan pada pukul 11 malam ini baru bisa sampai di rumah. Pada saat mereka berdua turun dari mobil, tiba-tiba ada Panther hitam yang mendekati sambil menyalakan lampu mobil yang sangat terang. Karena silau dan kaget, Tamara tidak langsung sadar bahwa mobil tersebut telah ada di sampingnya. Segera saja pintu Panther itu terbuka dan tiga pasang tangan keluar dari dalam mobil. Yang pertama memegang tangan kiri, yang kedua menarik tangan kanannya, dan yang ketiga meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya masuk ke Panther. Setelah Tamara masuk ke dalam. Panther tersebut langsung tancap gas.
Di dalam mobil, Tamara melihat ada lima orang yang bertampang beringas yang pertama dipanggil Boss oleh yang lain, ada juga yang Botak, yang satu lagi bermuka Bopeng dan di sampingnya ada salah satu matanya ditutup kain hitam ala bajak laut. Sedangkan di depan ada lagi yang berambut Jabrik.
"Lepaskan! Apa-apaan ini?! Tolong!" teriak Tamara sambil meronta-ronta, sementara ada tangan-tangan penculiknya menggerayangi tubuhnya. Ada yang meremas pinggulnya, mengelus pahanya, dan yang membuat Tamara menjerit kesakitan adalah Boss dan Botak yang meremas payudaranya keras-keras.
"Aaah, jangan! Jangan! Lepaskan saya! Tolong!" erang Tamara sambil berontak tanpa hasil.
Para penculik tersebut membuat Tamara seperti boneka selama perjalanan ke markas penculik tersebut. Akhirnya Panther tersebut berhenti dan dengan dipegangi oleh 4 orang masing-masing di tangan dan kaki, Tamara yang sudah kelelahan meronta selama perjalanan digotong masuk ke sebuah ruangan. Dalam ruangan itu hanya ada satu ranjang dan lemari besi.
"Ikat dia!" Boss menyuruh 4 anak buahnya mengikat tangan dan kaki Tamara ke sudut-sudut ranjang, sehingga tubuh Tamara membentuk huruf X, kaki dan tangannya membuka lebar.
"Gimana sekarang Boss?" tanya Jabrik sambil menjilati bibirnya. Dia sudah sangat terangsang, batang kemaluannya sudah menegang dari tadi.
"Kita giliran! Pertama gue, trus selanjutnya loe gantian!" putus sang Boss, "Sekarang loe semua telanjangin aja dulu dia."
"Jangan! Jangan! Lepaskan!" Tamara mulai meronta-ronta lagi ketika Botak, Mata Satu, dan yang lainnya mendekatinya dan langsung merobek-robek bajunya sampai dia telanjang bulat. Tamara menangis sekeras-kerasnya sambil terus berusaha melepaskan diri.
"Wow, bodinya oke banget" seru Botak, "Gila, bunder ama sih loe. Gue taruhan pasti enak banget ngisep puting susu loe!" Setelah itu mereka semua langsung melepas pakaiannya masing-masing. Tamara menggigil ketakutan melihat ukuran kejantanan mereka yang luar biasa besarnya. Sementara anak buahnya menggerayangi tubuh Tamara dari pinggir ranjang, sang Boss langsung naik ke atas ranjang dan mengambil posisi di atas Tamara.
"Gimana? Loe udah siap kan Sayang? Tenang aja loe bakal ngerasain yang belon pernah loe rasain lewat suami loe!" kata si Boss sambil mengocok batang kemaluannya agar benar-benar tegang.
"Jangan! Lepaskan saya! Saya janji tidak lapor polisi!" mohon Tamara sambil menangis.
"Hush! Kita di sini mau senang-senang Sayang! Masa loe mau pergi dulu!" kata si Boss sambil mulai mengarahkan batang kejantanannya ke liang senggama Tamara.
"Jangan.. jangan.. saakkit, jaangaakkhh" Tamara berteriak-teriak ketika si Boss mulai mendorong masuk batang kejantanannya.
"Buset! Sempit amat memek loe.. Loe seminggu maen berapa kali sih ama suami loe?!" dengus si Boss sambil terus mendorong batang kejantanannya yang baru bisa masuk sampai kepala, sementara Tamara menjerit sejadi-jadinya, karena selain masih sempit, liang kewanitaannya juga kering sekali sehingga setiap si Boss mendorong batang kejantanannya sakitnya bukan main.
"Jangan! Ampun! Sakit sekali! Saya nggak kuat! Ampuungghh" Tamara kembali mendengus kesakitan ketika si Boss mulai mendorong-dorong batang kejantanannya lagi.
"Dorong sekalian aja Boss!" saran Bopeng sesaat waktu dia berhenti mengisap-isap puting susu Tamara.
"Oke Sayang! Loe siap ya! Gue mau dorong loe sekali lagi", si Boss bersiap sambil mengusap keringat di dadanya, Tamara merintih-rintih ketika sodokan si Boss berhenti sejenak. "Sakit sekkhh.. Aaarrgghh.. aakkhh.." si Boss mendorong keras-keras batang kejantanannya sambil memegangi pinggul Tamara. Hasilnya seluruh batang kejantanannya bisa masuk sambil diiringi jeritan Tamara yang melengking tinggi. Setelah itu mulailah si Boss bergerak maju mundur perlahan, setiap tarikan dan dorongan semuanya diiringi oleh erangan Tamara.
Akhirnya setelah 15 menit maju mundur, si Boss mulai bergerak makin cepat. Tamara yang sudah kelelahan mengerang dan lemas, mulai merasakan sakit yang menggigit liang kewanitaannya, sementara si Boss makin cepat maju mundur sampai seluruh ranjang berguncang-guncang.
"Sakitt! Aaah, ampuun! Ampuun.." Tamara tak berdaya, tubuhnya juga terbanting-banting di ranjang seirama dengan gerakan si Boss. Tubuh Tamara juga sekarang berkilau karena air liur yang dari lidah-lidah penculiknya yang menjilati tubuhnya dari paha sampai wajahnya. Sekarang si Mata Satu sedang mengigiti puting susunya sementara si Bopeng menjilati wajahnya. Si Jabrik meremas-remas susunya dan si Botak meraba sisa tubuh Tamara yang lain.
"Eeeggh, gue mau keluar Sayang, eegh.. eegh.. eegh.." dengus si Boss "Yaa.. ya.. gue keluarin Sayang, akk.. eaah.. eaahh.." tubuh si Boss mengejang sesaat sambil mendorong batang kejantanannya masuk ke liang kemaluan Tamara. Dari batang kejantanannya keluar sperma yang saking banyaknya sampai menetes keluar.
"Aaah! Gue puas bener nih! Gimana dengan loe Sayang?" perlahan si Boss menarik keluar batang kejantanannya yang lemas.
"Ampun, sakit sekali! Saya mohon, ampun.." erang Tamara lirih karena kesakitan dan kecapaian diperkosa si Boss selama 20 menit lebih.
"Oke sekarang giliran loe semua, jangan rebutan, dia udah jadi milik kita sekarang! Gue mau duduk dulu biar kontol gue bisa istirahat!" si Boss berkata sambil bersila di lantai, "Lo semua tunjukin gue kalo loe jantan oke?!"
"Beres Boss", seru mereka serempak.
"Sekarang gue duluan!" si Jabrik naik ke atas ranjang.
"Halo Tamara sayang! Kita mulai aja ya! Gue jamin punya gue lebih besar dari Boss!" Tamara kembali membelalakkan mata sambil berteriak.
Tak lama kemudian kontol besar milik si Jabrik sudah menyodok liang kewanitaan Tamara yang sudah tidak karuan bentuknya dan sodokan ganas ini membuat Tamara meneteskan air matanya. Berjam-jam lamanya Tamara mesti menerima siksaan dari laki-laki yang sudah lapar akan seks dan tubuh Tamara yang sangat seksi dan menggairahkan itu. Setelah mereka semua puas menyemprotkan cairan kenikmatan mereka ke dalam liang kemaluanTamara. Mereka menampar Tamara sehingga tamara menjadi pingsan dan ketika dia sadar, dia sudah berada di sebuah hutan yang dia sendiri tidak pernah mengenalnya sebelumnya.
Tak lama kemudian, Tamara melihat sebuah cahaya lampu senter di kejauhan dan dia berpikir bahwa sebentar lagi dia bisa melaporkan kejadian yang baru saja dia alami ke polisi. Tetapi sayang sekali karena dugaan dia salah sama sekali. Cahaya cahaya lampu itu berasal dari pemuda-pemuda desa dan ketika mereka melihat tubuh Tamara yang seksi dan panas itu, mereka tidak menolong Tamara tetapi mereka malah memperkosa Tamara. Sungguh pedih hati Tamara menerima kenyataan bahwa dia harus melayani 20 pemuda pemuda sekaligus. Ada beberapa pemuda yang menjilati payudaranya yang gempal, ada yang memasukkan kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Tamara yang penuh dengan sperma yang sudah tidak tahu lagi milik siapa sperma itu dan ada pula yang menancapkan batangannya ke dalam anus Tamara dan mulut Tamara yang indah sekarang mesti melayani batang kemaluan dari 3 pemuda dan dia mesti menjilatinya satu persatu sehingga tak lama kemudian wajah cantik Tamara sudah dihiasi oleh sperma pemuda-pemuda itu. Setelah mereka semua puas memuaskan nafsu bejat mereka, mereka meninggalkan Tamara seorang diri di hutan yang gelap itu.
Cerita Populer
-
Nama ku vivi (nama samaran), aq 23 tahun, chinese, 165 cm, 52 kg, perawakkanku langsing dengan kulit putih rambut pirang sebahu, aq terbilan...
-
Cerita Seks yang dilakukan istriku ini adalah cerita yang terjadi ketika terjadi pesta HUT RI di desaku. Aku tak menyangka istriku benar be...
-
Cerita Seks Aku seorang wanita berumur 30 tahun ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat...
-
Suatu hari adikku dan suaminya datang. Dia berbaik-baik mengharapkan aku menjaga rumah dan anak-anaknya. Mereka bekerja di perkebunan besar ...
-
Seks Bugil Waktu itu gue udah married & bekerja di suatu perusahaan swasta di Jkt, kemudian suatu hari ada cewe cantik & imut dari ...

